jace'sarchive

yang nulis tiga sekamar

Baruna Baswara Bayanaka


Choi san as Sankara Khalik Semesta You as Hestia Amara Sara Arunika


Baruna Baswara Bayanaka, dalam bahasa sansekerta artinya Samudera yang Kilaunya Luar Biasa. Pantai di Bali banyak rupanya. Ada yang tersembunyi di balik jurang, ada yang sulit dijangkau. Semua itu punya kilau tersendiri yang mampu menyedot atensimu. Sama sepertimu, wahai Hestia Amara Sara Arunika, kamu mampu menarik seluruh atensi ku dan membuatku ingin mendapatkanmu dengan segala kilau warna yang tersembunyi dalam dirimu.

— Sankara Khalik Semesta

Mengenalmu, layaknya mengarungi 7 samudra; Tak ada habisnya. Aku tak tahu berapa purnama lagi harus kuhabiskan untuk menguak segala misteri tentangmu. Bagaikan semesta yang menyimpan jutaan misteri, begitu pula dirimu, Sankara Khalik Semesta. Ku harap kisah kita ini akan penuh petualangan. Tak hanya mengarungi tujuh samudera tapi juga mengarungi semesta yang tiada batas.

— Hestia Amara Sara Arunika


Bali, 17 November 2021

Tak seorang pun tahu alasan Sankara Khalik Semesta hijrah ke Bali. Padahal, karirnya sebagai seorang pengajar di sebuah montessori di Jakarta sudah tergolong mapan dan berhasil. Benar kata pepatah, Pulau Dewata punya ribuan cara untuk menghipnotis dan menarikmu untuk tinggal dan menetap di sana. Hal itu berlaku untuk semua orang dan Sankara adalah salah satunya dari sekian banyak orang yang tersedot oleh daya tarik sang Dewata ini.

Sudah setahun terakhir ini ia habiskan di Pulau Dewata. Menjelajahi pantai demi pantai, hamparan laut yang membiaskan kilau matahari, menikmati indahnya semesta, seperti namanya, Sankara Khalik Semesta, yang artinya“keberuntungan dari sang pencipta semesta”, pemuda itu bersyukur bisa dimanjakan oleh sang pencipta semesta dengan gelimang keindahan Bali yang beragam.

Di sisi lain Pulau Dewata ada Hestia Amara Sara Arunika. Nama yang indah, cocok dengan parasnya yang Elok rupawan, surai panjang sebahu menjuntai. Ah… tak ada yang dapat menggambarkan kecantikannya secara runut. Yang jelas, nama itu cocok dengannya,“ kehangatan keluarga yang abadi dari sang puteri matahari pagi”. Cantik, bukan? Hestia, begitu ia kerap disapa teman sebayanya. Putri tunggal seorang pemilik usaha minyak atsiri ternama di daerah Buleleng, Bali.


Suasana Bali kala itu masih dipenuhi hiruk-pikuk penghujung Hari Raya Galungan. Pekan depan, penduduk setempat hendak menyambut Hari Raya Kuningan. Sankara menyusuri sepanjang jalan seminyak yang mulai ramai turis baik domestik maupun internasional. Janur Kuning khas perayaan Galungan masih menjuntai di sepanjang jalan yang ia lewati. Semerbak wangi Canang Sari pun masih mengikuti langkahnya.

Hari sabtu dan minggu kemarin, Pura di seluruh penjuru Bali-pun ramai dipenuhi umat Hindu sekitar yang beribadah dan merayakan Galungan dan Kuningan. Tak jarang pula terlihat beberapa pantai yang dikhususkan untuk ibadah didatangi penduduk lokal yang hendak berdoa pada Sang Hyang Widhi.

Sudah 2 tahun terakhir ini Sankara memilih untuk tinggal di kediaman keluarga ayahnya, di daerah Ubud. Selain mendiami rumah keluarganya dan merawat rumah itu, San juga meneruskan bisnis galeri lukisan milik mendiang ayahnya yang terletak tak begitu jauh dari tempat tinggalnya.

Bagi pemuda yang menulis inisial namanya sebagai “San” dalam semua lukisannya itu, Ubud adalah tempat yang tenang dan syahdu untuk mencari inspirasi dalam mengerjakan lukisan-lukisannya. Tapi, Ia pun menyukai sibuknya keramaian di daerah Kuta, Legian, Seminyak, dan sekitarnya. Tak jarang pula San menyelesaikan lukisannya di pantai-pantai sekitar sana.

Banyak yang memandang keputusan Sankara untuk melanjutkan galeri Almarhum Gede Satya Mahadewa itu sebagai suatu keputusan yang gegabah. Tak terkecuali Sang ibu, Putu Sarasvati Kurnia. Namun, kegigihan usaha Sankara dan dukungan besar dari sang kakak, Devika Chandrika Maharani, membuat pemuda pemilik lesung pipi itu yakin dan mantap menjalani seluruh naik-turun bisnis galeri lukisan ini.

Selain memamerkan, menjual dan melelang lukisan karyanya dan Kak Devi. kedua bersaudara itu mengelola galeri milik sang bapak dengan bantuan Wikolia Ksatria Julian, sahabat Sankara. Diluar kegiatan internal seperti itu, mereka juga menyewakan galeri ini untuk memfasilitasi seniman lokal dari seluruh penjuru Pulau Dewata memamerkan hasil karya seni mereka baik lukisan, ukiran, maupun seni tari dan pertunjukan.

Hari itu, wira yang akrab disapa dengan panggilan “San” itu duduk di salah satu cafè yang cukup terkenal di daerah Seminyak, ada meeting, katanya. Biasa lah, meeting dengan Wikolia, rekan kerja sekaligus sahabat dekatnya.

“Jadwalnya sih minggu depan Pak Made mau bikin pameran seni patung. terus seninnya ada pagelaran Ramayana di pelataran galeri,” Wikolia memeriksa planner biru tua nya.

“Pokoknya lo atur aja, Wik. Gue percaya sama lo,” San mengangguk sambil mengetik di laptopnya.

“Lu bikin apa lagi?” tanya Wikolia sambil mengintip layar datar yang menyala di hadapan sahabatnya itu.

“Biasa, art essay buat pameran lukisan gue sama Kak Devi, akhir bulan ini. berarti lo jangan atur ada yang sewa galeri pas akhir bulan ya, Wik,” San berujar tanpa mengalihkan matanya dari layar datar laptopnya.

“Kalau gitu mulai sekarang harus atur biaya retribusi masuk ke galeri untuk acara lo, San. Terus juga atur acara auction, lukisan lo dan Kak Devi harus dapet apresiasi lebih kata gue,” celoteh pemuda yang kerap disapa Wiko ini membuahkan kekehan gemas dari San yang masih repot dengan essay nya.

“Jangan lupa sebar undangan. Terutama buat keluarga Hanafi, yang di Buleleng. Mereka kayaknya rekan kerabat almarhum Bapak. jadi gue harus undang mereka juga,” San kini beralih membaca daftar undangan yang tertulis di dalam buku planner kulit vintage dengan ukiran timbul bertema pelaut dan gantungan emas berbentuk jangkar miliknya.

“Alah, bilang aja lo pengen ketemu anaknya Pak Hanafi. Siapa tuh, Hestia?” Sebenarnya ucapan Wiko barusan ada benarnya juga, tak sepenuhnya salah.

San pun tak memungkiri bahwa ia ingin bertemu dengan Hestia lagi. Sudah hampir dua tahun pasca kepergian Bapak dan sepanjang waktu itu lah ia tak pernah bertemu dengan Hestia lagi. Hestia dan ayahnya datang ke acara upacara Ngaben almarhum ayahnya San dua tahun yang lalu. Dan hanya hari itu sekalinya San bertemu dengan si cantik Hestia. Gadis yang penuh dengan sejuta kehangatan dan kecantikan yang tak lagi dapat digambarkannya dengan kata-kata.


Tekanan deadline semakin menekan pemuda tampan berambut kebiruan itu di minggu-minggu menjelang pameran dan pelelangan hasil karyanya dan sang kakak. San masih mendekam di ruang kerjanya malam itu. Padahal semua karyawan, tak terkecuali Wiko sudah meninggalkan ruangan itu sejak tadi.

“San, pulang deh. udah ditunggu sama ibu,” Devi masuk ke ruang kerja Sankara sambil membawa kue yang baru saja dibelinya dari salah satu toko croissant yang cukup terkenal di Bali.

“Entar, kak. Gue masih repot ngurus art essay buat pameran akhir bulan. Besok malam, tolong kurasi lukisan yang mau dipamerin sama dilelang juga, kak.” Sankara menggeleng. Tenaganya sudah terkuras untuk acara ini.

“Lo tuh bebal banget sih jadi orang,” Devi mulai kesal melihat adiknya yang keras kepala dan lebih memilih mengerjakan semuanya sendirian.

“Masalahnya tim kita udah nguras tenaga mereka buat acara-acara yang bakalan pake space di galeri kita sampe akhir bulan nanti. Gue ga mau repotin mereka lagi, Kak. Lo duluan aja kalo memang mau balik ke rumah. Gue entar kayaknya ke Alila aja, nginep di sana, lebih deket sama kantor,” Sankara membalas omongan kakaknya sambil merapikan barang-barangnya ke dalam tas kulitnya.

“Ketemu lah, sekali aja sama ibu. Apa lo masih segitu marahnya sama ibu?” tanya dara bersurai hitam legam yang masih setia berdiri di sampingnya.

“Kak, gue tuh ga dilihat sama ibu. sampai kapan pun, beliau ga akan ngelihat gue sebagai anak yang membanggakan,” Sankara menghela nafasnya. “Sejak gue mutusin buat ngurus galeri ini, ibu selalu membandingkan gue dengan anak-anak temen-temennya tanpa henti. gue ga suka dibandingin, kak.”

“San, temui ibu, lah. barang sekali aja. Lo juga anaknya ibu,” pinta Devi.

“Kak, maaf. gue nggak siap kalau ibu harus mengeluarkan jurus itu lagi. Gue balik ke hotel hari ini. mungkin dalam sebulan ke depan, gue akan stay di hotel,” San menggeleng mantap.

“Fine, terserah lo. Jangan lupa makan. Hasil kurasi lukisan bakal gue update di dropbox paling lambat tanggal 20, ya,” Devi keluar dari ruangan Sankara, menyerah mengajak adiknya pulang dan berbaikan dengan ibunya.

Thanks, Kak,” Sankara mengangguk pada kakaknya dan membukakan pintu untuk sang kakak.


17 November 2021,

Hasil kurasi Devi sudah diserahkan pada Sankara via surel. Devi dan Sankara masih ada dalam suasana saling mendiamkan satu sama lain. Sankara masih keras kepala dan enggan menemui ibunya sementara Devi merasa ia sudah cukup memberikan adiknya ruang selama 2 tahun belakangan untuk menata hatinya dan membuka hatinya untuk sang ibu. Niat Devi baik, sebenarnya. Namun, apa daya Sankara terlanjur sakit hati pada ibunya dan belum bisa memaafkan ibunya atas kata-kata yang sama sekali jauh dari dukungan dan restu pada sang ananda yang terlontar sepanjang 2 tahun belakangan ini.

Siang itu, Sankara memutuskan untuk menenangkan dirinya di hamparan pasir putih Pantai Nunggalan. Salah satu pantai kesukaannya. Pantai yang harus dicapainya dengan menuruni bukit terjal dengan trek yang cukup menantang. Namun, semua kesulitan untuk mencapai pantai itu terbayar ketika San menginjakkan kakinya di hamparan pasir putih yang menenggelamkan sepatunya. Indah, hanya itu kata yang muncul di dalam pikiran San ketika ia melihat hamparan pasir putih dihiasi sedikit bebatuan, laut biru yang masih bening dan berkilau, membiaskan sinar matahari yang menyorotnya dari atas langit.

San menghirup aroma laut dan menutup matanya, menikmati hembusan semilir angin yang menerpa wajahnya. Ia tak menyadari ada seseorang berdiri di sampingnya, menikmati setiap hembusan angin.

“Indah ya,” Suara perempuan di samping Sankara membangunkan pemuda itu dari kenikmatan suara ASMR hembusan angin dan debur ombak yang memanjakan telinga sang adam.

“Hmm, iya,” San memicingkan kedua matanya. Rasa-rasanya, ia mengenali sosok gadis di sebelahnya.

“Sankara?” Gadis itu mengenali sosok Sankara ketika kedua pasang manik mata mereka bertumbuk pandang.

“Loh, lo tau nama gue. But yes, I'm Sankara. Lo... Hestia?” tanya San, takut-takut ia salah mengenali wajah manis di hadapannya.

“Aku Hestia,” si surai keemasan itu tersenyum dan mengangguk. “Apa yang membawamu ke sini?” tanya Hestia sambil menatap San. Ia tahu ada badai di situ, di mata pemuda yang berdiri di sampingnya.

Sankara menggeleng. “It's not a big deal. Just mommy Issue,” tukas pemuda itu sambil tersenyum, sedikit dipaksakan. Siapa pun akan menyadari kalau senyum barusan terpaksa, meski wajah Sankara nampak manis sekali dengan cekungan yang terpatri di kedua pipinya.

“Aku nggak tahu masalahmu dengan ibumu. Tapi, tenangkan hatimu. Percaya lah, aku juga menghadapi hal yang sama. Semua pasti berlalu, Sankara,” Hestia menatap wajah Sankara yang nampak begitu indah ketika sinar matahari menyorot ke arahnya.

“Gue mau percaya hal itu. Tapi udah dua tahun, Hes. Dan Ibu masih begitu aja,” Sankara memandang lurus ke arah laut, berharap riak ombak dan semilir angin dapat menghapus segala kekhawatirannya.

“Semangat, San! Kamu punya acara besar di depan mata. Tunjukkan ke tante bahwa kamu sungguh-sungguh mau mengelola galeri yang diwariskan Om buat kamu,” ucapan Hestia barusan bagaikan siraman air dingin di teriknya matahari siang bagi pemilik nama Sankara Khalik Semesta itu.

“Mau turun?” ajak San, menawarkan tangannya pada sang dara manis di sampingnya.

Hestia menyambut tangan San dan mensejajarkan langkahnya. Bersama dengan pemuda tampan juga tinggi di sampingnya, gadis itu berlari menyambut deburan ombak yang pada akhirnya beriak dan menyapa kedua pasang kaki mereka.

Pertemuan pertama, setelah puluhan minggu keduanya tak bertemu. Tak dapat dipungkiri, Semesta pun mengambil andil dalam pertemuan kala itu. San dengan kemelut hati dan pikirannya tentang pembuktian diri, Hestia dengan kekalutan tentang masa depan yang masih ditutupi kabut buram di hadapannya.


Setelah kejadian di pantai hari itu, San dan Hestia semakin akrab. Keduanya sering bertukar pesan dan menghabiskan waktu mereka bersama kurang lebih satu minggu dua hari, terhitung dari pertemuan yang lalu. Tak jarang Wiko menjahili San lantaran selama ini belum ada sosok perempuan yang bisa membuat hidup Sankara keluar dari meja kerjanya. Devi mencoba membantu Wiko membuat San beranjak dari tempat kerjanya, tapi NIHIL, tak berhasil. Satu-satunya yang bisa membuat semua orang takjub karena akhirnya pemuda berlesung pipi itu akhirnya dapat meninggalkan meja kerjanya juga easel nya untuk rehat sejenak.

Acara pameran dan pelelangan itu semakin dekat. Atmosfer di kantor sudah semakin mencekam. Tak jarang para pegawai menemukan San dan Wiko bertengkar. Sebenarnya pertengkarannya tidak hebat. Hanya karena keduanya tertekan akibat waktu yang semakin dekat dan proses persiapan final yang semakin membuat otak dan otot mereka kejang-kejang. Melihat kondisi itu, Devi mengambil andil untuk menghubungi Hestia. Mana tahu gadis itu bisa membantu meredam emosi Sankara yang makin lama makin memanas itu.

“Lo tau kan Wik, ini udah 4 hari menjelang pameran? Kenapa semua lukisannya masih belum digantung? Apa perlu gue yang gantung semuanya?” Sankara meninggikan volume suaranya.

“Harus gue juga yang gantungin emang?” Wikolia tak mau kalah dan mengeraskan suaranya.

“Wik, tangan gue cuma dua. atau perlu gue cari Dewi Durga buat bantu gue nyelesaiin ini semua dalam semalam?” ujaran Sankara kini semakin dingin dan tajam. Seluruh ruangan itu paham betul ketika San menurunkan volume suaranya, menutup matanya dan kemudian membuka kedua mata untuk menatap tajam ke lawan bicaranya, itu artinya San lagi diserang panik.

Dari ujung ruangan muncul seorang gadis cantik dengan mata kecoklatan, menghampiri San dan melempar tubuhnya ke tubuh San. Tangan San otomatis menyangga pinggang ramping sang gadis. “Kok lo bisa di sini sih, Hes?” tanyanya pelan, mata tajamnya kini melembut sambil mengecup sisi kanan wajah sang gadis.

“Kak Devi nelfon aku tadi. Katanya panik mu kumat,” kekeh Hestia. “Wiko, aku pinjam San sebentar. Debatnya lanjutin nanti aja,” ujar gadis itu sambil menarik tangan San menjauh dari Wikolia sebelum terjadi baku hantam diantara mereka.

Hestia menarik lengan San pelan menuju ke dalam ruangan pribadinya. San kemudian duduk di kursinya dan Hestia berdiri di hadapannya. Gadis itu menangkup wajah sang adam sementara sang adam mengangkat kepalanya sedikit untuk menatap Hestia.

“San, tenang,” Hestia menarik bangku dan duduk di depan pemuda tampan itu. “Masih ada 4 hari lagi. Ada aku dan Kak Devi. kita bisa bantuin kamu pasang-pasang lukisannya. Sekarang kita ke pantai sebentar yuk. cari udara segar,” ajak Hestia.

Sankara hanya mengangguk pelan dan melayangkan sebuah pelukan serta menyandarkan kepalanya di bahu Hestia. “Makasih,” hanya itu yang meluncur keluar dari labia pemuda 176 cm yang tengah memeluk Hestia itu.

Hestia hanya mengangguk dan tersenyum sambil membelai rambut kebiruan Sankara. “Aku yang setirin aja, ini udah hampir setengah enam, mau ke Finn's aja?” Tanya gadis itu yang langsung dibalas anggukan dari yang ditanyai.

Tak berapa lama waktu berjalan setelah keduanya bertolak dari kantor Sankara menuju Finn's Beach Club yang terletak di Canggu, tiba-tiba ponsel Sankara berbunyi, ada telepon masuk dari sang kakak.

“Halo,” Sankara menjawab panggilan tersebut.

“San, Lukisan lo hilang satu, gue dan Wiko baru aja mau mulai gantung-gantungin di galeri. Tapi lukisan lo yang mau kita lelang salah satunya ada yang hilang,” kepanikan tersirat dalam suara Devi.

“Yang mana, kak?” San menegakkan posisi duduknya mendengar berita dari Devi barusan.

“Yang gambar ada bapak-bapak lagi main sama 2 anak,” suara Devi bergetar.

“Kak, nggak usah nangis. gue juga kaget. lo coba tenangin diri lo. HP nya kasih ke Wiko dulu. Gue ngomong sama dia dulu,” Sankara memberikan instruksi.

“Halo, San,” Ponsel beralih ke tangan Wikolia yang sama paniknya dengan Devi yang kini terduduk lemas di tengah Galeri yang sedang ditata oleh beberapa staff yang merupakan teman-teman dekat dari Sankara dan Devi.

“Lo ke ruang kontrol sekarang, ambil rekaman kamera 11 sama 17, itu kamera cctv di tempat penyimpanan semua lukisan gue. kalo gak ketemu, minta rekaman kamera 18 sama 24,” setelah menghela nafas, ia memberikan runut langkah dan mencoba menghilangkan panik dalam suara Wiko.

“Wik, tenang ya. Jangan ikutan panik. Kasian kakak kalo ngeliat semua orang ikutan panik,” San menambahkan.

“Oke, nanti gue chat lagi ya, San. Gue bakal ke ruang cctv sama Marcell sekarang,” Wikolia mengangguk mantap dan menarik nafasnya.

“Minta Yosia temenin kakak gue. Dia yang paham sama cara nenangin kakak. Gue percayain galeri sama lo. Gue balik lagi ke galeri sekarang,” San menutup pembicaraannya di benda pipih yang dipegangnya.

“San, ada apa?” Hestia bertanya sambil menatap sosok yang mengusap kasar wajahnya dan memutar setir untuk kembali ke tempat kerjanya.

“Lukisan gue yang mau dilelang di acara auction 4 hari lagi hilang satu, Hes,” San menginjak pedal gas dan dengan itu mobil meluncur di kecepatan 80 hingga 100 km per jam.

“SANKARA, MINGGIR!” kali ini Hestia menjerit sambil meremas lengan kiri San.

San menepikan mobilnya di sebelah kiri jalan dan berhenti sejenak.

Please, kamu bawa penumpang. Aku tahu kamu sepanik itu sekarang. Aku tahu itu hidup-matimu yang kita bicarakan. Tapi bisa kah kita pelan-pelan aja di jalan raya? ini jalannya ramai loh,” Tanya Hestia sambil menatap wajah Sankara yang sarat akan kekhawatiran dan kepanikan. “Kalau kamu nggak bisa menjernihkan pikiranmu, ada baiknya kita tukeran dulu. Aku yang setir, kamu yang duduk di sini.”

Irama jantung San kini kacau, peluh juga membasahi kening dan wajahnya, Tangannya juga dibasahi peluh. San tak bisa berbicara, hati dan pikirannya kacau. Terlebih Hestia tahu hal itu.

Ponsel San kembali berdering. Kini ada panggilan masuk dari Wikolia. Nampaknya Wiko sudah berada di ruang CCTV dan ia berhasil menemukan siapa tersangka dibalik pencurian lukisan Sankara itu.

“Iya, Wik,” suara San terdengar lemas, hampir tak bernyawa.

“San, Marcell berhasil buka arsip dari kamera yang lu sebut tadi. Gue udah teliti footage selama 48 jam terakhir. Lukisan lo diambil sama Yonas Arjuna Christiano, anak finance. Gue sama Marcell udah make 'Find Iphone' buat ngelacak jejak Yonas. Gue juga udah hubungin HR buat mastiin ada sanksi buat dia. Lo tenang aja,” jelas Wiko.

San hanya bisa menghembuskan nafas lega. Akhirnya satu masalah terselesaikan. Kurang lebih 1 jam perjalanan, San dan Hestia tiba di galeri. Devi masih beristirahat di ruangannya, Wiko dan Marcell ada di ruang rapat, membahas segala kemungkinan yang terjadi. Di ruang rapat sudah ada beberapa orang polisi rekan Marcell yang berhasil menangkap sang pelaku yang berhasil membuat semua orang panik dan ketakutan.

“San,” Yonas menatap Sankara dengan tatapan memelas.

“Gue nggak mempan sama muka lo, Yon. Jujur banget gue kecewa. Gue takut lo akan ngehancurin galeri pemberian ayah gue kalo lo ada disini,” aroma kekecewaan kental tercium dari setiap kata dan kalimat yang meluncur keluar dari labia merah Sankara.

“Yon, gua rasa lo harusnya sadar. dari awal, tindakan lo itu salah. di balik semua nilai seni di lukisan itu, lukisan itu punya cerita buat Kak Devi dan Sankara. Lo serakah,” Marcell menambahkan.

“Jujur gue kecewa sama lo, Kak,” kali ini suara muncul dari oknum jangkung berkulit seputih susu yang baru masuk ke ruang rapat. Soma Abiandra namanya.

“Lukisannya kami kembalikan ke galeri ini. Tapi tersangka akan kami tahan sampai ada tebusan dari keluarga atau kerabat,” Polisi itu menegaskan.

“Baik, pak,” Sankara mengangguk.

“San, Please,” Yonas memohon pada Sankara.

“Bawa aja, pak. biarin dia jera,” Wiko mengisyaratkan pada 2 aparat tadi dan segera menangkap tubuh sahabatnya yang limbung.

Wajah Sankara pucat pasi. satu alasannya karena ia belum makan sejak pagi tadi. Yang kedua, insiden hilangnya lukisan itu membuatnya benar-benar kehabisan energinya.


4 hari kemudian,

Hari H pelaksanaan Pameran dan pelelangan lukisan Devi dan Sankara...

Setelah kejadian hilangnya lukisan dan hukuman setimpal yang didapat oleh Yonas, akhirnya acara pun berlangsung. Galeri Lukisan Dewata kini dipenuhi pengunjung baik undangan rekan-rekan dan kolega keluarga besar Almarhum Gede Satya Mahadewa, maupun turis-turis lokal dan mancanegara yang akhirnya terhipnotis ke dalam euforia suasana galeri yang didekorasi sedemikian rupa.

Pameran kali itu juga diramaikan oleh permainan musik dan nyanyian dari band indie tempat Marcell bernaung sebagai bassist. Suasana jadi semakin hidup dengan lagu-lagu yang menemani pengunjung menelusuri setapak-demi setapak perjalanan cerita setiap lukisan Devi dan Sankara. Lukisan bertema sepanjang jalan kenangan, mengenang Almarhum Bapak. Membuktikan ke Ibu kalau Devi dan Sankara membaktikan hidupnya untuk menghidupkan kembali Galeri Bapak yang sudah sekian lama dirintis dan dibesarkan namanya oleh Bapak dan rekan-rekan senimannya.

“Semoga dengan pameran dan pelelangan kali ini, Ibu paham kalau San meninggalkan hidup mapan San di Jakarta karena San ada hutang janji membesarkan galeri Bapak seperti sekarang,” Ungkap San dalam hati diiringi senyum.

Di sampingnya, Hestia mendukungnya dengan menggenggam erat tangan Sankara dan berjanji. Suatu saat nanti, Kalau Sang Pencipta Semesta berkenan, ia akan menemani Sankara mengarungi 7 Samudra bersama-sama.


3.237 words — 11/17/2021 17:09

Part 2: Haje's Birthday Resolution


Sabtu 6 November 2021, Hotel Tentrem, DIY

“Je, kamu mainan Autocad terus ih, akunya dianggurin,” Chandrata merengek.

Usai merayakan ulang tahun Chandrata kemarin, Hanindra memutuskan untuk menyewa kamar hotel yang cukup bagus untuk mereka beristirahat. Sayangnya, mesra-mesraan mereka harus terpotong telefon dari Hasta perihal deadline draft yang dimajukan.

“Maaf ya, sayang. Tiba-tiba deadlinenya maju jadi tanggal 8 nih,” Hanindra menatap kekasihnya itu dengan tatapan penuh permohonan maaf. Tadinya, 3 hari ini memang ia khususkan untuk merayakan ulang tahun Chandrata dan dirinya yang jaraknya hanya berselang 2 hari. Tapi, apa daya, garis kematian dan pekerjaan yang menuntutnya bekerja walau dalam hatinya ia ingin berlibur.

At least, kamu stop sebentar ya, Je. makan siang dulu, ini udah jam berapa?” pinta Chandrata sambil ndusel-ndusel di lengan kekasihnya. Keduanya sekarang sedang duduk di ranjang, Hanindra dengan laptop di pangkuannya dan Chandrata dengan remote tv di tangannya.

“Iya, sayang,” Hanindra kemudian tersenyum sambil melipat laptopnya dan menaruhnya di sisi ranjang, “Tadinya, aku cuti buat quality time bareng kamu, tapi malah ada kerjaan kayak gini,” tukasnya.

“Nggak papa, Je. lagian itu tanggung jawab kamu. Tapi, tolong banget jangan lupain kesehatanmu,” pinta sang kekasih sambil tersenyum manis sekali. “Udah mau ulang tahunmu loh.”

“Speaking of which, besok lunch di hotel aja, aku dah book di resto juga. *I have something to say to you,” Haje sukses membuat kekasihnya mengerutkan keningnya bingung.

“Apa nih, kok tiba-tiba ga pake aba-aba?” tanya Chandrata bingung.

“Ya kita liat aja besok,” Haje merebahkan tubuhnya di ranjang kemudian merentangkan lengan kirinya agar Chandrata dapat merebahkan kepalanya diatas lengannya. “Sini, tiduran dulu, katanya tadi nyuruh aku setop laptopan?” panggil Haje lagi ketika Camin bangun dari ranjang untuk me-refill debit air dalam tubuhnya.

Yang dipanggil langsung naik lagi ke ranjang, kepalanya di atas lengan sang kekasih. “Masih harus kerja keras ya, Je. Uangnya belum bisa buat nikah di luar,” ungkapnya sambil memainkan surai merah menyala kekasihnya.

“Kalo ayah-bunda bisa aja sih nerima kamu dan aku. Tapi, Indonesia nggak semudah itu menerima kita,” Haje menghela nafasnya.

“Nggak ada gereja yang mau menikahkan kita berdua juga, kan?” Chandrata menghela nafasnya berat sambil memutar badannya menghadap Haje.

“Jangan pusingin itu dulu, sayang. sekarang ini kita enjoy aja dulu ya, bayi,” Haje bergerak mendekat dan mengecup dagu Chandrata lembut.

“Haje, kita udah 24 tahun ini, dan aku udah dikejar-kejar. Bapak udah mengancamku mau jodohin aku ke anak temannya. Aku nggak mau,” Chandrata mencebikkan bibirnya.

“Sabar ya, Camin. Aku yakin kita bisa ngejalanin semuanya. Kalau mau aleman, jagan ditahan-tahan. aku suka ngeliat kamu aleman sama aku kayak gini,” kekeh Haje sembari mendaratkan kecupan ringan di sepanjang garis rahang Chandrata.

“I'll be here,” bisikan Hanindra barusan membuat Chandrata berjengit sedikit dan mendongakkan kepalanya ke atas agar sang kekasih punya banyak ruang untuk mendaratkan kecupan-kecupan ringan di sepanjang lehernya juga.

Cup, Cup, Cup suara kecupan Hanindra yang semula lembut dan nyaris tak terdengar kini semakin terdengar, semakin basah dan membara. Di sela-sela kecupan, Hanindra memainkan lidahnya pada earlobe kekasihnya, membuat pemilik nama Chandrata Mintaraga Jenggala itu menggeliat. Karena, YA TUHAN bagian itu begitu sensitif untuk Chandrata. Jantung pria yang sering disapa Camin oleh Hanindra itu detaknya semakin tak beraturan. Mana di bawah sana, Camin sudah mulai menggesek-gesekkan kemaluannya pada paha kekasihnya.

“HHHHH,” desahan Chandrata memenuhi rungu Haje. Pemuda ber lesung pipit itu masih sibuk menggesekkan kemaluannya di paha kekasihnya.

Haje masih sibuk mengecup dan menghisap leher kekasihnya dengan penuh gairah sebelum akhirnya ia menanamkan sebuah gigitan di perpotongan leher sang kekasih, menandai hak miliknya. Chandrata balas mengigit lengan kekasihnya karena tak mau teriakan melengkingnya merusak rungu kekasihnya dan siapapun yang tidur di kamar sebelah.

Tangan Haje meraih tangan kiri kekasihnya dan meletakan jemari lentik Chandrata di atas lubang sanggamanya sendiri. “Min, coba yuk, put three fingers inside you, make some room for me,” Haje berujar sambil mengecup pipi kekasihnya.

[oh iya, perlu diketahui, mereka masih pake atasan, bawahnya aja yang nggak ketutup fabric.]

Chandrata hanya memenuhi instruksi dari kekasihnya. Ya, Chandrata sangat submisif sekarang, dibawah perintah yang lembut dari kekasihnya, ia mulai memasukkan tiga jarinya ke dalam lubang sanggamanya dan mulai melakukan self-fingering sambil mengerang dan melenguh perlahan. Untuk meredam suara lenguhan dan erangan Chandrata, Sang dominan kemudian melumat bibir merah Chandrata.

Chandrata kemudian menarik keluar tiga jarinya yang kini dibasahi cairan pra-ejakulasinya. Lubang sanggamanya kini sudah terbuka, “Sayang,” Chandra menatap dominannya dengan mata memohon. Dan pemuda Juanda itu mengangguk setelah membersihkan tangan kekasihnya dengan menjilat cairan yang membasahi tangan kekasihnya itu. dan perlahan dengan hentakan lembut memasukkan seluruh kejantanannya masuk ke dalam lubang kekasihnya. Sensasi sengatan listrik yang mengejutkan menjalar dari ujung tulang ekor Chandrata, dan perlahan naik ke otaknya, nikmat rasanya.

Yah, kita tahu betul apa yang terjadi selanjutnya, malam yang panjang buat keduanya.


Esok paginya, seperti perkiraan kalian, kedua sejoli ini tewas di ranjang. Kulit mereka hanya tertutup selimut. Keduanya tertidur dalam pelukan hangat satu sama lain. Baju mereka sudah berserakan di lantai, begitu pula bantal yang semula ada di ranjang, semuanya berserakan di lantai. Yang tersisa di ranjang hanya kedua insan yang masih dimabuk cinta itu, dibalut bed cover linen putih.

“Morning, prince,” Haje yang lebih dahulu terbangun menyapa kekasihnya yang baru saja mengusap matanya karena benda asing yang dinamakan sinar matahari pagi menyapa matanya.

“Hai, sayang. Selamat ulang tahun,” Camin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Haje dan mengecup bibir kekasihnya itu.

“How's last night?” tanya Haje sambil menggerakkan alisnya jenaka.

You're still that good and gentle with me. I thank you for that,” suara parau Camin menandakan tubuhnya masih sedikit lelah akibat Seks semalam.

“Nggak sakit kan?” tanya Haje.

No, kamu nggak pernah bikin aku sakit, sayang. Enak banget,” Camin menggeleng dan tersenyum, memamerkan deretan gigi putihnya dan lesung pipinya yang dalam dan manis itu.

“Good then, don't forget to dress up for tonight ya, babe. My birthday dinner. Sekarang kita mandi terus aku kerjain draft sebentar sebelum di-submit ya?” Haje mengangguk dan mengecup bibir kekasihnya.

“Okay, babe. aku mandi terus pesenin breakfast ke room service, mau? sekalian sarapan bareng, biar entar kuat nge-draft lagi,” tawar Camin.

“Bolehh,” Senyum Haje melebar ditawari kekasihnya untuk makan bersama.


Malam itu, di sebuah restoran bernuansa Jawa dengan temaram lampu yang indah dan syahdu, kedua insan itu duduk menikmati kudapan malam. Sebelum hidangan penutup disajikan, Pelayan restoran datang membawa sebuah trolley berisi kejutan yang sudah disiapkan oleh Hanindra sebelumnya. sebuah piring yang tertutup oleh sebuah tutup saji stainless steel yang di dalamnya terdapat sebuah kotak beludru berisi sepasang cincin dengan ukiran nama mereka berdua.

“Uhm, Chandrata Mintaraga Jenggala,” jarang-jarang banget Hanindra memanggil Chandrata dengan nama lengkapnya. Biasanya, mereka memanggil nama masing-masing dengan panggilan sayang. Tapi kali ini berbeda, sorot mata Hanindra juga berbeda.

“Kok tumben manggil aku pake nama lengkap?” tanya Chandrata sambil mengerutkan keningnya.

“Soalnya,” Hanindra membuka tutup saji dan mengambil kotak beludru putih di dalam nya. “Hari ini mau nanya serius sama kamu. Aku nggak tau petualangan apa yang akan ada di depan kita, Aku nggak tau kapal kita akan berlayar kemana. Tapi, aku mau ajak kamu berlayar bersama aku, nyari harta karun yang berharga itu bersama-sama. Will you be with me till the end of the line?” Hanindra berlutut di hadapan Chandrata yang kini duduk manis di kursinya.

“Hanindra,” Kedua mata Chandrata tak kuasa menahan bendungan air mata yang sudah sejak tadi bersarang di pelupuk matanya. Air mata itu kini terjun bebas membasahi pipi Chandrata. Ia kehabisan kata-katanya.

“Captain, take me wherever you go,” Chandrata berbisik pelan sambil mengangguk dan mengambil kotak beludru itu.

“Yay! kalo gitu, sekarang sini tangannya,” Hanindra berdiri dan mengambil cicin berukir namanya untuk disematkan di tangan kiri Chandrata.

“I love you, Sayang,” Hanindra memeluk tubuh Chandrata dan membiarkan kepala sang Jenggala tersandar di bahunya, menyembunyikan dirinya yang masih berusaha meredakan tangis harunya.


Happy Birthday, Kim Hongjoong!

Birthday Date — sebuah kisah kapal hantu JoongQ (Hongjoong ATEEZ x Q The Boyz)


Part 1. Camin's little birthday wish.


Kim Hongjoong as Hanindra Kenang Juanda (Haje) Ji Changmin as Chandrata Mintaraga Jenggala (Camin)


Rindu. Itu yang terbersit di pikiran Hanindra Kenang Juanda, pemuda kelahiran Jogja, 7 November 1998, yang kini tengah merantau di Ibu Kota Jakarta untuk mengadu nasib. Hatinya masih tertinggal di Jogja, kota kelahirannya. Tempat cinta pertamanya bersemi. Cinta pertama yang berlanjut hingga sekarang. Pemuda yang kerap disapa Haje ini merindukan pelukan sang kekasih, Chandrata Mintaraga Jenggala. Cinta pertama yang mungkin akan jadi pelabuhan terakhir hatinya.

Awalnya, usai menamatkan studinya di salah satu universitas ternama di Jogja, Pemuda 22 tahun ini hendak mencari pekerjaan di kota kelahirannya, alasannya supaya ia tak harus menjalani long distance relationship dengan kekasihnya. Namun, takdir seolah-olah mempermainkan kisah cinta mereka. Hanindra diterima untuk menjalani pekerjaan di sebuah firma arsitektur di daerah SCBD, Jakarta, sementara Chandrata, kala itu harus meneruskan bisnis mebel milik ayahnya di Jepara. Mau tak mau, keduanya membulatkan tekad untuk menjalani hubungan jarak jauh yang sudah berjalan hampir 1 tahun, pasca kelulusan mereka.

Beberapa bulan ini, semua terasa berat bagi wira tampan berambut kemerahan itu. Pasalnya, Hanindra mulai disibukkan dengan deadline yang mengikat lehernya, begitu pula Chandrata yang harus membenahi sistem manajemen di usaha yang telah dirintis sang ayah. Keduanya jadi jarang berkomunikasi. Kadang komunikasi mereka hanya sebatas obrolan singkat di aplikasi pesan digital yang ada di smartphone mereka.

“Han, draft buat Pak Ardi udah selesai?” suara berat Hasta, rekan sekerja Hanindra, memecah lamunan pemuda Introvert yang tengah mengutak-atik aplikasi autocad di laptopnya itu.

“Masih ada beberapa hal yang kurang, Ta. Jam 12 kelar, kok,” pemuda berambut strawberry blonde itu menggeleng sambil mengusap wajahnya yang nampak belum tidur sekurang-kurangnya 24 jam terakhir ini.

“Lo udah berapa hari lembur, Han?” Hasta bertanya lagi. Pasti bingung siapa Hasta-Hasta ini. Hasta adalah rekan Hanindra, sesama drafter di firma tempat mereka bekerja. Sesama pejuang lembur juga. Tak jarang keduanya bermalam di kantor untuk menyelesaikan draft autocad punya client mereka. Surya Hasta Raharja, itu nama lengkapnya.

“Kak Han, hari ini meeting sama Pak Tyo, ya. Ada klien baru lagi,” Kini suara muncul dari pemuda yang sedikit lebih tinggi dari Hanindra, punya lesung pipit kalau dia tersenyum. Namanya, Sanala Pramoedya. Rambutnya tak kalah nyentrik dengan Hanindra, abu-abu platinum, sepertinya.

Ujaran Sanala barusan membuahkan kekehan jahil dari oknum berambut hitam, lirik mata jenaka dan tahi lalat dibawah mata. Winata Kala Senja namanya tapi suka dipanggil Wika. Suka ngetawain kakak-kakak maupun teman-temannya kalau mereka lagi ketiban banyak kerjaan. Tapi biasanya selalu dapet karma instan setelah dia ngetawain.

“Lo nggak usah ketawa-ketiwi, Wika. Hari ini ada site visit ke Cikarang. Bareng Pak Lianto.” Sanala berujar sambil menilik papan jalan yang berisi jadwal punya teman-temannya. Si surai platinum ini sering kali dapat julukan living planner karena dia paling tahu jadwal teman-teman sekerjanya.

Seketika itu juga, Wika yang tadi masih ketawa-ketiwi berubah muram.

“Karma datangnya seketika, Bro,” kali ini sahutan dari jangkung bersurai perak yang tengah menyalakan mesin kopi di sudut ruang kerja mereka. Si jangkung ini namanya Michael Giantara, biasa disapa Migi. Dia biasanya membantu Hasta dalam hal perspektif ruangan.

Kadang, hiruk-pikuk tempat kerja seperti ini membuat Hanindra lupa penatnya tahun-tahun pertama bekerja. Tak sedikit keributan terjadi di ruangan berisi 8 orang dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Hanindra dan Hasta lulusan Desain Arsitektur, Migi dan Wika lulusan Desain interior, Yulius dan Sanala lulusan Manajemen Pemasaran. Yang terakhir tapi tak kalah pentingnya, Jordi dan Sangkuh, yang berlatar belakang Teknik Sipil. Tim yang beragam, tapi itu semua mampu membuat Hanindra lupa akan beratnya beban kerja sebagai drafter.


Pekerjaan memang menyita sebagian besar waktu mereka. Acap kali baik Hanindra maupun Chandrata lupa waktu makan, bahkan berjam-jam bergelut di balik layar komputer dan hamparan blue-print.

Namun, tanggal 4 November, seusai jam kerja, Hanindra memutuskan untuk mengambil cuti selama seminggu untuk pulang ke Jogja, kota kelahirannya, tempat cintanya tertinggal. Sekalian juga menjenguk papa dan mamanya yang kini hanya tinggal berdua di Jogja. Begitu pula Chandrata, pemuda penyuka film horor ini pun meninggalkan villa keluarganya yang jadi tempat tinggalnya selama membenahi bisnis ayahnya itu, kembali ke Jogja. Tanpa ada janji bertemu, tanpa ada koordinasi satu sama lain, keduanya bertolak ke Jogja.

Malam itu, Jogja diguyur hujan lebat. Entah mengapa, satu yang terpikir oleh Hanindra yang tengah menunggu di Bandara. Menghubungi Chandrata. Hanindra mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menekan speed dial nomor 1, 𝐜𝐚𝐦𝐢𝐧 begitu nama yang tertera di ponselnya.

“Halo,” Suara dari seberang menyapa.

“Min, aku udah di Jogja. Ehm... kamu bisa jemput nggak. Hujan deres disini,” Hanindra bertanya.

“Astaga. Kamu kok nggak bilang-bilang kalau mau pulang, toh? aku udah deket bandara. tunggu bentar lagi ya. tadi sore dari Jepara,” yang dipanggil 'Min' menyahut dari seberang.

“Lha, belom balik rumah, ta?” tanya Hanindra lagi.

“Udah sih, cuma tadi lagi cari makan di luar. kamu stand by ae, sayang. aku udah deket,” balas suara seberang lagi.

“Camin,” panggil Hanindra.

“Iya, Haje sayang, kenapa?” tanya si pemilik suara.

“Hati-hati. Di luar hujan kuenceng, pelan-pelan aja. ndak usah ngebut-ngebut,” Yang dipanggil Haje tersenyum, walau tak terlihat oleh pemilik suara seberang.

“Iya, iya. kamu juga,” Chandrata menutup percakapan dan kembali fokus menyetir mobilnya. Dan panggilan pun berakhir.

Tak berapa lama kemudian, mobil Honda CRV hitam muncul di pelataran parkir Bandara Adi Sucipto. Chandrata turun dari mobil dan segera berlari ke dalam, menjemput kekasihnya yang tengah duduk di bangku sebuah cafe dengan kantuk yang nampak tak tertahan lagi.

“Je, Haje,” pemuda bersurai kemerahan itu berjongkok di depan bangku kekasihnya.

Yang dipanggil 'Haje' itu membuka matanya dan menatap Chandrata si tampan yang tengah memamerkan lesung pipitnya. Pemuda itu kemudian memeluk kekasihnya. Siapapun tahu saat itu, Hanindra sedang melepaskan segala beban yang menekan bahunya. Chandrata pun segera membalas pelukan itu dengan dekapan hangat. “Aku kangen,” hanya itu yang keluar dari mulut Hanindra. Ia nggak sanggup berkata-kata lagi, saking lelahnya.

“Ke mobil dulu aja. barangmu biar aku aja yang bawa. nanti malem kamu nginep ndek rumahku aja, besok baru balik ke rumah papa,” Chandrata menarik koper Hanindra dengan tangan kirinya sementar tangan kanannya merangkul sang kekasih.

“Camin, besok kamu ulang tahun. Kita rayain bareng ya? Udah lama aku nggak ngerayain ulang tahunmu,” Ungkap Hanindra.

“Iya, tapi kamu istirahat dulu. liat tuh, mukamu tuh loyo banget. pasti kamu belom tidur cukup selama seminggu ke belakang,” Kini Chandrata melepas tautan diantara mereka dan memasukkan koper Hanindra ke dalam mobilnya. setelah itu, ia beralih membukakan pintu untuk Hanindra barulah ia duduk di bangku kemudi.


“Bu, hari ini Hanindra nginep di sini ya,” pamit Chandrata pada ibunya yang masih duduk di ruang keluarga.

“Oh, ada Hanin toh. Ya wis. ke kamar aja langsung, Kak. Suruh istirahat aja dulu,” seorang wanita paruh baya mengangguk.

“Makasih, Bu. Maaf Hanin numpang ngerepotin ibu hari ini,” Hanindra mengangguk dan memberi salam pada wanita itu.

“Kayak sama siapa aja, nak,” Wanita itu tersenyum.

“Yuk,” Chandrata menggandeng tangan Hanindra menuju kamarnya yang ada di lantai dua. “Habis ini mandi dulu aja. terus tidur. Tak bikinin coklat panas, doyananmu.”

“Yes, Mom,” canda Hanindra pada kekasihnya yang langsung dibalas dengan jitakan pelan.

Malam itu, usai meminum coklat panas buatan Chandrata dan mandi, Hanindra langsung tenggelam dalam alam mimpinya, membayar hutang tidurnya selama bekerja kemarin. Dia yang biasanya tidur sendirian, kini dikungkung pelukan hangat sang kekasih. Ke lengan kekar itulah akhirnya Hanindra berpulang. Mimpinya begitu indah dan menenangkan sepanjang malam.

Nggak ada lagi acara terbangun dari tidur karena mimpi buruk. Kalau ada Chandrata di sebelahnya, rasanya separuh beban yang ada di pundaknya terangkat. Semua berlaku sebaliknya juga ke Chandrata. Kalau ada Hanindra di sebelahnya, jalan yang dilaluinya serasa tak berbatu, tak bergejolak.


5 November,

Hanindra terbangun dengan sosok Chandrata yang masih mendengkur di sampingnya. Hanindra tersenyum dan membelai rambut Chandrata. Senyum terukir di bibir merah milik pemuda 22 tahun itu. “Selamat ulang tahun, Sayang,” bisik si rambut kemerahan itu sambil mengecup manis bibir tipis Chandrata.

Chandrata membuka matanya perlahan, mendapati wajah Hanindra baru saja sedikit menjauh darinya. Tangannya kemudian melingkar di pinggang yang lebih kecil itu. “Thanks for the best present, Haje,” lesung pipit terukir manis di kedua pipi wira yang rambutnya senada dengan kekasihnya itu.

Kepala Hanindra kini mendekat lagi, jarak diantara mereka semakin menipis. kini, bibir merah Hanindra menjelajahi seluruh wajah Chandrata. Yang diserang kecupan hanya menerima dan memejamkan matanya, menikmati setiap kecupan lembut kekasihnya sambil tersenyum disela-sela ciuman kecil di pagi hari itu.

Yang diciumi wajahnya itu hanya menyerah dan melingkarkan tangannya semakin erat di pinggang kekasihnya. “Ini masih di rumah Ibu, kalau kamu inget, Je,” bisik Chandrata mengingatkan.

“Kalo gitu kita ke hotel gimana? sekalian ngedate ke Borobudur dulu entar,” seringai khas Hanindra muncul menghiasi bibirnya.

“Najis kamu, sus banget,” Chandrata mendorong wajah kekasihnya agar menjauh darinya.

“Kamu mau kan?” Hanindra menggerakkan alisnya jenaka sambil nyengir jahil.

“Mandi dulu gih. udah jam 7, nanti keburu panas. Sumuk, nggak enak,” Chandrata berdiri dari ranjangnya, salah tingkah mendengar pertanyaan jahil Hanindra barusan.

“Camin,” panggil Hanindra sambil menarik tangan Chandrata lembut membuat sang pemuda 175 cm itu berbalik menghadapnya. “I'm your birthday present,” Hanindra mengecup bibir yang lebih tinggi lembut dan membiarkan Chandrata berlalu ke kamar mandi.

“HAJE BISA NGGAK SIH NGGAK USAH BIKIN AKU MLEYOT GINI PAGI-PAGI,” Chandrata kemudian berteriak dari kamar mandi. disusul kekehan lembut dari pemilik nama panggilan Haje itu.

“Harapanku cuma satu, bisa sama kamu sampai maut menjemput, Je. Cuma itu aja birthday wish aku. Aku nggak tahu aku jadi apa tanpa kamu,” begitu ucap Chandrata dalam hati.


FIN

𝐷𝑎𝑖𝑙𝑦 𝑀𝑎𝑟𝑠 𝑥 𝑀𝑟. 𝐶𝑒𝑛𝑡𝑒𝑟 𝗙𝗿𝗼𝗺 𝗠𝗮𝗿𝘀 𝘅 𝗠𝗿. 𝗖𝗲𝗻𝘁𝗲𝗿 𝗔𝗨 𝗯𝘆 𝗺𝗲𝗿𝗱𝗲𝘀𝗶𝗿𝗲𝗻


𝗣𝗿𝗲𝘀𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴: 𝑇𝘩𝑒 𝐹𝑎𝑖𝑡𝘩-𝑊𝑖𝑛𝑔𝑠 𝑇𝑎𝑡𝑡𝑜𝑜


Bagi sebagian orang, Tattoo adalah representasi dari wujud pemberontakan, protes atau bahkan simbol kenakalan. Semua itu tidak berlaku bagi Hongjoong. Pemuda 24 tahun yang merupakan kekasih dari Seonghwa ini menganggap Tattoo yang terlukis di tubuhnya atau tubuh orang lain adalah bagian dari ekspresi berseni. Seonghwa sendiri menyetujui pendapat Hongjoong, tapi kalau disuruh punya satu, Seonghwa memilih untuk bilang “Tidak”. Berbeda dari Hongjoong yang punya ketahanan terhadap rasa sakit yang cukup tinggi, Seonghwa benar-benar sensitif terhadap rasa sakit.

“Joong,” Seonghwa memanggil kekasihnya sambil duduk di sofa dan menikmati es krim dari tubnya

“Ya, kenapa, sayang?” Hongjoong duduk di samping Seonghwa sambil mencoret-coret canvas di aplikasi desain yang ada di iPadnya.

“Seru amat, ngapain?” Seonghwa mengubah posisi duduknya supaya lebih mudah mengintip isi perangkat tablet si rambut blueberry di sampingnya. “Bikin apa sih?” tanyanya sambil perlahan mendekat dan ngusel-ngusel ke arah yang lebih muda.

“Ini, tadinya gue mau bikin tattoo di kaki, gue lagi gambar designnya,” Hongjoong menggeser tabletnya itu supaya Seonghwa juga bisa melihat prosesnya menggambar desain tattoo impiannya. Simpel, tapi penuh makna. Sepasang sayap malaikat dan kata 'Faith' sebagai pusat di tengahnya.

“Gue boleh liat? Beneran?” tanya pemuda berambut pink pastel itu sambil menatap kekasihnya bingung.

“Lha, kenapa nggak boleh liat emangnya? Lagian lo juga udah liat gue punya yang di sini,” Hongjoong nyengir sambil menarik sedikit kerah piama satinnya dan sedikit Tattoo bertuliskan 'Cogito Ergo Sum' menyembul dari balik piamanya.

“Hehehehe, iya sih. Tapi itu sakit kan?” Seonghwa menatap desain di tablet Hongjoong dan wajah kekasihnya bergantian. “Desainnya ribet juga, Joong. Lo nggak takut?”

Melihat ekspresi Seonghwa, Hongjoong terkekeh kecil. “Nggak sakit seharusnya. Nggak sesakit yang di dada, Hwa. kan letaknya jauh dari jantung,” jelas Hongjoong yang kembali sibuk mengulik-ulik desainnya. “Apa lagi kalau lo nemenin gue pas di sana. Pasti sakitnya berkurang jauh,” kekeh Hongjoong sambil membelai rambut kekasihnya.

“Hih, lo tuh, masih aja ya, ngegombal. padahal gue lagi serius,” Seonghwa memanyunkan bibirnya.

'Duh gemes banget sih lo, Hwa,' batin Hongjoong sambil kembali mencoret-coret kanvas di tabletnya. “And Hwa, aku ada hadiah di kamarmu. Coba di cek deh,” kata-kata si rambut biru barusan berhasil membuat lawan bicaranya mengernyit bingung sambil menutup tub es krimnya dan beranjak dari tempat duduknya untuk memeriksa kamarnya.

“HONGJOONG INI KAN BAJU CROP YANG GUE PENGEN ITU. HARGANYA MAHAL BANGET, KENAPA LO BELIIN, SAYANG UANG LO,” Seonghwa keluar lagi dari kamarnya kini membawa sebuah sweater berkerah berwarna pink dengan bahan rajutan yang nyaman dan hangat.

I want to treat you, babe. Lagian duitnya bukan hasil minta papa sama mama, Hwa. Itu dapet dari hasil ngerjain Tattoo di studionya Kak Seungyoun. Gue ngumpulin buat ngasih lo reward. At least, itu yang bisa gue lakuin buat lo, Hwa,” Hongjoong tersenyum sambil meletakkan perangkat tabletnya di sofa dan mendekat ke Seonghwa.

“Lagi pula, bajunya cocok sama rambut lo yang sekarang, Hwa,” sambung Hongjoong yang kemudian memadukan sweater itu di atas kaus putih yang Seonghwa kenakan saat itu. Rambut merah mudanya terlihat lebih manis dengan paduan sweater itu.

Seonghwa terdiam sesaat. Ia menatap kekasihnya, berusaha menahan air matanya untuk tidak meleleh. Tapi usaha itu tak berhasil, Alih-alih tertahan, Air mata justru membanjiri wajah tampannya. Bahunya bergerak naik turun. Hongjoong yang menyadari sesenggukan tangis kekasihnya langsung mendekat dan memeluk si jangkung itu dengan hangat.

“Kenapa nangis?” tanya Hongjoong sambil membelai punggung Seonghwa.

“Lo baik banget sama gue,” ujar Seonghwa sambil terbata-bata diantara isak tangisnya.

“That's my duty to love you, Bunny,” Hongjoong terkekeh sambil menunjukkan seringai jahil andalannya.

“Stop bikin gue S word kalau lagi sentimental begini.” Seonghwa kemudian mengigit bahu kekasih mungilnya itu agak keras, membuat seringai jahil si rambut biru itu berubah jadi geraman tanda Hongjoong kesakitan lantaran gigi Seonghwa menyerang bahunya.

“Cuma ini nih yang bikin gue nggak tahan sakit. padahal, kalau kena jarum tattoo gue ga berasa sakit2 amat,” kekeh Hongjoong.

“Habis lo jahil banget sih,” Seonghwa merajuk sambil mencebikkan bibirnya, yang saat itu langsung dihadiahi kecupan mesra dari sang kekasih.

“Dicoba dulu bajunya,” Hongjoong mendorong Seonghwa kembali ke kamarnya dan menutupnya, menunggu Seonghwa selesai mencoba bajunya dan keluar dari kamarnya.

“Gosh Hwa, lo cantik banget, gue rasa gue bisa kehilangan detak jantung sekarang,” Hongjoong menatap Seonghwa yang kini mengenakan sweater pemberian darinya dipadu dengan celana chino pendek yang menutup tak sampai separuh dari pahanya, dan disempurnakan sandal rumah bulu berwarna krem. Satu kata yang bisa terpikir oleh Hongjoong saat itu. Kekasihnya begitu cantik. Separuh abdomennya terekspos udara yang cukup dingin dari pendingin ruangan.

“Jelek ya?” tanya Seonghwa yang langsung dibalas dengan gelengan kuat dari Hongjoong.

“Cantik,” ujar si rambut biru itu sambil menggelengkan kepalanya lembut. Hongjoong kemudian beranjak dari tempat ia berdiri dan berpindah ke belakang Seonghwa sambil memberikan back hug untuk menutup perut Seonghwa yang terekspos. “Tapi kayak gininya harus sama gue doang ya. ga rela gue harus berbagi seni terindah sama orang lain,” kekeh pemuda 172 cm itu.

“Ya emang sama siapa lagi,” Kekeh si rambut merah jambu sambil menaruh telapak tangannya di atas tangan kecil kekasihnya.


The End.

𝐖𝐡𝐚𝐭 𝐢𝐟.... A 𝐇𝐨𝐧𝐠𝐣𝐨𝐨𝐧𝐠 x oc oneshot.


part 2


Malam itu, Sean menjaga Sena di rumah sakit, pukul 12:30 dini hari, Sena kembali dihantui mimpi manusia bertopi fedora yang berusaha menculiknya dan menghapus semua rantai ingatan dalam kehidupan. Pria itu mengejar Sena dan membuatnya terbangun dengan wajah yang dibasahi keringat dingin dan nafas yang terengah-engah.

'Se-Se, Se-Se,' panggil Sena dengan suara bergetar.

Sean mengusap wajahnya dan mengangkat kepalanya, 'ya, kenapa Sen?' tanya Sean.

'Takut,' hanya itu yang bisa diucapkan oleh Sena yang sudah mulai menangis. dadanya naik turun. 'Nggak mau tidur lagi. gue takut,' rengek Sena.

'Takut kenapa?' Sean berdiri dari sofa tempat ia beristirahat.

'Orang pakai baju hitam-hitam, ada kabut, gue lupa sama lo, sama kak jean, sama kak sekar,' tangis Sena pecah.

'Nggak papa sen, cuma mimpi. gue bobo di sebelah lo ya, mau?' tanya Sean dibalas dengan anggukan Sena. Sena bergeser, memberikan tempat untuk Sean berbaring di sampingnya. 'Tidur lagi ya, gue di sini. gue nggak bakal biarin kabut itu nyerang lo,' Sean merengkuh tubuh mungil saudara kembarnya dengan lembut. Namun, Sena masih terjaga dalam pelukan Sean. ia takut kalau ia menutup matanya, ia lupa rasanya dipeluk oleh Sean.

'Sen, lo nggak bobo?' tanya Sean yang nggak bisa tidur juga kalau kembarannya nggak bisa tidur.

Tak ada jawaban dari Sena, tubuh kurusnya semakin erat memeluk Sean. Dari pelukan itu, Sean tahu saudara kembarnya takut. ‘Sen, gue di sini, masih di sini. Lo nggak pernah sendiri,’ Sean membelai rambut Sena, perlahan Sena terlelap dan nafasnya semakin stabil. Tak lagi tersengal-sengal. Jam di ponsel Sean sudah menunjukkan waktu pukul 3:00 dini hari waktu setempat, dan ini sudah ketiga kalinya dalam minggu ini Sena mengalami hal serupa.


Jam 8 pagi, Sean dan Sena dibangunkan dengan suara pintu kamar Sena yang terbuka. Rambut oranye menyembul dari balik pintu. Hari ini jadwal terapi bersama Jean. Terapi kali ini berhubungan dengan keterampilan Jeandra dan Sena, melukis dan menyanyi. Setelah meminta Sekar dan Sena untuk pergi meninggalkan ruangan sejenak, terapi pun dimulai.

‘Sen, coba deh gambar sesuatu di sini. Aku udah bawain cat sama kanvas coba kamu lukis apa aja yang di pikiran kamu,’ pinta Jean sambil duduk di samping ranjang Sena. Sena mengangguk dan segera melukis. Dan betapa kagetnya wajah Jeandra saat dia melihat lukisan yang dibuat oleh Sena. Sena melukis lelaki ber busana serba hitam, dengan topi fedora dan masker menutupi wajahnya, hutan penuh kabut tipis berwarna abu-abu dan gadis dengan wajah penuh ketakutan dan sedang berpegangan tangan dengan anak laki-laki seusianya.

‘Sen, itu siapa?’ tanya Jeandra saat lukisan itu selesai.

‘itu yang semalam muncul di mimpi Sena, kak. Dia mau ambil Sena dari Sean sama kak Jean. Sena takut,’ Suara sena bergetar saat menjelaskan tentang lukisannya.

Jean menyingkirkan lukisan itu ke dekat jendela dan memeluk tubuh kurus Sena. ‘Jangan dipikirin terus ya, Sen. Cuma mimpi. Aku sama Sean masih di sini. Thank you udah berusaha tidur lagi,’ Jean membelai rambut gadis pujaan hatinya itu.

'Kak Je, aku capek,' tangis Sena pecah. 'Kadang aku nggak tau siapa aku sekarang, bingung aku harus ngapain, tapi aku tau harus melakukan sesuatu,' isaknya di dada Jeandra.

Mendengar tangis Sena dan jeritan hatinya, Jeandra jadi paham alasan kenapa malam itu Sena memutuskan untuk memotong nadinya dan mencoba mengakhiri hidupnya. “Si Fedora yang di sana cuma ada di pikiran kamu, Sayang. Kakak berani jamin, si Fedora itu nggak bakal bikin kesayangan kakak sakit atau kenapa-kenapa lagi selama kakak masih di sini,' Jean membelai rambut Sena dan mengecup puncak kepala gadis itu.

Wangi parfum khas Jeandra menyeruak ke indera penciuman Sena. Setidaknya wangi itu mengingatkannya bahwa ada seseorang di sampingnya, yang akan selalu menemani dan menyemangatinya walau badai terus menerpanya.

Jeandra kemudian melepas pelukannya dan menghapus airmata di wajah Sena dengan kedua tangannya. 'Sayangnya kakak, udah bisa lanjut kan? hari ini mau nyanyi apa? Kakak bawa gitar, hari ini nyanyi sambil gitaran yaa,' tanya pemuda bersurai oranye sambil membelai surai kecoklatan milik sang nirmala.

Di luar sudah siang, mendekati waktu makan siang. dan kali ini, anggukan kepala sang dara membawa mereka ke sebuah melodi sedih yang keluar dari labia pucat Sena. 'Sena mau nyanyi lagu yang kakak tulis itu, Not Too Late,' ujar Sena sambil membuka buku jurnalnya pada sebuah halaman dengan tulisan tangan Jeandra.

Jeandra menganggukkan kepalanya, 'Siap tuan putri,' jemari Jeandra dengan piawai menari-nari di atas gitarnya dan suara indah Sena mengikuti permainan gitar sang adam..

“𝗜𝘁’𝘀 𝗱𝗮𝗿𝗸 𝗵𝗲𝗿𝗲, 𝗜𝘁’𝘀 𝗰𝗼𝗹𝗱 𝗮𝗻𝗱 𝘄𝗶𝘁𝗵𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴 𝗡𝗼𝘁 𝗮 𝘀𝗶𝗻𝗴𝗹𝗲 𝗽𝗹𝗮𝗰𝗲 𝘁𝗼 𝗹𝗲𝗮𝗻 𝗼𝗻 𝗧𝗵𝗶𝘀 𝗹𝗼𝗻𝗲𝗹𝘆 𝗽𝗹𝗮𝗰𝗲

𝗜 𝗰𝗮𝗻’𝘁 𝘀𝗲𝗲 𝗮𝗻𝘆𝘁𝗵𝗶𝗻𝗴, 𝗪𝗵𝗲𝗿𝗲 𝘀𝗵𝗼𝘂𝗹𝗱 𝗜 𝗴𝗼? 𝗜 𝗮𝗺 𝗹𝗲𝗳𝘁 𝗮𝗹𝗼𝗻𝗲 𝗮𝘁 𝗧𝗵𝗶𝘀 𝗹𝗼𝗻𝗲𝗹𝘆 𝗽𝗹𝗮𝗰𝗲...”

mata sang gadis terpejam sambil menikmati permainan gitar Jeandra dan setiap kata-kata yang tertuang dalam lagu itu.

“𝗜𝘀 𝗮𝗻𝘆𝗼𝗻𝗲 𝗼𝘂𝘁 𝘁𝗵𝗲𝗿𝗲 𝗖𝗮𝗻 𝘆𝗼𝘂 𝗵𝗲𝗮𝗿 𝗺𝗲? 𝗧𝗵𝗲 𝗹𝗼𝗻𝗲𝗹𝗶𝗻𝗲𝘀𝘀 𝘁𝗵𝗮𝘁 𝗜 𝗮𝗺 𝗿𝗲𝗰𝗶𝘁𝗶𝗻𝗴 𝗖𝗮𝗻 𝘆𝗼𝘂 𝗵𝗲𝗮𝗿 𝗶𝘁?

𝗢𝗵 𝗽𝗹𝗲𝗮𝘀𝗲 𝗧𝗲𝗹𝗹 𝗺𝗲 𝘁𝗵𝗲 𝗮𝗻𝘀𝘄𝗲𝗿 𝗧𝗵𝗲 𝗿𝗲𝗮𝘀𝗼𝗻 𝘄𝗵𝘆 𝗜 𝗮𝗺 𝗹𝗲𝗳𝘁 𝗮𝗹𝗼𝗻𝗲 𝗵𝗲𝗿𝗲, 𝗪𝗵𝘆 𝗜 𝗰𝗮𝗻’𝘁 𝗴𝗲𝘁 𝗼𝘂𝘁 𝗼𝗳 𝗶𝘁...”

tanpa terasa, air mata keduanya meleleh sembari lagu terus melantun dari petikan gitar Jean dan suara merdu Senandung Melodi Senja. Suara nyanyian itu terdengar di sepanjang lorong yang menuntun semua perawat dan pasien yang lewat untuk berdiri dan mendengarkan nyanyian dari dalam kamar 417, tempat Sena dan Jean tengah menjalankan terapi yang dirangkai special oleh Jean untuk Sena.

'Kak,' panggil Sena lirih.

'Ya, cantik?' sahut Jeandra.

'Kalo nanti Sena pergi duluan, janji jagain Kak Sekar sama Sean ya. Sean disuruh kuliah lagi,' lirih Sena sambil menangis.

'Jangan ngomong kayak kamu mau pergi jauh,' air mata Jeandra makin deras membasahi pipinya.

'Sena ga tau kapan umur Sena berhenti bertambah,' Sena mengusap wajah Jeandra dengan tangannya.

'Jangan ngomong gitu,' Jeandra menggeleng. Dia tau cepat atau lambat, keadaan Sena yang terus menurun akan berujung pada pulangnya Sena ke tangan yang Kuasa. namun, Jean masih enggan menerima kenyataan itu.

'Kak,' tangan kurus itu dengan lemah membelai wajah Jeandra. 'Aku boleh minta sesuatu nggak?'

'Apapun itu akan aku kabulin sekuat tenagaku,' Jean mengangguk.

'Besok aku mau ke luar ya, temenin, kita terapinya di luar aja, di sini sumpek,' pinta Sena. dibalas sebuah anggukan dari Jeandra.

'Sekarang kamu tidur dulu, istirahat. tapi makan ya, aku suapin buburnya dikit,' Jean mengangkat mangkuk di meja dan menyuapkan makanan dengan sabar pada Sena.

'Kak, Sena nggak mau tidur, takut,' Sena kembali menitikkan air matanya.

Siang itu, Jeandra merengkuh sang dara manis di hadapannya dalam pelukan hangatnya. Jean juga takut suatu saat Ia tak dapat melihat senyum Sena lagi. 'Cantiknya Kak Jean, semangat terus. Jangan patah semangat. kita nikmati hari-hari sekarang ya.'


3 tahun kemudian...

Tanpa terasa, 3 tahun sudah berlalu begitu saja. Sesi terapi dan pengobatan di rumah sakit bahkan membuat Sena lupa hari apa yang baru saja dilewatinya. Entah berapa banyak terapi yang sudah dijalaninya bersama Jeandra dan berapa banyak momen yang mereka rekam di jurnal Sena. Walau Sena tak bisa mengingat semuanya, tapi setidaknya yang ditulisnya di jurnal itu membantunya mengingat masih banyak orang-orang yang mencintainya.

Dua minggu terakhir ini, sesuai janji Jeandra, banyak terapi mereka habiskan di luar, entah itu di pelataran taman rumah sakit, atau benar-benar pergi ke luar seperti ke pantai reklamasi di dekat rumah sakit, atau ke bukit bintang. Sudah tak banyak yang bisa dilakukan, Dokter hanya bilang bahwa terapi yang khusus dibuat oleh Jeandra ini bisa membuat fluktuasi moodnya berkurang sedikit.

Hari ini, Jean, Sekar, Sena dan Sean jalan-jalan ke pantai. Seharian beraktivitas di pantai. Sekar pagi itu memaksa sena mengenakan dress putih manis, cardigan kuning dan sandal coklat. rambutnya yang panjang sebahu dikepang dengan model fishtail braid. Jean nampak keren dalam balutan polo shirt kuning pastel, celana linen pendek putih dan sepatu keds. Keduanya nampak seakan-akan mengenakan busana couple.

Jeandra dan Sena duduk di karpet piknik sementara Sean dan Sekar bermain air, menghampiri laut. seharian mereka habiskan berempat di tepi pantai. tanpa terasa, pagi berganti menjadi siang dan perlahan, siang disapu oleh angin sore. sambil melihat gembiranya Sean dan Sekar bermain air, Jean memetik gitarnya sambil membiarkan suara Sena, yang saat itu bersandar di bahunya mengalun. Suara yang indah, menyanyikan sebuah lagu yang mereka tulis di sesi-sesi terapi sebelumnya.

“𝙒𝙝𝙖𝙩 𝙞𝙛 𝙬𝙚 𝙬𝙚𝙧𝙚 𝙢𝙚𝙖𝙣𝙩 𝙖𝙥𝙖𝙧𝙩 𝙒𝙞𝙡𝙡 𝙄 𝙨𝙩𝙞𝙡𝙡 𝙝𝙖𝙫𝙚 𝙮𝙤𝙪𝙧 𝙝𝙚𝙖𝙧𝙩 𝘽𝙪𝙩 𝙞𝙩'𝙨 𝙤𝙠𝙖𝙮 𝙄 𝙜𝙪𝙚𝙨𝙨 𝙞𝙛 𝙄 𝙟𝙪𝙨𝙩 𝙜𝙚𝙩 𝙧𝙚𝙥𝙡𝙖𝙘𝙚𝙙

𝙄 𝙠𝙣𝙤𝙬 𝙄 𝙘𝙖𝙣'𝙩 𝙘𝙤𝙢𝙥𝙡𝙖𝙞𝙣𝙩 '𝙘𝙖𝙪𝙨𝙚 𝙄'