jace'sarchive

yang nulis tiga sekamar

Baruna Baswara Bayanaka


Choi san as Sankara Khalik Semesta You as Hestia Amara Sara Arunika


Baruna Baswara Bayanaka, dalam bahasa sansekerta artinya Samudera yang Kilaunya Luar Biasa. Pantai di Bali banyak rupanya. Ada yang tersembunyi di balik jurang, ada yang sulit dijangkau. Semua itu punya kilau tersendiri yang mampu menyedot atensimu. Sama sepertimu, wahai Hestia Amara Sara Arunika, kamu mampu menarik seluruh atensi ku dan membuatku ingin mendapatkanmu dengan segala kilau warna yang tersembunyi dalam dirimu.

— Sankara Khalik Semesta

Mengenalmu, layaknya mengarungi 7 samudra; Tak ada habisnya. Aku tak tahu berapa purnama lagi harus kuhabiskan untuk menguak segala misteri tentangmu. Bagaikan semesta yang menyimpan jutaan misteri, begitu pula dirimu, Sankara Khalik Semesta. Ku harap kisah kita ini akan penuh petualangan. Tak hanya mengarungi tujuh samudera tapi juga mengarungi semesta yang tiada batas.

— Hestia Amara Sara Arunika


Bali, 17 November 2021

Tak seorang pun tahu alasan Sankara Khalik Semesta hijrah ke Bali. Padahal, karirnya sebagai seorang pengajar di sebuah montessori di Jakarta sudah tergolong mapan dan berhasil. Benar kata pepatah, Pulau Dewata punya ribuan cara untuk menghipnotis dan menarikmu untuk tinggal dan menetap di sana. Hal itu berlaku untuk semua orang dan Sankara adalah salah satunya dari sekian banyak orang yang tersedot oleh daya tarik sang Dewata ini.

Sudah setahun terakhir ini ia habiskan di Pulau Dewata. Menjelajahi pantai demi pantai, hamparan laut yang membiaskan kilau matahari, menikmati indahnya semesta, seperti namanya, Sankara Khalik Semesta, yang artinya“keberuntungan dari sang pencipta semesta”, pemuda itu bersyukur bisa dimanjakan oleh sang pencipta semesta dengan gelimang keindahan Bali yang beragam.

Di sisi lain Pulau Dewata ada Hestia Amara Sara Arunika. Nama yang indah, cocok dengan parasnya yang Elok rupawan, surai panjang sebahu menjuntai. Ah… tak ada yang dapat menggambarkan kecantikannya secara runut. Yang jelas, nama itu cocok dengannya,“ kehangatan keluarga yang abadi dari sang puteri matahari pagi”. Cantik, bukan? Hestia, begitu ia kerap disapa teman sebayanya. Putri tunggal seorang pemilik usaha minyak atsiri ternama di daerah Buleleng, Bali.


Suasana Bali kala itu masih dipenuhi hiruk-pikuk penghujung Hari Raya Galungan. Pekan depan, penduduk setempat hendak menyambut Hari Raya Kuningan. Sankara menyusuri sepanjang jalan seminyak yang mulai ramai turis baik domestik maupun internasional. Janur Kuning khas perayaan Galungan masih menjuntai di sepanjang jalan yang ia lewati. Semerbak wangi Canang Sari pun masih mengikuti langkahnya.

Hari sabtu dan minggu kemarin, Pura di seluruh penjuru Bali-pun ramai dipenuhi umat Hindu sekitar yang beribadah dan merayakan Galungan dan Kuningan. Tak jarang pula terlihat beberapa pantai yang dikhususkan untuk ibadah didatangi penduduk lokal yang hendak berdoa pada Sang Hyang Widhi.

Sudah 2 tahun terakhir ini Sankara memilih untuk tinggal di kediaman keluarga ayahnya, di daerah Ubud. Selain mendiami rumah keluarganya dan merawat rumah itu, San juga meneruskan bisnis galeri lukisan milik mendiang ayahnya yang terletak tak begitu jauh dari tempat tinggalnya.

Bagi pemuda yang menulis inisial namanya sebagai “San” dalam semua lukisannya itu, Ubud adalah tempat yang tenang dan syahdu untuk mencari inspirasi dalam mengerjakan lukisan-lukisannya. Tapi, Ia pun menyukai sibuknya keramaian di daerah Kuta, Legian, Seminyak, dan sekitarnya. Tak jarang pula San menyelesaikan lukisannya di pantai-pantai sekitar sana.

Banyak yang memandang keputusan Sankara untuk melanjutkan galeri Almarhum Gede Satya Mahadewa itu sebagai suatu keputusan yang gegabah. Tak terkecuali Sang ibu, Putu Sarasvati Kurnia. Namun, kegigihan usaha Sankara dan dukungan besar dari sang kakak, Devika Chandrika Maharani, membuat pemuda pemilik lesung pipi itu yakin dan mantap menjalani seluruh naik-turun bisnis galeri lukisan ini.

Selain memamerkan, menjual dan melelang lukisan karyanya dan Kak Devi. kedua bersaudara itu mengelola galeri milik sang bapak dengan bantuan Wikolia Ksatria Julian, sahabat Sankara. Diluar kegiatan internal seperti itu, mereka juga menyewakan galeri ini untuk memfasilitasi seniman lokal dari seluruh penjuru Pulau Dewata memamerkan hasil karya seni mereka baik lukisan, ukiran, maupun seni tari dan pertunjukan.

Hari itu, wira yang akrab disapa dengan panggilan “San” itu duduk di salah satu cafè yang cukup terkenal di daerah Seminyak, ada meeting, katanya. Biasa lah, meeting dengan Wikolia, rekan kerja sekaligus sahabat dekatnya.

“Jadwalnya sih minggu depan Pak Made mau bikin pameran seni patung. terus seninnya ada pagelaran Ramayana di pelataran galeri,” Wikolia memeriksa planner biru tua nya.

“Pokoknya lo atur aja, Wik. Gue percaya sama lo,” San mengangguk sambil mengetik di laptopnya.

“Lu bikin apa lagi?” tanya Wikolia sambil mengintip layar datar yang menyala di hadapan sahabatnya itu.

“Biasa, art essay buat pameran lukisan gue sama Kak Devi, akhir bulan ini. berarti lo jangan atur ada yang sewa galeri pas akhir bulan ya, Wik,” San berujar tanpa mengalihkan matanya dari layar datar laptopnya.

“Kalau gitu mulai sekarang harus atur biaya retribusi masuk ke galeri untuk acara lo, San. Terus juga atur acara auction, lukisan lo dan Kak Devi harus dapet apresiasi lebih kata gue,” celoteh pemuda yang kerap disapa Wiko ini membuahkan kekeha