kokojeikob

yang nulis tiga sekamar

From Long Gone But Never Forgotten A short Narration


Ini tentang Arteez dan Juniar Angkasa Limantara (Lee Junyoung). Nggak banyak yang kenal Jun. Walau sekarang Jun jauh, tapi Jun tetap punya tempat spesial di hati Kakak-kakak Arteez.


Udah 3 tahun berlalu sejak Jun mulai sering nongkrong bareng di kontrakan tempat Krisna, Rama, Jovan, Kenzie, Sanjaya, Mahanta, Joseph dan Jafar tinggal. Dulu, waktu awal-awal mereka tinggal di sana, rasanya Jafar masih SMA dan sering banget ngajar tutoring buat adik kelasnya.

Namanya Juniar, setahun lebih muda dari Jafar dan sering kegiatan kepanitiaan bareng Jafar. Alhasil, kalo rapat kepanitiaan, Jun sering nebeng nginep di kontrakan, bareng Jafar. Sayangnya, akhir tahun 2018, Jun harus hijrah ke Amerika untuk menjalankan studinya. Walau begitu, sampai saat ini, Jun masih sering bertukar pesan atau sekedar ngobrol bareng sama kakak-kakak ARTEEZ yang selama ini jadi temen mainnya selain temen-temennya di sekolah.

Kalau kangen Indonesia, Jun pasti langsung menghubungi salah-satu kakak-kakaknya itu. Hari itu, masih di bulan Ramadhan, Siang yang cukup terik menyinari kota Jakarta. Kalo kata Joseph, bawa aja wajan sama telor keluar, terus wajan nya ditaruh di jalan, entar bisa bikin telor ceplok gausah boros gas. 8 anak muda tampan itu sedang duduk di ruang tengah sambil melakukan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang asik bermain playstation, ada yang sibuk nyiapin menu berbuka buat yang lagi berpuasa, ada yang sibuk dengan setumpuk sumber pustaka buat skripsinya, ada yang sibuk nonton Netflix, dan ada juga yang masih menjalani kelas Kul-On alias Kuliah Online.

Tiba-tiba terdengar si bungsu, Jafar, menghela nafasnya. Sebenernya Jafar cuma habis scrolling galeri foto ponselnya, ngeliatin foto-foto liburan ke Suramadu beberapa tahun silam, bareng sama Juniar, tepat sebelum peristiwa penuh air mata alias nganter Jun ke airport untuk melepas pemuda, yang kala itu masih berusia 17 tahun, meninggalkan Indonesia untuk menempuh pendidikan dan petualangannya di Amerika.

‘Kangen ya,’ Mahanta menarik bangku dan duduk di samping Jafar sambil menatap layar ponsel Jafar.

‘Kira-kira sekarang kabar Jun gimana ya, bang?’ tanya Jafar sambil masih menatap foto-foto liburan terakhir mereka bersama Jun.

‘Dulu, terakhir kali kita facetime sama Jun, dia masih nangis-nangis karena nggak betah di sana. Inget nggak?’ Mahanta menopang dagunya. Saat itu, bak film, semua memori yang mereka lewati bersama Jun seperti berputar kembali dalam otak pemuda 183 cm itu.


Flashback—

Seperti biasa, hari itu Jafar pulang ke kontrakan berdua sama Jun. Belakangan, Jun sering banget nginep di kontrakan ARTEEZ. Jun bukan tipe yang banyak omong, tapi setiap kali dia nginep, semua anak ARTEEZ ngerasa kalau kehidupan mereka lebih berwarna. Mama dan papa Jun kenal deket juga sama anak-anak di kontrakan, terutama Rama, Krisna dan Jafar. Sebenernya, frekuensi Jun yang jadi lebih sering menginap di sana merupakan cara Jun untuk mengutarakan sesuatu sama kakak-kakak yang disayanginya itu. Jun mau pamit karena hasil ujian masuk nya ke University of Columbia sudah keluar dan Jun harus segera bertolak ke negeri paman sam dalam waktu dekat.

Malam itu, libur kenaikan kelas terakhir Jun di Jakarta.

‘Mas Krisna, Jun boleh ngobrol sama Mas nggak?’ pinta Jun. Saat itu, ruang tengah sudah kosong. Tinggal Krisna dan Rama.

‘Sama Rama juga?’ tanya Krisna setelah membalas permintaan Jun dengan anggukan.

Jun hanya mengangguk. Dari tadi, Jun hanya bisa menatap permukaan meja makan dengan gelisah. Rama dan Krisna cukup peka untuk menangkap kegelisahan adik bungsu satu ini.

‘Jun mau ngomong apa?’ Rama memulai pembicaraan.

‘Jun, ngomong aja. Mas Krisna sama Mas Rama bakal bantu kalo kita sanggup,’ Krisna berujar. Suaranya lembut dan menenangkan banget. ‘Nggak lagi berantem sama Jafar kan?’

Jun menggeleng menjawab pertanyaan terakhir dari Krisna. ‘Anu – ehm – gimana ya ngomongnya. Sebenernya, Jun mau pergi, jauh. Kemarin emailnya baru diterima, Jun lulus tes dan harus berangkat ke Amerika bulan depan. Tapi—’ Jun terdiam sesaat.

‘Tapi?’ Tanya Rama.

‘Jun nggak rela ninggalin kakak-kakak di sini. Rasanya baru sebentar kenal sama kalian. Baru aja mulai akrab, tapi harus pisah,’ pemuda 17 tahun itu menunduk.

‘Jun, kita emang bakal kepisah sama jarak dan waktu, tapi kita masih bisa komunikasi kok. Kalo kangen, ada skype atau whatsapp call buat ngobatin kangennya sementara.’ Krisna tersenyum dan menepuk bahu adik yang terpaut 3 tahun lebih muda darinya itu.

‘Gimana kalau kita semua liburan ke Surabaya, sekalian liat jembatan Suramadu buat perpisahan sama Jun,’ usul Rama. ‘Nanti kalo semua oke saya ambil cuti.’

‘Omongin liburannya aja dulu, ga usah bawa-bawa soal kuliahnya,’ usul Krisna.

Ternyata, tanpa mereka sadari, dari tadi di balik tembok ada yang sembunyi, awalnya oknum mencurigakan ini hanya ingin ambil minum di dapur. Tapi, waktu dengar pembicaraan serius antara tiga orang tadi, nggak jadi-lah mereka ngambil minum. Yang ada, dua sekawan alias Sanjaya dan Joseph malah ngumpet sambil nguping di balik tembok yang menyekat ruang makan dan ruang tengah itu.

‘San, Joseph,’ Rama yang peka banget sama suara grasak-grusuk di balik tembok langsung memanggil duo heboh itu untuk keluar dari persembunyian mereka.

‘Cuma mau ambil minum doang kok,’ Joseph ngeles.

‘Tapi seriusan kan, Dek? Bukan prank doang?’ Sanjaya menatap serius ke arah Jun, mencari mata sang adik.

Jun hanya mengangguk sambil menatap San. Kehabisan kata-kata. Sanjaya tersenyum dan memeluk si bungsu ini. Yang nggak disangka terjadi juga. Jun yang dari tadi menahan air matanya seketika menangis sesenggukan kayak anak kecil yang baru aja ditinggal orang tuanya. ‘Jun, kita nggak kemana. Kalau Jun kangen rumah nanti, tinggal call aja ya, dek,’ Sanjaya membelai punggung Jun untuk meredakan tangis pemuda itu.

‘Udah disimpen lama kayaknya,’ Krisna menepuk-nepuk bahu Jun lembut.

‘Jun, tidur aja. Jangan terlalu dipikirin. Suatu saat memang harus ada perpisahan, tapi kita pasti bertemu lagi kalo Tuhan mengizinkan,’ Joseph tersenyum dan ikut memeluk Sanjaya dan Juniar.

Keesokan paginya, Krisna keluar dari kamar dan menemukan pemandangan menggemaskan di ruang tengah. Joseph, Sanjaya dan Juniar udah umpel-umpelan di sofa, tidur dengan posisi saling peluk-pelukan. Krisna sampe ngucek-ngucek matanya lagi buat memastikan itu bukan halusinasi semata. Perlahan semua mulai berdatangan ke ruang tengah dengan muka bantal masing-masing dan terkejut melihat keuwuan yang terjadi di ruang tengah.

‘Kok jadi pada tidur di sofa?’ tanya Kenzie sembari mengusap matanya dengan punggung tangannya.

‘Semalem…’ Hampir aja Rama membeberkan apa yang seharusnya jadi bagiannya Jun untuk ngasih tau semuanya. Untung terhenti setelah Krisna mencubit perut Rama. ‘ADUH! KRISNA KENAPA SIH!?’ Rama mengaduh, dihadiahi cengiran jahil dan gelengan kepala dari pemilik nama Krisna Haridra Bhamakerto tersebut.

‘Semalem ada apa?’ tanya Jafar.

‘Nanti biar Jun yang cerita sendiri. Kasian semalem mikir terus,’ kekeh Krisna sambil mengisyaratkan agar semuanya menunggu 3 beruang kecil itu di ruang makan.

Setelah semua bangun dan menikmati sarapan, Krisna memberi isyarat supaya Jun menyampaikan berita tentang kepindahannya dan liburan terakhirnya bersama teman-temannya. Sanjaya menangkap tatapan Jun yang duduk di seberangnya dan mengangguk, memberikan dukungan moral pada pemilik nama Juniar Angkasa Limantara itu.

‘Kak Jafar, Kakak- kakak semua,’ Jun mengumpulkan seluruh keberaniannya. ‘Jun mau pamit. Aduh, gimana ya ngomongnya,’ Jun menggaruk tengkuknya yang nggak gatal.

‘Mau pamit kemana?’ tanya Jovan bingung.

‘Emang adek mau kemana?’ Kenzie mengernyitkan keningnya. Bingung.

‘Anu—jun mau pamit, Agustus ini, Jun berangkat ke Amerika. Mau kuliah di sana. Rencananya, Jun mau ajak kakak-kakak semua jalan bareng ke Suramadu buat trip terakhir sebelum berangkat ke Amrik,’ akhirnya Jun mengeluarkan seluruh kalimat yang disimpannya dengan rapi selama menginap di kontrakan ARTEEZ seminggu terakhir ini.

Singkat cerita, minggu berikutnya, semua bertolak ke Surabaya. Selama seminggu, mereka semua menikmati hari-hari terakhir mereka sebelum berpisah dengan Juniar, adik bungsu yang walau Cuma bertemu sebentar, tapi punya banyak cerita bersama dengan abang-abangnya. Seminggu berlalu dengan cepat. Minggu berikutnya dihabiskan dengan berbagai persiapan sebelum pemuda 17 tahun itu sungguh-sungguh bertolak meninggalkan negeri kelahirannya untuk menempuh Pendidikan ke negeri paman sam.

Airport, Hari keberangkatan Jun ke Amerika.

‘Jun, hati-hati ya,’ Jafar yang biasanya nggak suka dengan kontak fisik memeluk adik kelas kesayangannya itu.

‘Kalau udah transit video call aja, barang sebentar,’ Rama mewanti-wanti, disambut anggukan dari yang diwanti-wanti.

‘Kak San, Kak Joseph, Adek berangkat ya,’ pamit Jun sambil mengulurkan tangannya untuk melakukan fist bump. Bukannya dibalas dengan fist bump, Sanjaya dan Joseph menarik tangan Juniar dan memeluk adik bungsu mereka.

‘Kabarin ya, dek,’ Krisna terkekeh. ‘Dek, inget ini ya, selama kita ada di bawah langit yang sama, arungilah angkasamu dan kembalilah mendarat di rumahmu di saat yang tepat.’

Ya, dengan ini, kesembilan orang ini terpisah oleh jarak dan waktu. Walau demikian, walau terkadang perbedaan waktu memisahkan mereka, delapan-delapannya selalu ada waktu tidur mereka terganggu hanya untuk mendengarkan tangisan rindu si piyik kecil yang pergi ke negeri orang.

Flashback end.—


saved: 16/04/2021 09:22 word Count: 1.389 words

Celebrate A short Story — Cast: Rama Parikersit Siregar (creds to @ateezlokalan ) Krisna Haridra Bhamakerto (creds to @ateezlokalan ) Gita Lusia Mahardika (creds to @lokal_dc)


1 April 2021, suatu siang cerah. Kayaknya semua lupa hari ini adalah hari dimana menipu atau berbohong dihalalkan. Rama sedang asik mengerjakan setumpuk pr yang diberikan kantornya di sebuah cafè baru yang terletak di dekat komplek perumahan tempat kontrakan yang ia tinggali bersama dengan anak-anak ARTEEZ berada. Suasana cafè yang sangat homey dan dekorasinya yang tak terlalu ramai membuat banyak mahasiswa dari berbagai tingkat betah berlama-lama nugas ataupun sekedar ngobrol di tempat itu. Sayangnya, semenjak pandemi jumlah pengunjung yang diizinkan masuk dan jam operasional.

Sebenernya seisi kontrakan udah heboh karena ini sudah tanggal 1. Tapi alih-alih ingat perihal hari ulang tahunnya, Rama justru melupakan pergantian usianya lantaran setumpuk tugas beserta revisian laporan yang sudah menumpuk dan membuatnya melupakan hari jadinya itu. Rama sih biasa-biasa saja perihal ulang tahunnya. Tapi coba kita lirik suasana kontrakan saat itu. Krisna yang tadi lagi anteng baca buku di ruang makan tiba-tiba dihampiri si kembar dempet, Sanjaya dan Joseph.

‘Bang,’ panggil Joseph. Yang beneran dicuekin sama pemilik nama Krisna itu.

‘Bang Krisna,’ kali ini Sanjaya buka mulut sambil nyentil pelan buku yang ada di tangan Krisna, membuat si pemilik nama mengalihkan pandangan dari paragraf seru yang tengah dibacanya ke kedua orang di hadapannya.

‘Apaan sih?’ Krisna menyekat novel itu dengan selembar kertas post it yang ditemukannya di halaman belakang buku yang tengah dibacanya itu.

‘Ini udah April loh,’ Joseph melempar kode pertama.

‘Iya? Terus kenapa kalo udah April?’ tanya Krisna bingung sambil melirik kalender yang ada di ponselnya.

‘Tanggal 3 kan Bang Rama ultah,’ timpal Sanjaya sambil ngasih unjuk kalender meja yang udah dilingkar-lingkarin tanggal ultah penghuni kontrakan mereka.

‘Oh iya, anjir. Belom beli kue,’ Krisna menaruh novelnya di atas meja. ‘Mahanta, Kenzie, Jovan, Jafar, sini dulu deh. Kok bisa pada lupa semua sih?’ tanya Rama sambil setengah berteriak untuk mengumpulkan personil ARTEEZ yang tengah tersebar di seluruh penjuru rumah.

‘Kue mah bisa entaran, Bang. Yang penting entar pas ultah dia kita mau ngapain?’ Jovan mengernyitkan keningnya.

‘Anyways, kalo soal kue beres, gue udah pesen ke tempat langganan gue. Bisa diambil besok. Cuma, simpennya di mana? Kulkas penuh, Bang Rama baru kelar isi lemari es kemarenan.’ Timpal Kenzie sambil membuka kulkas dapur. Kulkasnya beneran penuh ga ada tempat lagi buat simpen kue.

‘Nitip di café depan komplek aja,’ usul si bungsu, Jafar.

Krisna mengetuk dagunya dengan jemarinya, udah kayak bapak-bapak aja. Kemudian, setelah mikir beberapa lama, sang pemuda 172 cm itu membuka mulutnya, ‘Ya udah, besok gue ambil kuenya, gue titipin sama café sana. Cuma pastiin lagi besok Rama bakal sibuk di kampus atau di rumah. Dia suka nongkrong di café itu soalnya.’

Siang itu, Rama lagi-lagi asik dengan laptop dan tumpukan materi kerjaannya. Entah sudah berapa gelas es coklat yang disesapnya sedari pagi tadi. Barista yang bertugas kala itu saja sampai geleng-geleng kepala karena kakak ganteng yang satu itu betah banget bertandang di bangku di pojok café, dekat jendela besar. Sudut estetik yang sering dipakai orang untuk berfoto atau ngonten di sosmed. Rama juga kayaknya nggak nyadar kalau sedari tadi Mbak Barista itu mengamatinya dari konter. Sesekali Rama memeriksa ponselnya kalau-kalau ada panggilan atau pesan dari teman-temannya maupun dari kantornya. Biasanya sih pada nitip kebutuhan bulanan buat di kontrakan.

Rama duduk di depan laptopnya sembari menopang dagunya dengan tangannya, sekali-kali ekor matanya melirik ke mbak barista di konter kasir. Rama nampak mengenali sosok barista itu, kayaknya ia pernah bertemu dengan gadis itu entah dimana. Tapi, ya sudah lah, biar saja lalu. Rama kemudian kembali berkutat dengan kerjaan yang tak kunjung selesai itu.

Pasalnya, besok tanggal 2 dan Rama harus menjalankan ibadah Jumat Agung di Gereja, mama sudah mewanti-wanti Rama supaya pemuda 178cm ini tak lupa beribadah, mendekatkan diri pada Tuhan. Dan sebagai umat yang taat beragama, Rama nggak ingin ibadahnya terganggu lantaran keinget sama tugas-tugas nya yang menumpuk itu. Jadi ya, dengan terpaksa, Rama harus menyelesaikan semuanya di jadwal WFH tanggal 1 April itu.

Kalau dipikir-pikir, semakin kesini, semakin sering WFH, Rama jadi jarang banget bisa ngobrol sama Dilara. Waktu bareng-bareng mereka berkurang banget semenjak WFH-WFH ini. Padahal ya, dua-duanya juga WFH, tapi disibukkan dengan segudang take-home assignments yang nggak pernah berakhir. Akhirnya, yang dikorbankan ya WaKunCar alias Waktu Kunjungan Pacar. yang semula mungkin cukup sering, jadi cuma seminggu dua kali, bahkan sekali, setiap minggu, alias ibadah bareng. Ibadah barengnya bukan cuma berdua, tapi sama Kak Sarah.

Di mata Rama, Sarah memang sosok kakak perempuan dan hanya sebatas itu. Tapi buat Dilara, kedekatan itu membuat gadis itu gelisah, takut sosok Rama yang dicintainya tak lagi menganggapnya sebagai prioritasnya. Dilara hanya takut Rama diambil oleh orang lain.


2 April 2021,

Usai ibadah Jumat Agung di Gereja bersama Rama dan Sarah tadi, setelah Dilara, Sarah dan Rama sudah di rumah, Dilara melayangkan chat singkat pada sang kekasih. [https://twitter.com/ateezlokalan/status/1377964757127294982?s=20]. Rama masih sayang dan nggak mau putus sama Dilara auto panik dan segera berkemas untuk nyusulin sang kekasih ke Bandung. Pokoknya, dalam otak Rama, Ia hanya ingin mempertahankan hubungannya dengan kekasih yang amat disayanginya itu. Tak peduli waktu itu sudah tengah malam. Rama tetap berangkat.

Tindakan Rama yang serba terburu-buru dan spontan itu membuat seisi kontrakan ber-delapan itu auto panik, nggak biasanya Rama begini. Keliatan banget adek-adek kesayangan Rama panik melihat abang yang biasanya kalem ini jadi kayak orang kebakaran jenggot seperti sekarang. [https://twitter.com/ateezlokalan/status/1377972247923593216?s=20]. melihat Rama panik, semuanya jadi panik menghadang Rama. mereka takut, Rama hanya melakukan itu karena panik semata. insiden ini hampir saja menggagalkan rencana teman-teman Rama untuk memberinya kejutan di hari ulang tahunnya.


[flashback ke tadi sore waktu Rama ke Gereja]

/kling/

suara bell yang terkait di engsel pintu cafè membuat kepala Gita yang tengah menunduk, menatap layar benda pipih yang sedari tadi mengalihkan perhatiannya, tiba-tiba terangkat.

'Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?' Gita menyapa pemuda berambut pirang yang baru masuk tadi dengan senyumnya.

'Sore, mbak. Mbak tau Rama kan?' tanya pemuda itu.

'Rama?' Gita mengernyitkan dahinya.

'Itu loh, yang tinggi, suka bawa laptop sama tumpukan buku ke sini,' si pirang menjelaskan lagi.

'Oh iya, kenapa?' tanya Gita.

'Ya Allah, Mbak cantik, gue buru-buru nih. gini, besok tuh Rama ulang tahun, dan kita mau surprise in dia malem ini. cuma ini kan kue eskrim, gue takut meleleh dan ga bisa disimpen di rumah karena kulkas kami penuh,' jelas Krisna. 'Titip di sini dulu ya, beberapa jam aja. Gue harus buru-buru balik nih. emergency.'

'Eh-Oh, boleh, sini aja, mas,' balas Gita sambil mengulurkan tangannya.

ada kali 5 menit Krisna bengong sambil menatap wajah Gita, mengagumi kecantikan sang dara.

'Mas, katanya mau nitip kuenya?' Gita melambaikan tangannya di depan wajah Krisna.

'Oh iya, ini,' Krisna memberikan bungkusan kue itu pada Gita. 'Gue minta nomor telfon lu ya, supaya bisa tektokan waktu sama lu entar buat ajak yang ultah ke sini,' Krisna tersenyum sambil menyerahkan ponselnya pada Gita.

'minta tolong dibukain buat kita pas midnight ya mbak, please,' ujar Krisna lagi setelah ia menerima ponselnya kembali dari tangan Gita.

'Nanti hubungi saya lagi aja, mas. Saya Gita,' Gita akhirnya membuka mulutnya untuk memperkenalkan dirinya setelah rentetan kalimat tanpa henti dari Krisna yang menurutnya menggemaskan sekali.

'Makasih, Mbak Gita, nanti saya hubungin lagi,' Krisna mengangguk dan melambaikan tangannya pada gita. Senyum terpatri di wajahnya, senyum yang membuat Gita terbengong-bengong. Walaupun Krisna tak terlalu jangkung seperti Rama, Mahanta atau Jovan, tapi satu yang perlu semua ketahui, senyum Krisna mampu mengalihkan duniamu. Contohnya siang itu, senyumnya berhasil mengalihkan dunia Gita, karyawan Julia Coffee Cafè yang baru saja membantunya menyimpan cake eskrim untuk Rama.

[Flashback Ends]


Mari kembali lagi ke kondisi kegaduhan di kontrakan tanggal 2, tengah malam...

Sementara semua masih sibuk mencegah Rama untuk bertolak dari kontrakan menyusul Dilara ke Bandung untuk menyelesaikan segala kesalah pahaman yang membuat dirinya gundah gulana itu, Krisna sibuk bertukar pesan dengan Gita, mengatur segala sesuatunya supaya nampak rapi. beruntung Gita membawa bala bantuan beberapa staff cafè untuk membantunya mendekor cafe malam itu.

'Bang, jangan panik. ini udah jam berapa?' terdengar suara Jovan yang masih menghadang pagar dengan badan tinggi besarnya.

'Berangkat besok aja, Bang. Dia ga akan kemana kalo emang dia beneran mau menyelesaikan masalah ini sama lu,' Mahanta ikut menghadang.

'Mending sekarang abang tenangin diri, duduk dulu, gue bikinin teh anget,' kali ini Kenzie merangkul Rama sambil memberikan sinyal buat Joseph dan Sanjaya buat mengambil tas dari tangan Rama dan membawanya ke dalam rumah.

'Ram, ikut gue sebentar,' Krisna angkat bicara sambil mengajak Rama untuk masuk ke mobilnya. setelah Rama dan dirinya masuk ke mobil, ia mengirim pesan pada Jovan untuk berangkat bersama teman-temannya menyusul menuju cafe untuk memberi kejutan pada oknum Rama ini.

'Ram, sorry gue juga ga bakal kasih lo jalan sekarang ke Bandung. apa lagi dengan keadaan lo yang kalap dan kalut kayak gini,' Krisna membuka pembicaraan di mobil menuju ke cafe.

'Tapi gue harus selesaiin masalah gue sama Dilara, Kris. Harus sekarang. Gue ga mau putus sama dia,' Ujar Rama lirih.

'Iya, tapi dalam keadaan kayak gini, gue takut lu ga fokus nyetir dan malah nyelakain diri lo sendiri,' tegas Krisna lagi. 'Maaf.'

Rama hanya menunduk sambil memainkan ponselnya. jemarinya mengetuk layar ponselnya. 'Kris, maafin gue, gue panik,' Rama berujar sambil mengusap wajahnya dengan tangannya.

'Pake masker lu, kita turun di sini,' Krisna merogoh laci dasbor nya dan menarik selembar masker baru untuknya dan satu lagi untuk Rama.

'Loh, ini kan cafe tempat gue biasa nongkrong. kita mau ngapain? lagian ini kan udah tutup,' kilah Rama. Tanpa disadarinya, semua teman-temannya beserta beberapa crew cafe sudah masuk ke dalam cafe dari pintu belakang.

Dilara, sang gadis yang menjadi tambatan hati Rama pun ikut meramaikan acara surprise kala itu. Nyatanya, Dilara nggak benar-benar marah. semua ini sengaja disusun oleh Sanjaya dan Joseph buat bumbu surprise ulang tahun Rama kali ini aja, supaya seru.

Sekeliling cafe masih gelap, semua sudah bersembunyi di pos masing-masing. Dilara di dapur, masih mempersiapkan buket bunga dan kue ulang tahun bersama dengan Gita dan beberapa Crew cafe yang menyiapkan beberapa jenis minuman. Duo ribut, Sanjaya dan Joseph sudah ada di pojok tempat duduk langganan Rama dengan beberapa party popper di tangan mereka, di sisi lain ada duo jangkung bersembunyi dengan party popper di tangan mereka.

'Ikut gue, Ram,' Krisna mengajak Rama masuk ke cafe. bersama dengan bunyi /kling/ yang dikeluarkan bel di pintu masuk cafe, cafe yang semula gelap itu seketika itu berubah menjadi terang, confetti berserakan bersamaan dengan teriakan dari Jovan, Joseph, Mahanta, Kenzie, Jafar dan Sanjaya, 'HAPPY BIRTHDAY ABANG!' semuanya berseru serentak. Rama masih terpaku, bingung menatap semua kejutan ini. belum lagi matanya terbelalak lebar ketika ia melihat sosok Dilara, yang katanya ada di Bandung, mendorong trolley berisi kue ulang tahunnya dan sebuah buket bunga carnation bernuansa pink.

Seketika itu, Rama menutup wajahnya dengan kedua tangannya. bahunya bergerak naik turun. Tangisnya pecah. Pasalnya, ia sudah berpikir bahwa Dilara bener-bener ngajak putus. ternyata, semua ini hanya prank. di satu sisi, Rama lega di sisi lain, dia takut kehilangan Dilara.

'Ram, maafin aku,' Dilara merengkuh Rama dalam pelukannya.

'Ra, aku kira kamu beneran mau putus sama aku. aku takut kehilangan kamu,' Rama memeluk tubuh mungil Dilara erat.

'Mbak Gita, makasih udah minjemin cafenya. entar gue sama anak2 pasti bantuk beresin,' Krisna berujar sambil berdiri di samping Gita, menikmati indahnya rekonsiliasi antara Dilara dan Rama.

'Sama-sama, Mas. sering-sering main ke sini ya,' ujar Gita malu-malu.

'Kayaknya gue bakal sering ke sini kalo lu shift tiap siang, mbak,' Ungkap Krisna sambil melempar kedipan mautnya untuk Gita.

'Tuhkan, pasti bisa selesai tanpa harus langsung pergi ke Bandung,' tukas Joseph.

'Makasih semua,' Rama mengusap wajahnya dan tersenyum.


saved: April 03,2021

#3. Perkara Lemon Madu.

21/04/2015, pulang sekolah

Tiana nampak tengah meregangkan tubuhnya, bersiap mau berlari mengelilingi lapangan atletik yang mengelilingi lapang futsal tempat Tim Futsal yang dipimpin Bintang berlatih. Dari kejauhan, ia bisa melihat sosok Bintang yang berlari kecil mendekat kepadanya.

Ya, kalau kalian masih ingat post-it di loker pagi tadi, keduanya memang bertukar janji mau bertemu sepulang sekolah di lapangan tempat pertama kali Bintang menaruh pandangnya pada Tiana. Rambut Tiana nampak terangkat rapih dalam ikatan ekor-kuda, sementara sang wira nampak mengenakan sebuah bandana berbahan handuk untuk menghalau poninya dari mata dan dahinya.

'Mau kasih apa, Na?' tanya Bintang to the point sembari mendekat ke Tiana.

Tiana hanya menyodorkan sebuah tas tahan dingin yang didalamnya berisi sebotol air madu dingin dan sekotak manisan lemon madu. 'Kemarin mama buat lemon madu sama air madu, thought you'll need it,' Ujar gadis 16 tahun itu.

'Wah, sampein nyokap lo makasih ya. I'll eat this well,' senyum Bintang merekah. Sementara itu, 7 pasang mata lainnya menatap kedua sejoli itu dengan senyum-senyum mencurigakan. Biasa lah, habis ini, Bintang pasti bakal diserang pertanyaan oleh teman-temannya itu.

'Latihan yang bener,' Tiana menepuk bahu lelaki itu.

'Wait for me,' Bintang menyodorkan kepalan tangannya menunggu sang gadis untuk membalas /fist bump/ darinya.

'Jangan tinggalin gue,' pinta Tiana sambil membalas /fist bump/ dari sang adam. Sebenarnya ini mengacu pada ajakan Bintang untuk balik bareng usai sesi olahraga yang mereka lakukan sore itu. Tapi, wajah pemuda 16 tahun itu tiba-tiba memerah mendapati senyum manis lawan bicaranya.

Bintang hanya menggeleng pelan. 'Nggak ditinggal, tunggu ya?’ Bintang tersenyum sambil melambaikan tangan dan berlari kecil ke arah teman-temannya. ———

‘Itu siapa, tang?’ Tanya Shandika sembari tersenyum jahil diikuti kekehan jahil Yori.

‘Cantik, kayak kenal tapi,’ timpal Yesaya.

‘Anak Atletik?’ Yulio ikutan nimbrung.

‘Udah, udah latihan,’ Bintang mengakhiri segala keingin tahuan teman-teman ya.

‘Idih! Buzzkill!!’ Cibir Yori yang masih pemanasan berpasangan sama Shandika.

Setiadi masih menatap gadis yang tengah berlari di lapangan atletik. Ia masih penasaran, soalnya wajahnya tuh familiar banget. Kayak pernah lihat dimana gitu.

“Made, ayo buruan!” Bintang memanggil dari tengah lapangan.

“Kok kayak kenal deh sama cewek itu,” gumam Setiadi sambil berlari ke tengah lapangan.

——

Usai latihan futsal, Bintang langsung mandi di ruang ganti pria dan bergegas menghampiri Tiana yang duduk di pinggir lapangan sepak bola. Yori mengekor dari belakang Bintang, penasaran sama sosok gadis berambut sebahu yang membuat mata seorang Made Setiadi meleng sepanjang latihan tadi.

‘Ana?!” Yori terkaget-kaget mendapati fakta bahwa Tiana lah Gadis yang dari tadi berlari mengelilingi lapangan.

‘Yori?’ Tiana menautkan alisnya bingung.

‘Maaf,’ Yori menunduk.

‘Maaf kenapa?’ Tanya Tiana sambil menatap Yori dengan tatapan bingung.

‘Gue orang terdekat lu, tapi gue seakan gak peduli sama lo,’ Yori tertunduk.

‘Gue nggak apa-apa, Ri. Gue nggak tega ngorbanin temennya Mas Tyo cuma supaya gue terhindar dari mereka. Toh lama-lama gue terbiasa, Ri,’ Tiana menepuk bahu Yori dan tersenyum.

Sebenarnya dibalik senyum itu, Yori menemukan sesuatu yang nggak bisa ia jelaskan. Pokoknya, setiap kali ia melihat senyum Tiana itu, hatinya seakan terasa seperti teriris.

‘Tapi kan seenggaknya kalo gue ada di sisi lu, gue nggak harus ngeliat mereka menciptakan kebohongan ini buat nyiksa lo,’ kilah Yori. ‘Kalo sekarang gue mau ngelindungin lo, sama bintang dan temen-temen gue yang lain, apa ini terlambat?’ Lanjut pemuda 17 tahun itu.

‘Nggak terlambat, kok,’ Tiana tersenyum manis sambil menatap Yori dan Bintang.

Hari itu Tiana hanya datang mengenakan kaos olahraga dan sepasang celana training beserta sepasang sepatu keds untuk latihan lari. Dan Bintang tau kalau teman-temannya akan bertanya soal bekas luka di tangan dara manis itu. Jadi, sebelum semuanya melihat, Bintang langsung menyampirkan jaket bisbol kebanggannya di bahu sang gadis.

‘Dipake yang bener, Na. Dingin.’ Ungkap Bintang yang diikuti dengan anggukan kepala gadis yang masih nampak kaget dengan spontanitas dari pemuda yang sekarang berdiri di sampingnya.

‘So, Capt. What’s the dinner tonight?’ Jordan menimpali setelah semua berkerumun mengelilingi Yori, Bintang dan Tiana.

‘Kenalin ini Tiana,’ Yori mengambil inisiatif untuk memperkenalkan adik dari sahabatnya itu.

‘Tiana?’ Yesaya mengerutkan keningnya. Nama itu seperti tak asing di telinganya. ‘Gue Yesaya. Panggil aja Yesa,’ tukasnya.

‘Gue Made Setiadi, Adi aja panggilnya,’ Setiadi memperkenalkan dirinya.

‘Gue Michael,’ Si jangkung bermata sipit itu memperkenalkan diri dengan cengiran yang membuat kedua matanya hilang.

‘Shandika, panggil aja San,’ Ujar Shandika sambil menunjukkan senyum yang membuat lesung pipit terlukis di kedua pipinya.

'Yulio,' Si jangkung berwajah blasteran itu menampilkan senyumnya yang paling manis.Tiana mengenali sosok Yulio, soalnya Yulio ini selalu disebut-sebut sebagai serbuk berlian ataupun anak sultan se-antero SMA KQ.

[Orangtua Yulio tuh donatur dan pemegang saham terbesar yayasan pendidikan tempat SMA KQ bernaung. Sekolah yang saat ini menaungi tim atletik dan tim futsal tempat kesembilan orang ini bergabung juga merupakan sekolah yang terkenal sebagai sekolah elit dengan gaya hidup paling mewah di seluruh Jakarta. Hampir 90% penghuni sekolah itu merupakan serbuk berlian, alias orang kaya yang hartanya nggak akan habis 7 turunan. Namun, Itu nggak berlaku untuk Tyo dan Tiana yang masuk ke sekolah itu dengan jalur beasiswa karena dianugerahi bakat dalam bidang olahraga dan otak yang encer.]

'𝑺𝒆𝒓𝒃𝒖𝒌 𝒃𝒆𝒓𝒍𝒊𝒂𝒏 𝒎𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒅𝒂 𝒚𝒂, 𝒀𝒐𝒓,' bisik Tiana sembari menyenggol lengan Yori yang langsung ditanggapi dengan kekehan kecil dari sang pemilik nama panggilan itu.

'Jordan, tapi bukan anak NBA. anak futsal,' celetuk Jordan sambil menepuk dadanya. 'Kak Tiana tenang aja, gini-gini gue paling kuat diantara abang-abang ini,' Jordan membusungkan dadanya dengan sombong.

'Sebelom balik, gimana kalo kita ngobrol dulu sambil makan malem. gue lapeer,'usul Yulio yang langsung disambut anggukan dari semua orang termasuk Tiana.


𝑴𝒆𝒏𝒚𝒆𝒓𝒂𝒉 Part 1


Younghoon's A To Boyz inspired story


Kamu selalu melihat dia sebagai sosok yang sempurna. Wajah tampan, otak yang cemerlang, ranking 1 parallel setiap tahun. Keluarga kaya, terpandang, siswa unggulan, pokoknya semua orang ingin jadi seperti Younghoon. Sayang, mereka nggak tahu apa yang anak muda ini alami di balik semua yang nampak di kasat mata khalayak ramai. Beban yang berat terpatri di pundaknya. Ayahnya meletakkan beban itu sedari ia duduk di bangku sekolah dasar. Tak jarang Younghoon belajar hingga larut, hingga tubuhnya sendiri menolak untuk terus bertahan.

'𝑨𝒌𝒖 𝑳𝒆𝒍𝒂𝒉' itu kalimat yang selalu tertahan di kerongkongannya ketika Ayahnya menuntut dirinya untuk lebih berprestasi lagi.

'𝑨𝒌𝒖 𝒊𝒏𝒈𝒊𝒏 𝒔𝒆𝒑𝒆𝒓𝒕𝒊 𝒕𝒆𝒎𝒂𝒏-𝒕𝒆𝒎𝒂𝒏𝒌𝒖 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒍𝒂𝒊𝒏. 𝒎𝒆𝒏𝒊𝒌𝒎𝒂𝒕𝒊 𝒎𝒂𝒔𝒂 𝒎𝒖𝒅𝒂𝒌𝒖 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒎𝒂𝒌𝒔𝒊𝒎𝒂𝒍,' Itu hanya bisa terucap dalam benaknya, dalam diamnya, di air mukanya.

Yang semua orang lihat, Younghoon adalah sosok yang sangat sempurna. Tubuh tinggi, Bahu yang bidang, Kulit yang putih, rambut hitam legam, senyum menawan. jauh di dalam lubuk hatinya, semua itu hanya sesuatu yang kosong, tidak ada artinya, hanya pemuas nafsu ayahnya. Ia lelah, beban yang diembannya terlalu berat. Ia selalu nampak seperti Kuda pacuan yang bekerja keras hanya untuk pemuas nafsu orang lain yang bertaruh diatas namanya.

Tak ada yang mengetahui hal itu. Yang bisa merasakan apa yang bercokol dalam hati pemuda tampan itu hanya Yebin, teman sebangku Younghoon. yang selalu berada di sebelah pemuda 183 cm itu dalam diam, seakan paham, pemuda itu hanya butuh orang yang paham perasaannya dalam diam.

𝙨𝙖𝙧𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙙𝙪𝙡𝙪. 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙗𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙩𝙚𝙣𝙖𝙜𝙖 𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙗𝙚𝙧𝙟𝙪𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙞𝙣𝙞.

Yebin menggeser sekotak susu coklat dan sandwich telur yang dibelinya di mini market dekat sekolah dalam perjalanannya hari itu. Rasanya ada yang aneh hari itu. Hari itu terbilang sangat cerah dan udara cukup lembab dan panas, hari-hari pertama musim panas sudah mulai datang. Semua masuk sekolah dengan seragam musim panas mereka. Tapi Yebin tak menutup seragamnya dengan sebuah cardigan berwarna lilac.

Younghoon menatap gadis yang duduk di sampingnya sebentar sebelum akhirnya menggerakkan tangannya untuk meraih tangan Yebin dan menarik pelan lengan cardigan dara berambut sebahu itu dan menampakkan bekas-bekas luka baik lama dan baru di pergelangan dan sekujur lengannya. Matanya menatap lengan dan mata Yebin bergantian. Yebin yang merasa seperti seakan-akan Younghoon menangkapnya mencuri buah Cherry dari pohon orang.

Younghoon menunduk dan nampak menggoreskan pensilnya di atas selembar post it yang kemudian ditempelnya di punggung tangan Yebin.

𝘞𝘩𝘢𝘵 𝘩𝘢𝘱𝘱𝘦𝘯𝘦𝘥? 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘢𝘮𝘶?

Yebin membaca sembari menata meja nya karena sebentar lagi kelas akan dimulai. setelah itu ia menempelkan post it di buku Younghoon.

𝙄'𝙢 𝙤𝙠𝙖𝙮. 𝙖𝙧𝙚 𝙮𝙤𝙪 𝙤𝙠𝙖𝙮?

tes.. tes... tes...

sembari membaca tulisan Yebin, cairan merah kental, darah segar turun menetes membasahi post-it dari gadis itu. Yebin dengan sigap melakukan prosedur pertolongan pertama terhadap mimisan. Younghoon lagi-lagi memaksakan dirinya untuk belajar dan melupakan bahwa dirinya bukan robot yang tak akan sakit kalau tak beristirahat.

'Hoon, udah ya. kamu butuh istirahat,' Yebin menatap teman sebangkunya itu dengan tatapan khawatir. 'kalo gini terus kasian badanmu.'

'I'm gonna die anyways, Yeb,' Younghoon menghela nafasnya sembari melepas gulungan tisu yang menyumbat hidungnya dan membuangnya di tong sampah. 'I have everything yet i felt so empty inside. gue mau nyerah aja, Yeb,' Younghoon mengacak rambutnya penuh frustrasi.

'I can never surpass your intelligence, hoon. I'll have to be happy being the second best,' ujar gadis manis berambut sebahu itu sambil menatap pria tampan di sampingnya dengan tatapan nanar.

Sesungguhnya, menurut Younghoon, Yebin bisa melampauinya dengan mudah. Namun, Yebin memperlambat langkahnya agar tak lagi ada suara pukulan atau tamparan dari balik tembok rumahnya yang bisa dibilang cukup menempel dengan kediaman keluarga Kim.


[Time skip to: 3 bulan setelah kejadian di atas]


Tiga bulan berlalu dengan begitu cepat. Younghoon dan Yebin semakin dekat dan akrab. keduanya nampak sering terlihat menghabiskan waktu belajar bersama di kelas maupun di perpustakaan. Tak jarang pula kedua insan ini terlihat terlambat keluar dari sekolah karena saling mengajari satu sama lain. Younghoon yang lebih cepat menyerap dalam matematika dan ilmu sosial akan mengajari Yebin, begitu pula sebaliknya, Yebin akan mengajari Younghoon materi yang tak dipahami pemuda itu dalam bidang sains dan Bahasa yang lebih dikuasainya.

Ujian akhir semester sudah semakin mendekat. Keduanya jadi semakin ambisius dalam belajar. Tak jarang keduanya saling menguatkan satu sama lain. Kalau Yebin ketiduran saat mereka belajar, Younghoon sering menggambar bunga matahari di pergelangan tangan kanan sang dara. sementara itu di pergelangan tangan kiri si manis itu, pemuda berkulit putih itu kerap kali menggambar pelangi. sebagai pengingat kalau masih ada harapan untuk gadis itu. Sementara itu, tak jarang terlihat Yebin membawakan sarapan atau makan siang untuk Younghoon. Keduanya saling menyembuhkan luka masing-masing.

Dalam hati pemuda yang nyaris menginjak usia 18 itu, ia bersyukur ada sosok Yebin yang membantunya perlahan sembuh dari luka hati terhadap ayahnya yang terlalu menuntut. pemuda jangkung itu menetapkan di hatinya. usai ujian nanti, setelah semuanya selesai, ia akan menyatakan perasaannya pada sang gadis. Pokoknya, Younghoon nggak mau keduluan sama orang lain. sudah berencana untuk menjadikan Yebin kekasihnya.

'Yebin, nanti kalau ujian udah selesai, kita ketemuan di Han river ya?' pinta Younghoon sambil menoleh ke arah Yebin yang tengah membuatkan ringkasan materi bahasa dan sastra Korea untuk pemuda bermarga Kim itu.

'Boleh,' Yebin mengangguk. Wajahnya nampak letih dan pucat kala itu.

'Yeb, ada apa?' Younghoon menatap Yebin penuh khawatir.

'Ngga apa, Hoon. Gue capek. Istirahat dulu ya,' Yebin tersenyum lemah sambil menyandarkan kepalanya di bahu Younghoon yang bidang.

Beberapa saat mereka lalui dalam diam, Younghoon, yang bahunya dijadikan sandaran, hanya duduk sambil merangkul pundak Yebin dan mengusap-usap pundak Yebin. Tanpa terasa, gadis yang terpaut sebulan lebih muda dari Younghoon itu meneteskan air matanya. rasanya sudah lama dia tak merasakan kenyamanan dan kebebasan untuk menangis seperti saat Younghoon merangkulkan tangannya di bahu dara bermata kecoklatan itu.

Younghoon yang merasa ada benda asing membasahi kemejanya pun tak menghentikan aktivitas tangannya yang masih merangkul sang dara. Buat Younghoon, sosok Yebin sangat kuat, ia selalu melihat ketegaran Yebin. Yebin yang sebenarnya bisa mengalahkannya menduduki ranking 1 parallel angkatan mereka, sengaja betah duduk di ranking 2 lantaran ia pernah memergoki ayah Younghoon yang tega menyiksa anaknya sendiri karena ia menuntut Younghoon untuk jadi yang terbaik.

Di lain sisi, Younghoon juga tak jarang melihat kedua orang tua Yebin menuntut lebih terhadap putri bungsunya itu. Tak jarang Yebin dibandingkan dengan Yeseul dan Yejun, kedua kakaknya yang berhasil masuk universitas S dengan nilai cemerlang.

'Hoon, maaf ya,' Yebin mengusap airmatanya.

'Nggak papa, Yeb. Thanks udah mau bersandar di bahuku waktu kamu butuh tempat bersandar,' sebuah senyum tulus terukir di bibir merah jambu pemuda 17 tahun itu.

'Hoon,' yebin memanggil pemuda itu lagi.

'Ya?' si jangkung berambut hitam legam itu menatap gadis di hadapannya sambil menangkup pipi sang puan dengan kedua tangannya dan membersihkan sisa air mata di pipi yang bersemu kemerahan itu.

'Sorry. bajumu jadi basah,' Yebin menatap bagian bahu kemeja seragam Younghoon yang basah karena airmatanya.

'Nggak apa, yang penting kita lewatin semuanya sama-sama ya,' mata coklat tua milik pemuda Kim itu menatap gadis di hadapannya lekat-lekat. 'Jangan sakitin dirimu lagi,' Younghoon menarik lengan Yebin dan menggenggamnya.

Hangatnya telapak tangan Younghoon mengalir ke seluruh tubuh Yebin, membuat pipi gadis itu bersemu merah.

'lucu sekali,' begitu pikir Younghoon saat itu.

Keduanya merapikan barang-barang mereka dan segera bersiap untuk pulang ke rumah mereka karena hari sudah cukup larut. Sepanjang perjalanan ke rumah mereka dilewati dalam diam, ketenangan yang sesunggunya sangat nyaman untuk keduanya. seakan mereka bisa saling memahami satu dengan yang lainnya dalam diam.


𝒑𝒂𝒓𝒕 𝟏-𝒇𝒊𝒏

𝒕𝒐 𝒃𝒆 𝒄𝒐𝒏𝒕𝒊𝒏𝒖𝒆𝒅.


word count: 1219 Words. Saved: 16/03/2021

#2-Let Me Walk With You [kisah ini, dilihat dari mata seorang Bintang]


Udah beberapa hari ini aku bertukar pesan dengan puan misterius yang kutemu di tangga selepas latihan beberapa hari yang lalu. karena aku nggak tahu posisi loker gadis itu, aku selalu menempel surat balasan darinya di lokerku dan berharap gadis itu mampir ke lokerku dan membaca balasanku. Hari itu, aku tercekat membaca surat darinya. Aku tak bisa spontan membalas surat yang baru kuterima itu.

Kalau aku jadi gadis itu, aku pasti nggak akan bertahan sampai saat ini. Di otakku sekarang, aku hanya bisa bertanya 'Mengapa semesta begitu jahat pada gadis secantik dirinya?' 'Mengapa dunia seakan membalikkan punggungnya terhadap gadis berparas rupawan seperti dirinya?' Aku duduk di bangkuku sambil menatap surat itu dengan alis tertaut. Aku bahkan nggak sadar ada Shandika di sampingku.

'Tang, Bintang. Bumi memanggil Bintang!' Shandika menggerakkan tangannya di depan wajahku.

'Hah? Kenapa, Shan?' tanyaku sembari menatap Shandika dengan tatapan bingung.

'Lo kenapa sih, Tang. Dari tadi ngelamun aja?' Tanya Setiadi.

'Sejak lu terima surat itu di loker lu, kayaknya lu mikirin isi surat itu terus,' imbuh Yulio, si jangkung yang duduk di bangku belakangku.

'Pasti cewek di tangga yang waktu itu lu kejar pas latihan kan?' Tebak Yesaya. 'Dia cantik, Tang. Cuma, yang gua tau semua orang ngejauhin dia karena ada fake rumor tentang dia,' Jelas Yesaya lagi.

'Dia satu sekolah minggu sama gue, Yes. Kasihan.' tukas Yonathan yang tengah menopang mejanya sembari duduk menghadap meja ku.

'Anjir, lo kenal dia, Yor?' celetuk Shandika.

'Emang gimana cerita aslinya?' tanyaku sambil menatap Yonathan, yang kami panggil dengan sebutan “Yori” itu, dengan tatapan super kepo.

'Namanya Tiana. Dulu, dia ceria banget, pecicilan. tapi dia sempet suka sama temen satu kelas kita. nggak lama, si cowok itu ngatain dia dengan sebutan yang ga pantes, dan dia mukul orang itu. yang gue tau habis itu, dia dimusuhin semua temen-temen di gereja karena mukul tuh orang,' Yonathan bercerita. 'Di SMP kita dulu, salah satu gengnya si cowok ini nyebar berita jelek tentang Tiana. dan sejak itu semua orang benci Tiana,' Lanjutnya.

'Maybe that's why,' aku mengangguk pelan, aku ingat luka di tangannya. banyak bekas goresan yang sudah berbentuk bekas luka maupun yang masih baru dan memerah.

'Ada apa, Tang?' tanya michael yang mulai kepo.

'Nevermind. gue cuma sedang mengaitkan cerita Yori dan apa yang gue liat waktu gue ngejar dia kemarin.' Jawabku sambil menggeleng. 'Anyways, lo kenal orang tua atau sodaranya gak, Yor?' aku bertanya.

'Apparently, yes. gue deket sama kakaknya. tapi kayaknya kakaknya ga gitu deket juga sama Tiana,' Jawab Yori dengan gelengan.

'Dia butuh pertolongan,' imbuhku singkat sambil kembali sibuk menulis di atas selembar kertas. diikuti dengan lirikan bingung dari semua temanku.

Tak lama sebelum bel berbunyi, Kirana, teman sekelasku, berlari masuk ke dalam kelasku dengan wajah panik dan pucat pasi. Setiadi yang dekat dengan Kirana berlari mendekat.

'Ki, kenapa?' tanya Setiadi sembari menangkap tubuh Kirana yang limbung.

'Adi, darah, toilet cewek,' samar-samar terdengar suara Kirana yang di dalamnya tersirat ketakutan. Di otakku saat ini cuma terfikir gadis yang baru saja diceritakan oleh Yori.

'Tiana,' aku langsung berlari ke toilet yang dimaksud oleh Kirana dan dikejutkan dengan seorang guru yang membopong tubuh gadis berambut panjang yang kini tangannya tertutup perban yang cukup tebal, baju dan rambutnya basah. aku segera berlari ke kelas untuk mengambil ransel dan kunci motorku.

'Tang mau ke mana?' tanya Shandika sambil menahanku pergi.

'Ke rumah sakit. gue bolos hari ini. urgent.' ujarku sambil menyampirkan tas di bahu.

'Gue berhasil nyingkirin dia,' terdengar olehku obrolan sekelompok anak perempuan di koridor. 'Untuk sementara dia musnah,' Tawa sinisnya membuat emosiku membuncah. Dengan langkah gusar aku pergi menjauh dari mereka sembari mengepalkan tanganku erat untuk menahan amarahku.


Aku menawarkan diri untuk menggantikan guru-guru, yang sebenarnya hanya ingin menguliahi Tiana dengan kata-kata mutiara mereka yang sebenernya nggak terlalu diperlukan oleh gadis itu saat ini, menjaga Tiana yang belum sadarkan diri. 'Maafin gue, Na. gue terlambat tau tentang lo.' ujarku dalam hati. aku duduk di samping ranjang tempat Tiana terbaring saat itu. luka di pergelangan tangannya sudah dijahit. namun, tetap saja, menatap luka itu membuat hatiku ngilu.

'Tiana, gue tau lu lelah, gue kan udah bilang lo boleh bersandar sama gue kalau lu capek,' ucapku sembari menggenggam tangannya yang nggak terluka dengan kedua tanganku.

'Maafin gue, ya? gue terlambat tau semua ini. gue tau di saat lu udah lompat dari tebing itu,' bisikku lagi.

'Bahu gue akan selalu ada buat lo. lo nggak sendiri,' Kugenggam tangan itu sambil menatap wajah Tiana yang nampak berpikir dalam tidurnya. alisnya masih tertaut.


#01- If I told you with a crying face that I am having a difficult time would it be better?


“I'm sorry, it's my fault, thank you. It's all because of me.” – Lonely (Jonghyun x Taeyeon)


SMA KQ, ku pikir dengan pindah ke sekolah ini, aku bisa membuka lembaran baru dan menutup masa kelam SMP-ku yang penuh luka. Nyatanya semua itu terulang lagi. Lagi-lagi aku sendirian. Lagi-lagi seluruh dunia membenciku. Kenapa dunia ini nggak adil? Kenapa dia yang menyebar kebohongan tentangku diberikan teman yang banyak bahkan pengikut yang dengan setia membuntutinya kemanapun.

Kalau boleh minta sama Tuhan, aku mau minta mati saja. aku nggak kuat dengan semua cobaan ini. Katanya pencobaan itu nggak akan melebihi kekuatanku. tapi kenyataannya apa? Tak jarang aku pulang degan luka baru yang selalu kututupi dengan jaket ataupun jas almamater. Aku berusaha supaya papa dan mama nggak apa perlakuan teman-teman terhadap aku. meskipun aku nggak tahu aku salah apa, aku harus lebih dulu minta maaf supaya mereka nggak menghinaku.

Rasanya, aku sendirian. nggak ada yang berpihak padaku. aku hanya bisa merasa nyaman ketika aku berlari mengelilingi lapangan atletik, ditemani semilir angin sore, seperti hari ini. sepulang sekolah, aku menenangkan pikiranku dengan berlari di lapangan lari. Hari ini, tim futsal sekolahku sedang mengadakan latihan rutin dan kebetulan aku sedang duduk di dekat situ, menatap ke lapangan sepak bola.

Di sana ada Bintang, kapten tim junior SMA kami. Sosok yang diidolakan seluruh siswi di kelasku. Sosok yang bersinar terang seperti bintang kejora. Sosok yang diluar gapaian tanganku. siapakah aku? Aku hanya seorang siswi yang dijauhi dan dibenci karena alasan yang bahkan mereka nggak tahu apa itu. Hanya sekedar karena terpengaruh dengan hasutan orang lain.

Entah berapa banyak air mataku yang telah terbuang sia-sia. dadaku sesak. kedua tanganku penuh goresan luka akibat pelampiasanku. Aku duduk di pinggir lapangan sambil meneguk air dingin dari termos minumanku. Setelah itu, aku kembali menatap ke gerombolan anak laki-laki yang berlarian di di lapangan sepak bola. Senyum seorang Bintang membuat aku sedikit lega. tak lama kemudian aku berdiri dan mengangkat tasku. Pergi meninggalkan lapangan itu, menuju ke UKS untuk menutup semua luka di tanganku.

Rasa perih menjalar ke sekujur tanganku. Keringat yang membasahi sekujur tubuhku dan membasahi luka-luka sayatan yang masih baru di tanganku terasa sangat perih. langkahku terhenti di koridor tempat tangga menuju ruang UKS, aku terduduk di tangga itu cukup lama. awalnya untuk mengistirahatkan kakiku dan menghilangkan sensasi perih yang menjalar di kedua tanganku. Kepalaku tertunduk. Awalnya itu hanya perih yang menyengat di permukaan kulitku. tapi kenyataanya perih itu menjalar ke hatiku juga. aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku dan menangis, tanpa suara.

Ku kira aku sendirian tapi... tap, tap, tap terdengar langkah kaki yang makin lama semakin mendekat ke arahku. aku buru-buru menyeka air mataku. aku nggak begitu tau siapa yang mendekat ke arahku. mataku masih dipenuhi dengan air mata saat itu. Ia menghampiriku dalam diam. nggak ada suara yang keluar dari mulutnya. tapi aku merasa ada sesuatu menutupi punggungku. nampaknya orang itu duduk di sampingku.

'Maaf ganggu lo. tapi di sini udah nggak ada siapa-siapa. kenapa masih di sini?' tanya sang pemilik suara itu.

'Nggak papa. bukankah gue pantes sendiri? seperti kata anak-anak yang lain, gue nggak pantes punya temen. gue aneh,' aku nggak tahu apa yang ada di otakku sampai tiba-tiba aku memuntahkan semua yang selama ini kusimpan sendirian.

'Kita nggak saling kenal kayaknya. tapi maaf kalau mereka menganggap lo gitu. gue disini. gue bersedia denger cerita lu,' dari suaranya yang lembut, aku tahu dia tulus melakukan itu. aku bisa merasakan tangannya yang besar menyelimuti tanganku yang penuh goresan. 'Jangan sakitin diri lo lagi.'

'Kenapa?' itu yang keluar dari mulutku ketika mendengar dirinya berfilosofi seperti barusan. 'Kenapa lu ikutin gue? kenapa lu mau bicara sama gue?' kepalaku masih tertunduk tapi aku bisa merasakan tangannya dengan lembut mendorong daguku agar sejajar dengan tatapan matanya.

'Mulai sekarang, gue mau denger segala keluh kesah lu. lu nggak sendiri. Nama gue Bintang,' ungkapnya sembari menghapus air mataku. 'Jaketnya pake dulu aja. di luar dingin. gue masih ada latihan. selagi masih terang pulang ya? orang tua lu pasti khawatir.'

Ia mengantarku ke gerbang sekolah, bahkan mencarikanku taxi online. Terima kasih, Bintang.


Hana — Siang itu matahari terik menyinari komplek perkuliahan Universitas Katolik yang cukup ternama di daerah Semanggi. Samuel baru aja selesai mengajar kelas pertamanya sebagai asisten dosen dan ia dikagetkan dengan orang yang berkerumun di daerah parkiran. Tak jauh dari dirinya nampak Yoel dan Jonathan, si kembar yang merupakan sahabat dan teman sepermainannya.

'Ini kok tumben rame?' Sam menautkan alisnya tanda bingung.

'Nggak tau, ini gue sama Jona juga baru dateng,' Yoel berusaha menyeruak kerumunan untuk mencari sumber keributan.

pemuda 173 cm itu dikagetkan ketika ia menemukan petugas medis tengah memberikan pertolongan pertama pada seorang gadis yang bersimbah darah. di sana juga ada 4 orang mahasiswa pasca-sarjana yang tengah meminta pertanggung jawaban dari pemilik mobil sedan Toyota Camry berwarna hitam yang baru saja menabrak teman mereka.

Selain 4 orang teman dari gadis yang tak lain adalah Tania, kekasih sahabatnya, Yoel juga menemukan sosok teman sepermainannya, Joven. Joven tengah membela pihak korban. dengan sigap, Yoel melambaikan tangannya pada Sam dan Jona sebagai isyarat supaya mereka bergabung dengannya.

'Kenapa?' tanya Samuel ketika ia sudah berdiri di samping Yoel.

'Liat aja sendiri,' Yoel menuding sepasang mahasiswa seusianya yang tengah berdebat dengan Joven dan salah satu sahabat Tania, Chris.

'Mereka nabrak Tania menurut info, Tania sempet kepental, sekarang dia udah ditanganin sama paramedis. katanya, dua orang itu nyetir habis make,' jelas Yoel sambil mendengus kesal.

'Udah gitu masih berani ngebentak Joven sama Kak Chris?' sambung Samuel kesal sambil mengepalkan tangannya, menahan emosi.

'Sam, they're stoned,' Jonathan menuding ke pasangan yang lagi marah2 itu.

'That's it! gue kesana, I have to make sure it's Tania,' Samuel melangkah cepat ke arah Joven dan Chris. matanya tertuju ke pintu ambulans yang terbuka dan sosok Tania yang nyaris tak bernyawa itu. Lelaki yang akrab disapa Sam itu auto lemas menatap sosok Tania yang terbaring lemah.

'Kak Chris,' Sam menepuk bahu pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya itu. 'I'll take care of them. lo temenin Tania ke RS ya, just keep us posted on her condition,' pemuda itu berujar disambut anggukan dari Chris yang segera naik ke ambulance dan mengantar Tania bersama teman-temannya.

'Take care, Sam,' balas Chris sembari mengangguk.

Suara sirine Ambulan memenuhi udara bersama dengan keempat sahabat yang mengantar Tania ke rumah sakit. Sementara itu, Joven, Jonathan, Yoel dan Samuel masih berada di TKP, ngeladenin pasangan mabok ini.

'Udah jelas kan tuh cewek yang salah, dia nyebrang ga liat-liat,' dalih cewek berambut abu-abu platinum yang matanya sembab dan berair.nafasnya pun bau, entah bau apa itu.

'Akhlak lo berdua kemana? datang ke kampus mabuk, nabrak orang, terus marah2 di depan orang-orang yang ngebelain korban karena lu merasa bener?' semprot Yoel.


[Mari kita skip adegan berdebat sama orang mabok, karena itu nggak penting]


Setibanya di rumah sakit, Chris, Haven, Kevin dan Jovan menunggu di depan ruang operasi sementara dokter-dokter langsung menindaklanjuti laporan dari tim medis yang menangani Tania. Setelah berjam-jam menunggu, keempat teman Tania pun segera menerima penjelasan dari dokter mengenai kondisi yang akan mereka hadapi setelah ini. Dokter sempat menyebutkan bahwa akan ada kondisi dimana Tania akan lupa tentang 3 tahun terakhir dalam hidupnya. meski begitu, Tania nggak 100% lupa akan masa lalunya. Dan ingatannya tak akan hilang permanen. semua itu akan kembali, berangsur-angsur pulih.

Selama masa pemulihan, Dokter mengharapkan teman-teman Tania untuk terus hadir dan memberikan semangat pada Tania supaya kondisi mentalnya pun membaik. Sebenarnya, nggak lama setelah tindakan dilaksanakan, Yoel, Samuel, Sean dan Juan tiba di rumah sakit. panik terlukis di wajah Sean mengetahui tentang kondisi Tania saat itu. Dan ia kembali dipukul oleh kenyataan bahwa saat sadar nanti, kemungkinan besar, ia akan menjadi sosok yang asing di mata kekasihnya.

'Rasanya kayak balik ke waktu pertama kali Samuel kenalin gue ke Tania. Kita sama-sama asing,' Sean mengacak rambutnya. Hanya satu kata yang terlukis dari kalimatnya barusan, Frustasi.

'Cuma sementara, Sean,' Chris berusaha menghibur.

'dia bakal inget sama lo lagi, kok,' kini Juan menepuk bahu Sean pelan.

'Sekarang kita ga bisa maksain semua itu ke Tania. semuanya perlu proses, gue percaya dia kuat jalanin semua,' sahut Haven. sebenernya, Haven paling terpukul. Sosok Tania di mata seorang Haven adalah sosok yang selalu bisa menopang Haven yang nampak independen tetapi sesungguhnya nggak seperti itu. Yang bisa ngimbangin Haven cuma Tania.

'By the way, Chris, udah ngabarin keluarga Tania?' Jonas mengedarkan matanya mencari Yoan dan Sena, kedua saudara laki-laki Tania.

'Belum. Bang Yoan dari tadi ga bisa dihubungin, bahkan ga dibaca chatnya. Sena juga sama. Gue udah berkali-kali call juga,' Chris mengacak rambutnya frustasi. Nggak ada satupun saudara kandung Tania yang hadir saat itu. Belum lagi kedua orang tua Tania yang ada di luar jangkauan alias selalu nggak ada di saat-saat genting seperti ini.

Tak lama setelah Chris menyerah menghubungi kedua saudara Tania, ponsel Jonas berdering, telepon masuk dari Yoan. 'Bang Yoan udah masuk nih!' Jonas berujar sambil menekan tombol untuk menjawab panggilan tersebut.

'Halo, Bang Yoan,' sapa Jonas.

'Chris call gue terus, ada apa?' tanya Yoan dari seberang.

'Bang, Tania kecelakaan. sekarang dokter udah nanganin dan udah pindah ke kamar rawat. Tadi consent nya ditandatanganin sama Sean dan Chris,' Jonas menjelaskan.

'Ya Tuhan...' Yoan tercekat. Missed call yang begitu banyak itu ternyata menyangkut adik perempuannya. 'Terus gimana keadaan Tania sekarang?'

'Udah cukup stabil, tapi masih belum sadar, hyung. She hit her head hard,' Jonas berujar lagi.

'Gue kesana, sama Sena sekarang, sendloc ke imess ya,' pinta Yoan.

'oke,' Jonas mengangguk dan mengakhiri percakapan telewicara itu.


Forever You're My Star a short story — seutas kisah tentang Christian Sanjaya Sadawira, Joseph Wicaksana (choi san dan Jung Wooyoung milik @ateezlokalan) dan Anastasia Tiara Kurniawan (Choi Yena) — [listen while reading: https://open.spotify.com/track/0wuGxn6mILf918ZIaeiIG5?si=kzL0r5_bTRminerL5eGAQQ ] — Day After Day Maybe I lose some memories But You’ve always been the light to me I think I will never forget those days with you The star that always watch for me. – Star 1117 ATEEZ —

2022, sudah 5 tahun berlalu sejak kepergian sosok Anastasia Tiara Kurniawan dari kehidupan Christian Sanjaya Sadawira. Namun, bayang-bayang Ara, begitu gadis manis berkepribadian ceria itu akrab disapa, nggak pernah pergi meninggalkan relung hati lelaki 23 tahun yang akrab disapa San itu. Banyak cewek yang udah nembak atau ngakuin ketertarikannya buat si ganteng berlesung pipit ini, tapi satu persatu ditolaknya karena di hatinya masih dibayang-bayangi oleh memori Ara. Setiap tanggal 10 Juli, ulang tahun San, pemuda 176 cm itu selalu dan nggak pernah absen pergi ke rumah penyimpanan abu tempat abu jenazah Ara disemayamkan.

Ara dan San, kedua insan ini sudah kenal sejak mereka duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Ara yang tiap hari harus ke sekolah pakai masker karena kondisi kesehatannya membuat banyak anak-anak seusianya menganggap gadis itu aneh. Tak jarang Ara dihina atau diejek 'virus' sama teman-temannya karena kondisi yang mengharuskannya mengenakan masker setiap hari. Hal itu yang menyebabkan San bertekad menekuni Taekwondo di bawah naungan Dojang milik ayahnya.

Sejak kenal sama Ara, hidup San yang awalnya biasa-biasa aja jadi lebih seru, kayak main roller-coaster. San juga banyak belajar dari Ara. Ara nggak pernah patah semangat. Ara pernah bilang, meskipun dia sakit dan lemah, Ara nggak pernah sedih karena banyak yang sayang sama dia. Walaupun Ara nggak bisa seperti temen-temen yang lain karena kondisinya, Ara selalu jadi sosok yang ceria, penuh senyum dan penuh semangat. Bahkan di tengah kondisinya yang seperti itu, kadang Ara tetap semangat membantu San yang sering ketinggalan pelajaran karena sibuk ikut lomba mewakili sekolah kalau ada acara pekan olahraga nasional.

10 Juli 2017, saat rumah sakit menyatakan bahwa sudah ada donor paru-paru untuk mengurangi derita Ara, tak butuh waktu lama buat gadis berusia 17 tahun itu untuk mengangguk mantap dan masuk ke ruang operasi untuk menjalankan operasi itu. Naasnya, Operasi yang diprediksi akan berhasil dan memperpanjang hidup gadis cantik itu malah berakhir dengan kepergian Ara untuk selamanya. Ulang tahun yang paling menakutkan buat San dari seluruh hidupnya. Yang San ingat hari itu, sebelum masuk ke ruang operasi, Ara menangis dan memeluknya lama sekali. Hari itu, Ara mengalungkan liontin perunggu berisi foto mereka berdua di leher San.

“San, apapun yang terjadi, bintang yang paling bersinar itu punya gue. kalau lihat bintang itu, inget gue ya.” itu pesan yang disampaikan Ara sambil bersimbah air mata sebelum masuk ke ruang operasi.

Dari sekian banyak operasi yang sudah dilewati Ara, ini yang paling berat. Ara sudah nggak sanggup lagi, mungkin memang ini jalannya. 10 Juli 2017, tepat pukul 11 malam, di tengah proses operasi, Ara harus tutup usia. Yang tak diketahui San malam itu, Ara meninggalkan kedua matanya untuk orang yang membutuhkan itu kelak.


Flashback

Tahun ajaran baru sudah dimulai. Sebenernya, teman sekelas San di tahun ajaran ini nggak terlalu berbeda dengan teman sekelasnya waktu tahun ajaran sebelumnya. tapi ada satu yang berbeda. ada anak perempuan berambut sebahu duduk di bangku belakang. separuh wajahnya tertutup masker bedah, tubuhnya kurus. Namun, gadis itu memiliki sepasang netra yang berhasil menghipnotis netra teruna tampan berlesung pipit itu. San langsung duduk di samping gadis itu dan mengulurkan tangannya.

'Namaku Christian Sanjaya. Panggilnya San aja,' San kecil tersenyum, menampilkan sepasang cekungan di pipinya, kedua netra hitamnya menyipit, membentuk lengkungan bulan sabit. tangannya terulur.

'Aku Anastasia Tiara, panggil aku Ara,' Ara menyambut tangan kanan San yang terulur padanya itu.

'Kenapa pakai masker? kamu sakit?' tanya San penasaran.

'Tapi ini rahasia kita berdua ya,' angguk Ara sambil berujar. suaranya agak serak waktu itu.

Ara punya kondisi paru-paru yang disebut dengan Cystic Fibrosis atau CF. Ini penyakit langka yang nggak bisa sembuh. Untuk menjaga kondisi Ara, Ia harus menjalani serangkaian perawatan baik di rumah atau di rumah sakit. Kondisi ini menyebabkan Ara harus menjaga agar dirinya nggak terpapar debu atau kuman karena kelemahan pada paru-parunya.

Karena nama penyakitnya yang sulit dan keadaannya yang sulit dipahami orang normal, Ara nggak bisa menjelaskan penyakitnya pada San, dan San nampak puas dengan anggukan kepala dan senyuman manis yang membuat lesung pipit terlukis di pipinya yang bersemu kemerahan. Seiring dengan berjalannya waktu, San dan Ara menjadi sahabat. Ara kerap kali menghadiri pertandingan taekwondo San.

Tak jarang pula San menemani Ara menjalani pengobatannya di rumah sakit. Kadang, San menolak kalau orang tuanya mengajaknya pulang ketika Ara harus menginap di rumah sakit pasca pengobatan. Meskipun teman-teman di sekolah nggak mau berteman dengan Ara karena Ara dianggap aneh, San selalu standby di samping Ara.

Waktu begitu cepat berlalu, tanpa terasa Ara dan San sudah berada di bangku SMA. entah berapa ratus hari harus dihabiskan Ara di rumah sakit dan entah berapa puluh operasi yang sudah dijalani. Tapi ditengah semua hari berat itu, hadirlah Joseph dalam lingkaran pertemanan yang awalnya cuma berdua itu. Joseph memberi warna baru di seluruh keseharian Ara dan San.

Tanpa sadar, San yang sudah terbiasa bersama Ara mulai menaruh rasa pada sang dara. sementara itu, Ara, yang nggak nyadar kalau San mulai jatuh hati padanya, malah menaruh matanya pada sosok Joseph yang bawel dan selalu punya bahan obrolan serta pandai melucu.

'Ra, lu suka sama Joseph ya?' tanya San suatu ketika, saat keduanya tengah menanti Joseph yang tengah berlatih dance.

'Eh—oh nggak kok, kenapa emangnya?' Ara berusaha mengelak. San hanya terkekeh, soalnya dia tahu betul Ara nggak pandai berbohong.

'Jujur aja kali Ra sama gue. kita sudah 10 tahunan temenan, gue tau banget lu suka sama Joseph,' San tertawa sambil memainkan rambut Ara.

'Seandainya aja dia tau. dia pasti nolak gue mentah-mentah,' Ara tertunduk sembari memainkan sendok di mangkok baksonya yang sudah kosong.

'Tapi kan belum dicoba, Ra,' San berusaha menyemangati Ara.

'Gue kan penyakitan, San. dia nggak mungkin mau punya pacar yang penyakitan kayak gue. apa lagi penyakitnya ga bisa sembuh,' kilah Ara.

Ia kemudian merogoh ranselnya dan mengeluarkan sebuah buku sketsa. Ara membuka halaman yang berlukiskan sepasang paru-paru yang ditumbuhi bunga sakura.

'ini yang gue harapkan, bunga sakura tuh indah, San. tapi apa..' Ara membalik halamannya dan disana ada gambar sepasang paru-paru yang penuh luka di setiap sisinya, ini yang gue punya sekarang.'

Air mata jatuh membasahi pipi Ara. bahunya bergerak naik-turun. melihat itu, San auto berlari menghampiri Ara dan merengkuhnya dalam pelukan hangatnya. 'Nggak gitu, Ara. masih banyak yang mau sama lo.'

'termasuk gue, Ra' kilahnya dalam hati.

'Loh, Ara kenapa?' tanya Joseph yang baru aja kelar latihan dance.

'Daily blues,' sahut San pelan.

'Kalo gitu, hari ini ke bogor yuk. liat bintang,' ajak Joseph.

San cuma melirik ponselnya. 'Habis jam minum obat sama Avvlo vest ya, Seph,' jelasnya.

Joseph duduk di samping kedua sahabatnya. 'Sip. gue numpang mandi kalo gitu,' ujarnya lagi.

Usai pembicaraan itu, San, Joseph dan Ara langsung bertolak menuju rumah Ara yang terletak tak jauh dari sekolah mereka. Setelah membantu Ara masuk kamarnya, Joseph langsung minta izin mamanya Ara untuk numpang mandi sementara San membantu Ara menyiapkan obat-obatan yang harus diminumnya dan menyiapkan Avvlo vest untuk terapi mengeluarkan lendir dari paru-parunya.

Malam itu, Joseph, Ara dan San pergi ke Bukit Bintang di Puncak buat melihat bintang, salah satu kegiatan yang paling mereka suka lakukan untuk melepas penat. semakin malam, udara semakin dingin. San berinisiatif mengambil selimut dari laci dashboard mobil dan menyelimuti paha dan kaki Ara sementara Joseph melepas jaketnya dan menyampirkannya di bahu mungil sang gadis.

'San, Jos, kalo nanti gue sampe ga ada....'

'Nggak ah, jangan ngomong gitu,' potong Joseph sambil menggelengkan kepalanya.

San hanya diam dan menggenggam tangan sang dara manis di sampingnya itu.

'Kan 'If' gitu, Seph. Kalo seandainya aja. itu tuh, di sana ada bintang yang paling terang. itu bintang gue. kalau seandainya nanti gue duluan yang harus pergi, itu bintang gue, gue akan selalu ngeliatin kalian dari atas sana.' lanjut Ara.

'Ra, gue baru kenal sama lu sebentar, gue ga siap kalau kita harus berpisah,' Kilah Joseph.

‘Kalo boleh jujur, Seph, gue capek sama hidup gue yang sangat lemah dan bergantung sama semua alat-alat yang nempel di gue dan yang ada dalam tubuh gue. The countless surgeries I have to go through. there are times i wanted to get up there and watch over those i loved,' tanpa terasa air mata itu mengalir membasahi pipi sang gadis.

'Lu hebat, Ra. You're the strongest and most beautiful girl i've ever seen. lu berjuang dengan kuat, gue bangga sama lu,' Joseph pun ikut menangis.

'I'll bring the gold medal to you, like every time. you deserve these gold medals' San menatap gadis di sampingnya, suaranya bergetar dan tangisnya pecah saat itu juga.

'Gue bakal di rumah sakit untuk beberapa waktu mulai besok, sampai gue dapet donor paru,' isak Ara.

'Kita bakalan terus di samping lu, Ra,' Joseph mengusap air matanya dengan lengan hoodienya.

'Nyokap lu pasti udah nyariin, balik yuk,' San membantu sang gadis untuk berdiri diikuti oleh Joseph yang ikut berdiri dan merapikan alas duduk mereka.


Juli 2017,

Tepat enam bulan setelah hari itu. Enam bulan berlalu begitu lambat bagi Ara yang harus tinggal di rumah sakit. Dalam 6 bulan itu, San sudah membawa pulang 6 medali emas untuk Ara, Joseph pun sering nampak terlihat menemani Ara di rumah sakit. Kamar rumah sakit yang didiami Ara kini juga jadi tempat kediaman Shiber, boneka kesayang San yang dipinjamkan pemuda itu pada pujaan hatinya untuk menemani Ara. Kamar rawat inap Ara kini telah dihiasi tabel jadwal konsumsi obat, avvlo vest, dan gambar hasil ilustrasi karya Ara.

Dokter bilang, sudah ada donor paru yang telah diuji di lab dan cocok untuk jadi donor paru untuk Ara. Papa dan mama sangat senang mendengar itu, begitu pula Ara, San dan Joseph. Tanggal 10 Juli 2017, adalah tanggal yang dijadwalkan buat Ara untuk menerima paru-paru itu, hari itu juga adalah hari ulang tahun San.

Jujur Ara takut menghadapi ini, soalnya dia tau kalau peluang keberhasilannya 50:50. semua berharap operasi itu berhasil dan Ara bisa kembali bersama dengan mereka. Tapi Tuhan berkehendak lain. Dokter keluar dari kamar operasi keesokan harinya dan mengumumkan dengan berat hati bahwa hidup Ara harus berakhir di meja operasi.

Saat itu juga tangis Joseph dan San pecah. Kedua pemuda itu terduduk di lantai dan menangis tersedu-sedu. Sosok Ara begitu berharga buat mereka. Bagi keduanya, Sosok Ara merupakan wanita terkuat selain ibunda mereka. Gadis yang sosoknya melebihi superhero yang biasa mereka lihat di komik-komik. Sekarang, sosok wanita super itu sudah tiada lagi di muka bumi ini. Tapi pesan Ara sebelum karantina itu melekat di hati mereka. Bintang yang paling terang, itulah Ara. Ara akan terus melihat mereka dari atas sana. Itu yang mereka ketahui.

Tapi, yang nggak pernah mereka ketahui, di hari yang sama, Ara meninggalkan sebuah kenang-kenangan yang begitu berarti untuk keduanya. Ara tetap tinggal di hati San dan Joseph sebagai sosok gadis kuat yang menjalani kehidupannya yang begitu berat dengan segala pemikiran positif yang selalu terlontar dari bibir manisnya.

*‘Sampai jumpa, Ra. Sampai jumpa di Utopia sana. Di tempat lu bisa bernafas dengan bebas tanpa harus mikirin minum obat, terapi atau menjalani oprasi untuk memperpanjang hidup lo,’ *– Joseph —

10 Juli 2022, Rumah Penyimpanan Abu 'Heaven', Jakarta.

'Ra, gue balik,' San menatap foto Ara yang tersenyum sembari merangkul dirinya dan Joseph. 'Gue sehat, sekarang gue udah lulus kuliah. udah kerja juga di sekolah tempat kita dulu. gue kangen lo. Gue nyesel dulu gue nggak macarin cewek secantik dan sehebat lo,' San melekatkan buket kecil bunga baby's breath di kaca loker tempat guci abu mendiang Ara disimpan beserta beberapa kenangan mungil tentang gadis manis itu. San menyentuh liontin yang masih menggantung di lehernya itu.

Mungkin banyak memori yang sudah memudar di ingatan San. Mungkin sudah banyak memori yang terlewat tanpa kehadiran Ara. Tapi, Di hati San, terpatri semua memori indah yang telah ia lewati selama ini bersama Ara dan Joseph. Sekarang, Ara menepati janjinya pada Joseph dan San. Ia menjadi bintang paling terang yang selalu menjaga kedua sahabatnya dari atas langit.

'Thanks for all the memory you gave me all this time. I'll always look for the brightest star and see you there. Thank you for all these years, Anastasia Tiara Kurniawan.' – San


#Liztomania13 Santa, Joana, Kediaman Juniawarman dan Foto Mendiang Papa.


Hari itu, Rumah kediaman keluarga Juniawarman ramai. William mengundang Santa, Yudhis dan Yonathan untuk bertandang ke rumahnya untuk ikut menikmati kudapan makan malam yang dibawa oleh Hansel. Sore menjelang malam, semuanya sudah selesai menikmati makanan dan kini berkumpul di ruang tengah. Mama udah masuk kamarnya, membiarkan anak-anak muda itu berkumpul dan berbincang. Sementara kakak-kakaknya ngumpul, Joseph, si bungsu, mengendap-endap keluar rumah dengan satu pak rokok mild dan electric lighter di tangan kanannya.

'Jose, stop. bawa apa itu?' Joanna yang memergoki adiknya langsung bertanya dengan tatapan interogatif.

'Eh bukan punya Jose kok, Kak Ann,' Joseph mengelak.

'Bukan punya kamu kenapa ada di tangan kamu,' Joanna tak mau kalah. Kini di matanya ada badai yang nggak bisa dijelaskan.

'Jose mau ngumpul sama temen-temen,' kilah sang adik menanggapi tatapan interogatif sang kakak.

Tangan kanan Joanna terkepal. Jantungnya serasa mau melompat keluar dari tulang rusuknya. gadis itu sudah kehilangan kata-kata. Tapi semua tau di matanya terlukis ketakutan dan badai yang nggak bisa dijelaskan. kedua netranya menatap foto mendiang ayahnya yang menghiasi tembok yang ada di hadapannya.

'Ann, udah lah,' Kini Hansel merangkul pundak Joanna. berusaha menenangkan badai yang terlukis di wajah gadis kelahiran 1999 itu.

“Ann bakalan tertekan dan takut banget kalau dia berada disekeliling orang yang ngerokok,' Yudhis menjelaskan saat menangkap wajah bingung Santa dan Yonathan.

'Kenapa?' itu yang keluar dari bibir Santa yang menangkap kejanggalan dari air wajah pujaan hatinya.

'Papa meninggal karena kanker paru-paru. sedikit banyak karena beliau suka nyepur, ngerokok tanpa batas. sejak itu, Ann punya trauma yang besar sama rokok, perokok dan asap rokok. makannya untuk ngejaga Joanna, gue sama Kak Han ga ngerokok,' jelas William.

Mendengar penjelasan panjang lebar William, Santa auto berdiri dan menghampiri Hansel dan Joana. Dengan lembut pemuda 21 tahun itu mengambil tangan Joanna dalam genggaman tangan hangatnya. 'Kak, Joanna biar sama gue aja,' Santa membimbing Joanna keluar dari suasana panas itu untuk menenangkan diri.

'Jose, kamu tau Joanna takut dan trauma sama benda itu. Koko harap, kamu bisa lebih peka lain kali,' Hansel berhenti sejenak. 'Koko kecewa sama kamu.'

'Masuk kamar, sekarang,' suara Hansel memang ga keras, tapi ada otoritas di dalam suara itu. Yudhis udah tatap-tatapan sama William takut ada apa-apa terjadi di ruang tengah. Yang disuruh masuk kamar cuma menunduk dan nurut sama perintah sang kakak.

'Dia cuma cari media buat pembuktian diri aja,' Yudhis menepuk bahu sepupunya.

'Tapi nggak lewat benda yang bisa nyakitin kembaran gue, Dhis,' William mengusap wajahnya kasar.

'Udah, biarin aja. anak itu perlu dikerasin sekali-sekali,' Hansel menghela nafas sembari menyesap cola nya.

'Ngomong-ngomong, Santa sama Joanna kemana?' tanya Yonathan, menyadari kalau kedua temannya nggak berada di sekitarnya.

'Paling ke taman depan. biarin aja. Joanna butuh udara segar,' Jawab Hansel.


'Ann,' panggil Santa waktu keduanya sedang duduk di salah satu bench yang ada di taman.

'Ya?' Joanna menoleh dan menatap Santa.

'Udah lebih tenang?' Santa masih menggenggam tangan Joanna. Tangan gadis itu mungil banget kalau dibanding dengan tangannya.

'Makasih, San,' Joanna membalas genggaman tangan Santa sambil berjalan sejajar dengan langkah kaki Santa.

'Gue ga ngapa-ngapain kok,' Santa diam-diam tersenyum, disusul sama lesung pipit yang terlukis manis di wajahnya.

'You have dimples,' Joanna mengamati wajah Santa.

'Runs in the family,' Santa mengangguk malu-malu. padahal mah biasanya malu-maluin.

'San, makasih ya. mungkin kalo lo nggak bawa gue keluar gue bakal nangis bego di depan yang lain,' Joanna menatap Santa sambil memainkan lengan sweater rajut yang dipakai pemuda berlesung pipit yang tengah menggandeng tangannya.

'Hey, it's okay to cry, Joanna. Just remember, bokap lo di atas sana nggak akan mau liat anak cewek semata wayangnya nangis,' Santa berujar sembari menghentikan langkahnya. 'gimana kalo kita cari eskrim buat ngademin pikiran?' tawar Santa yang auto disambut anggukan kepala dari gadis 159 cm di sampingnya.

'Yeay, ditraktir!' Joanna berseru, disusul kekehan renyah dari pemilik nama Santa itu.


saved: 2021/02/01

Liztomania #06 Sorren, Santa dan Joanna


Santa duduk di kursi kafe dengan sangat amat gelisah. dari tadi, matanya nggak lepas dari ponsel pintarnya yang tengah menampilkan beranda twitternya yang berisi cuitan dari Sorren, saingannya memenangkan hati Joanna, dan tak lain tak bukan, gadis pujaan hatinya, Joanna yang tengah pergi jalan-jalan bersama. Menurut Yudhis yang duduk di seberangnya, sudah lebih dari 12 kali Santa menghela nafas dan mengacak rambutnya sejak ia melihat cuitan dua orang itu di berandanya.

'Udah kali, San. mau diliat berapa kali pun akan tetep gitu postingannya. lagian lo belom usaha,' Yudhis nyeletuk sambil terkekeh melihat tabiat temannya.

'Lah emang abis ngestalk siapa? kok asem banget mukanya. lebih asem dari keteknya kalo abis basket,' kali ini Yonathan nyeletuk sambil tertawa kecil.

'Anjir' Santa merutuk setengah suara, biar nggak kedengeran berandalan banget. lalu mendorong bahu Yonathan yang duduk di sebelahnya.

'Sepupu gue yang waktu itu, Yo,' jawab Yudhis.

'Kembarannya William anak kelas gue?' tanya Yonathan.

'The one and only Joanna,' Yudhis mengangguk.

'Oh, namanya Joanna? yang selama ini lu sembunyikan dari kita,' Yonathan nyengir jahil.

'Gue pernah liat dia manggung di resital anak seni pertunjukan,' Santa buka mulut. 'Cantik.'

'Tipe Santa banget sih, gue ga heran kalo Santa kesemsem,' Yonathan mengangguk tanda paham betul akan selera sobatnya itu.

'Tapi iya, San. lu harus bersaing sama Kak Sorren. dia udah lama banget ngejar Joanna. Dari 2 tahun yang lalu kayaknya,' Yudhis manggut-manggut sambil menyesap iced americano yang dipesannya.

'Sorren kan idola semua idola. kalo saingan gue Sorren gue bagaikan remahan regal kecemplung di kubangan susu, Dhis. nggak ada artinya,' Santa merajuk diikuti dengan kekehan Yonathan.

'Sejak kapan seorang Santa jadi ciut begini?' ujar pemuda berambut kemerahan itu pada sahabatnya.

'Speaking of the Devil, tuh William dateng,'Yudhis mengangguk ke arah pintu masuk kafe. Seorang pemuda berambut hitam legam muncul dengan kaus sleeveless hitam dan celana jeans yang ada aksen sobek pada lututnya.

'Tumben sendirian, Will,' kali ini Yudhis beneran basa-basi. ingin menjahili Santa yang beneran lagi galau tingkat akut.

William terkekeh saat menerima kekehan jahil Yudhis. 'Ga tau, tadi izin mau pergi bareng sama yang ngegebet dia,' jawabnya asal.

'Loh emang Bang Ren beneran masih sesuka itu sama ade' lo?' tanya Yonathan. membuat santa makin nunduk.

'Dari SMA, tapi cuma dianggap temen sih sama Anna. dia bilang nggak satu kasta sama Kak Ren. terlalu jauh untuk digapai,' William berujar, membuat segaris senyum tipis terlukis di bibir merah Santa yang dari tadi cemberut.

'Sorren dari dulu kan ngegas banget deketin Joanna. dari jaman SMA kan? sampe nyamper gue demi minta nomor hpnya,' Yudhis makin ngegas ngisengin Santa.

'Udah lah, Dhis. lo harusnya support Santa buat deketin ade' gue. Santa sama Joanna ada di liga yang sama. kalo boleh jujur, ga tau kenapa gue lebih percaya sama Santa ketimbang Kak Ren,' jelas pemuda yang kerap disapa Willy atau Liam itu.