kokojeikob

yang nulis tiga sekamar

The Morning Sun


Bagian 2 dari kisah Christian Sanjaya Sadawira dan Maira Julianne Wijayanti


Langkah kaki kita dalam sinkron lagi hari ini Begitu panas, sekali lagi hari ini, aku meleleh Selalu, kau membuatku menjadi diriku sendiri Seluruh diriku mulai denganmu, setiap hari – SF9: O Sole Mio


Masih lanjutan dari sore itu, alias waktu Indonesia bagian Sanjaya Merindu. Tidak ada yang salah dari merindu. Tidak ada yang salah dengan mencinta. Tapi, seperti pepatah Inggris, ‘When there is a Hello, there’s always a Goodbye’, Ketika ada pertemuan, pasti akan ada perpisahan, kita nggak tahu kapan perpisahan itu akan dan harus terjadi, kita harus siap dengan fakta bahwa suatu saat kita akan berpisah dan pasti di masa depan, akan ada pertemuan berikutnya dengan orang yang lain. Ara hadir untuk mengajarkan hal itu pada Sanjaya. Meski ia hanya hadir di jendela waktu yang begitu singkat dalam hidup Sanjaya.

‘Kemarin gue ketemu sama bokap-nyokap nya Ara, mereka cerita kalo sebelom Ara di oprasi, dia donorin korneanya. Dan dua tahun yang lalu, kornea itu akhirnya diterima oleh seseorang. Katanya identitasnya jadi data rahasia yang ga bisa disebar sama RS,’ Joseph bercerita.

‘Maira,’ gumam San.

‘Hah? Siapa tuh?’ balas Joseph sambil mengernyitkan keningnya.

‘Dari apa yang gue liat, Mata Maira mirip banget sama Ara,’ jelas pemuda Sadawira itu.

‘San, relain Ara, please. Lo berhak bahagia, Ara tau itu. Ara pasti pengen lo bahagia. Gue juga sedih, kehilangan banget, jujur. Tapi, Ara mau perpisahan terakhir antara kita dengan dia membuahkan pertemuan indah antara Lo dengan siapapun itu nanti,’ Kini Joseph befilosofi.

‘Jangan nyakitin hati lo sendiri. Jangan nyiksa diri,’ Krisna menepuk-nepuk bahu San.

‘Loh, kok pada berkerumun di sini?’ kepala Jovan menyembul dari balik pintu. ‘Entar ditangkep sama satpol-pp loh,’ canda Jovan diikuti tawa renyah khas pemuda jangkung itu.

‘Seph, Bang Krisna, gue mau sendiri dulu,’ Sanjaya menghela nafasnya.

‘Makan dulu, udah malem,’ Joseph mengingatkan sebelum keluar dari kamar sahabatnya bersama dengan Krisna.

Sanjaya hanya menggeleng letih. Ia mengusap wajahnya berkali-kali. Memikirkan ungkapan Krisna barusan. Memang benar, di setiap sapaan pasti ada perpisahan. Teringat olehnya saat terakhir di rumah duka, sebelum peti ditutup, pemuda itu meminta izin pada kedua orang tua Ara untuk mengecup kening gadis manis itu untuk yang terakhir kali.

Bersama dengan keluarnya Joseph dan Krisna dari kamarnya, memori Sanjaya kembali berputar ke saat-saat dimana terakhir kali ia melihat wajah Ara, sang pujaan hatinya. Saat dimana akhirnya ia harus merelakan gadis itu berpulang ke surga, meskipun hatinya sesungguhnya masih belum merelakan kepergian Ara dari hidupnya. Separuh hatinya menyesal tak sempat mengakui perasaannya pada Ara. Hanya Tuhan dan Sanjaya yang tahu soal perasaan ini. Biarlah itu terkubur dalam hatinya. Membeku di dalam hatinya sampai hari ini.


Flashback

10 Juli 2017, hari dimana Ara berpulang ke Rumah Bapa Di Surga. Sanjaya berdiri mematung di samping peti kayu coklat berpelitur mengkilap itu. Masih bersimbah air mata. Ia memeluk sebuah bingkai foto coklat berisi foto sahabatnya, Ara. Dalam foto itu, Ara terlihat tersenyum manis sekali, seperti nggak ada beban dalam hidupnya. Joseph berdiri di samping Sanjaya, kepalanya tertunduk, menyembunyikan air matanya yang masih deras membasahi pipinya.

Di dalam peti kayu itu terbaring jenazah Ara. Wajahnya tampak tersenyum. Ara seperti malaikat, mengenakan gaun putih, kaus kaki putih dan sepatu satin berwarna senada. Di tangannya ada seikat buket bunga lily putih kesukaannya. Setelah upacara ibadah pelepasan dilangsungkan, Sanjaya minta izin pada kedua orang tua dan kakak perempuan Ara untuk bertemu Ara yang terakhir kalinya. Ia berjalan mendekati peti tempat Ara bersemayam dan menatap gadis itu lekat-lekat.

‘Ara, kenapa pergi ninggalin gue?’

‘Gue belum sempat ngucapin ini ke lo,’

‘Maaf, Ra. Butuh waktu lama buat gue ngomong ini ke lo.’

‘Gue jatuh cinta sama lu, Ra. Forever you’re my star.’ Sanjaya berbisik sambil menangis dan mengecup kening Ara untuk yang terakhir kalinya. Selepas itu ia hanya bisa menangis tersedu-sedu menatap peti yang tertutup rapat, Sampai jumpa, Ara. Hatiku selalu untukmu.

Flashback ends.


Besok paginya, pemuda berlesung pipit itu terbangun dengan perut amat-sangat laper alias udah kracak-krucuk dimana-mana. Cacing-cacing dalam perutnya udah demo karena semalam nggak dikasih makan. Tepat ketika pemuda yang akrab disapa San itu menginjakkan kakinya ke dapur, sosok dara manis berambut panjang dengan mata kecoklatan nampak sedang sibuk di dapur bersama Dilara, kekasih Rama yang hari itu mengosongkan jadwalnya untuk berkunjung ke tempat ke delapan bujang tampan itu tinggal.

‘Loh, Maira?’ San yang kala itu masih dibalut piyama biru mengerjapkan matanya.

‘Eh, halo, San!’ sapa sang gadis yang surainya diikat kuncir ekor kuda itu.

‘Kok lo tau gue tinggal di sini?’ Ujar San yang akhirnya mendaratkan tubuhnya di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan.

‘Tadi aku telfon hapemu, tapi yang angkat Joseph apa ya, namanya, terus diajak ke sini,’ Maira menjelaskan.

‘Kok hape gue bisa di lo?’ San melirik Joseph yang cecengiran di sampingnya.

‘Tadinya biar lu tidurnya tenang. Tapi semalem pas gue sama Joseph ngecek ke kamar lu, lu ngelindur manggil-manggil Maira,’ Jelas Krisna yang disambut gelak tawa renyah dari pemilik nama Joseph itu.

Seketika mata Sanjaya mendelik dan wajahnya semerah kepiting rebus. Kenapa sih, kedua temannya itu harus mengekspos kalo dia manggil-manggil nama Maira dalam tidurnya. Nggak cuma itu, celoteh Krisna membuahkan kekehan tawa renyah dari Maira dan Dilara yang masih sibuk bikin sarapan buat kedelapan bujang itu. Usai memasak, Maira duduk di samping Sanjaya dan meletakkan tangannya di kening Sanjaya.

‘Nggak demam kok,’ Maira tertawa sambil melepas tangannya dari kening Sanjaya.

‘Emang nggak sakit kok,’ Jawab Sanjaya dengan ekspresi saltingnya sambil mengulum roti panggang yang diletakkan Maira di piringnya. Sanjaya tiba-tiba meraih tangan Maira dan membawa tangan itu turun dari wajahnya. ‘Habis makan ikut gue ke teras, I need to know something about you.’

Semua dicengangkan dengan tindakan Sanjaya barusan. Selama ini, nggak ada cewek yang mendapat perlakuan hangat seperti apa yang mereka lihat barusan. Semua cewek yang mendekatinya selalu berakhir diketusin sama oknum yang kini membantu ayahnya di dojang alias akademi taekwondonya itu. Dari sekian puluh cewek, hanya Maira yang berhasil melembutkan hati dan setiap tingkah laku Sanjaya.

Usai sarapan, sementara Dilara dan yang lain berbincang di meja makan, Sanjaya dan Maira menyingkir ke teras depan. Ditemani dua cangkir teh susu buatan Dilara, keduanya bebincang dari hati-ke hati. Sedikit demi sedikit, semua kebingungan Sanjaya terjawab. Perkara kenapa mata Maira bisa semirip itu dengan mata mendiang Tiara pun sudah terjawab.

‘Maaf ya,’ tangan hangat Maira menyentuh punggung tangan Sanjaya lembut.

‘Maaf juga gue udah lancang nanyain ini ke lo,’ San tahu seharusnya ia nggak mempertanyakan soal mata Maira sejauh itu.

‘Nggak papa, kamu berhak tau. Gimanapun, ini titipan dari Tiara. Mataku ini titipan dari Tiara,’ Maira tersenyum sambil menggenggam tangan Sanjaya.

Sanjaya menatap Maira dengan senyum yang tenang dan lembut. Senyuman yang sudah lama hilang dari hari-harinya. ‘Mungkin, hari ini Ara mau bilang ke gue kalo bintang terang itu kini digantikan oleh matahari. Cuma, gue ini manusia biasa, Mai. Gue butuh waktu untuk menata hati. Kalau kita jalanin pelan-pelan, mulai dari berteman dulu, apa lo nggak keberatan?’ Tanya pemuda itu sambil membalas genggaman tangan Maira.

‘Hmmm, kenapa nggak,’ Maira tersenyum sambil menautkan jemarinya diantara jemari besar milik Sanjaya.

‘Makasih, Mai. Makasih udah mau jadi matahari yang menggantikan bintang itu,’ Sanjaya berujar.

‘IH SANJAYA APAAN SIH, GELI TAU,’ Maira nyeletuk sambil menepuk dada Sanjaya dengan senyum jenaka.


Maira dan Sanjaya sama-sama nggak sadar kalau mereka masuk ke rumah masih dengan tangan yang saling menggandeng satu dengan yang lain. Keduanya dibingungkan dengan tatapan jahil dari Jovan, Mahanta, Jafar, Rama, Joseph dan Krisna serta tatapan intimidatif dari Kenzie. Bagaimana tidak, awal yang canggung berakhir dengan tangan yang terikat satu sama lain.

‘Jadi, gimana?’ tanya Krisna.

‘Gimana apanya?’ Sanjaya menautkan alisnya sambil bertanya balik.

‘Itu ngapain gandengan?’ tanya Jafar sambil menaikkan alisnya.

‘Oh, nggak papa,’ Sanjaya menggaruk tengkuknya yang taka gatal itu. ‘Jadi, Ini Maira, munkin bakal sering main ke sini,’ jelas Sanjaya lagi.

‘Statusnya apa, San?’ kali ini Jovan nggak mau kalah kepo.

‘Statusnya, T E M E N,’ kali ini Maira bantu mengeja per huruf supaya yang lain berhenti menggoda dan menginterogasi mereka berdua.

‘Jalani pelan-pelan. Saya sama Dilara juga nggak langsung jadian kok, kalian berdua punya kecepatan masing-masing buat mengenal dan saling memahami,’ kali ini kultum dari kakak sulung, Rama.

'Gue sama Gita juga mulai dari nol kok, San,' tambah Krisna.

'Mulai dari Nol, kayak kalo di SPBU,' canda Mahanta diiringi tawa semua orang yang mengisi ruang tengah siang itu.

‘Iya, kan baru mulai juga. Jalanin dulu aja. Senyaman kalian,’ Dilara tersenyum sambil menepuk bahu Maira, memberikan dukungan buat mereka.

‘Akhirnya Sanjaya yang kaku, dingin dan nggak mau deketin cewek sekarang punya temen cewek,’ goda Joseph yang langsung mendapat hadiah jitakan dari si guru taekwondo ganteng itu.

Memang ada kalanya kita bergumul dengan kesedihan kita. Kerinduan kita pada seseorang dari masa lalu. Tapi, ada pula waktunya kita membuka lembaran baru dan bergerak maju. Memang membuka hati itu bukan hal yang mudah. Tapi ketika pintu hati itu terbuka, akan ada pagi cerah dan matahari yang akan menyinari harimu, menggantikan malam kelam yang selama ini mengisi hidupmu.


EP: FIN


Saved:29/4/21 16:51 Word Count: 1.450 words.

Bintang Yang Tak Redup Tentang Christian Sanjaya Sadawira di Jendela Waktu Lain.


Starring: Maira Julianne Wijayanti (Lim Dayoung WJSN)


“San, it’s been 5 years since she left. She must’ve wanted you to be happy. Coba deh buka hati lu buat orang lain,”

Komentar berikut sering kali dilontarkan oleh Joseph kalau San udah mulai menolak cewek yang kerap kali bergerak duluan untuk PDKT atau mengakui perasaan mereka pada pemuda tampan bergaris rahang tegas itu. San masih stuck. Stuck sama cinta pertamanya yang sekarang udah berpulang ke Surga. Liontin pemberian Ara-pun masih setia melingkari lehernya. Ara boleh pergi dari kehidupan Joseph dan San. Tapi, memori tentang Ara tak pernah lepas dari hati kedua wira tampan kelahiran 1999 itu.

Selepas kepergian Ara, San memutuskan untuk nggak terlalu memikirkan tentang move on ataupun mencari pengganti posisi Ara di hatinya. Seakan-akan ada pintu hati yang sengaja dikunci rapat-rapat oleh pemuda berlesung pipit itu. Lain San, lain halnya dengan Joseph. Setahun belakangan ini, Joseph beberapa kali terlihat menyibukkan dirinya dengan program perjodohan modern alias ‘blind date’ yang disiapkan kedua orang tuanya. Joseph sempat mengajak Sanjaya ikut acara semacam itu, namun hasilnya nihil.

Hari itu, San membantu papanya untuk ngajar kelas taekwondo untuk anak-anak balita di Dojang. Dojang garapan ayahnya ini sudah berdiri sejak San dan kakak perempuannya, Christy, masih kecil. Sewaktu Ara masih hidup dulu, gadis kelahiran 14 April 1999 itu kerap kali mengatakan bahwa San cocok ngajar kelas untuk anak-anak kecil.

‘Sabeom!’ Seorang gadis kecil kira-kira berusia lima tahun maju keluar dari barisan tempat teman-temannya berkumpul.

‘Aira, mau pimpin pemanasan?’ tanya San sambil tersenyum tanpa melepas posisi kuda-kuda santainya.

Aira, gadis berkuncir kuda itu mengangguk penuh semangat, membuat memori masa kecil San kembali berputar dalam memorinya. ‘Sabeom-nim kkee kyeonglye!’ (Sabeom-nim Kye Kyeongnae: Beri hormat kepada Sabeom) ujarnya dengan logat anak kecil yang sangat menggemaskan.

12 anak usia 4-6 tahun yang berbaris di hadapan San dengan kompak membungkukkan badan mereka dan memberi hormat kepada pemuda 24 tahun itu. ‘Charyeot, Joonbi!’ ( Charyeot: bersiap; Junbi: posisi siap.) Kali ini, pemuda 176 cm itu berseru dengan lantang, yang kemudian disambut dengan perubahan posisi kuda-kuda murid-muridnya.

Kelas hari itu berjalan lancar, seperti biasanya. Tanpa ia sadari, ada sepasang mata mengamatinya. Yang jelas, mata itu bukan milik kakak maupun ayahnya. San pun menyadari ada sosok yang tengah menonton dari balik tembok. Kelas sudah berakhir pukul 4 sore. Anak-anak sudah pulang, yang tersisa di situ hanya San, yang masih menenggak sebotol air dingin yang telah disiapkan kakaknya, dan dara yang masih bersembunyi itu.

‘Keluar aja, udah pada pulang kok,’ San terkekeh ringan sembari mengusap kepalanya yang basah oleh keringat dengan handuk kecil. Ternyata, dia sadar juga diliatin.

Gadis itu muncul dari balik persembunyiannya, malu-malu karena udah kegep sama obyek yang lagi dia amati. San seperti terbius ketika menatap kedua manik mata coklat milik gadis berambut ekor-kuda di hadapannya. Rasanya, seakan ada sesuatu yang pernah hilang dari hari-harinya kembali datang menghampirinya. Tapi San masih belum tau apa itu. Yang jelas, it seems so familiar to him. Dobok atau seragam taekwondo masih melekat di tubuh mungil sang dara. Kalau dari sabuk yang dikenakan gadis itu, ia nampak belum terlalu lama berlatih taekwondo di dojang.

‘Baru mulai taekwondo kah?’ San mengawali perbincangan walau sedikit canggung.

‘Iya, maaf lancang ngintip kelas kamu,’ sang gadis menunduk malu-malu.

‘Pasti karena kelas gue rame banget,’ kekeh San. Yang disambut anggukan dan senyum manis dari gadis yang rambutnya diikat ekor-kuda itu.

‘Kamu keren bisa ngajar anak-anak kecil,’ puji gadis itu lagi.

‘Gue emang suka anak-anak. Anyways, lo ikut kelas Kak Christy?’ tanya San.

‘Aku dilatih sama Kak Christy. Tapi kayaknya aku mulai telat banget ya? 24 tahun baru banget mulai Taekwondo,’ Gadis itu terhenti sejenak. Ia bahkan belum memperkenalkan dirinya. ‘Oh iya, Aku Maira.’ Ia mengulurkan tangannya.

‘Gue San,’ San menyambut tangan gadis itu sambil tersenyum. ‘Adiknya Kak Christy,’ lanjutnya. ‘Actually, lo nggak telat kok. Nanti, kalau semisal lo butuh temen buat extra practice poomsae atau kyukpa, hubungin gue aja.’ (poomsae: koreografi taekwondo yang menyerupai tarian dengan gerakan dasar taekwondo. Kyukpa: menghancurkan papan dengan tendangan atau pukulan)

‘semuanya mulai dari kecil, sementara aku mulai dari umur segini,’ Maira menghela nafasnya.

‘Hey, jangan gitu.There’s no late in starting anything. Yang penting niat dan ketekunan lo aja.’ Kekeh San santai. ‘Anyways, gue laper. Gimana kalau sekarang kita ganti baju dan beres-beres. Habis itu let’s go grab some healthy dinner,’ ungkap San sembari mulai bergerak merapikan ruang latihan indoor itu dan mengangkat tas nya.

Maira mengangguk dan membantu San. Setelah itu, keduanya berjalan ke ruang ganti (yang tentunya terpisah antara cowok dan cewek) untuk mandi dan mengganti pakaian mereka yang udah basah sama keringat.


Pertemuan pertama mereka berakhir di halaman depan rumah Maira. San turun dan membukakan pintu mobilnya untuk sang dara manis yang mengisi bangku penumpang di sampingnya.

‘Thanks ya, San,’ ujar Maira sambil tersenyum.

‘Ketemu lagi di dojang ya,’ San berpamitan sambil bersandar di mobil dan menunggu sampai Maira masuk ke dalam rumahnya.

‘Pasti!’ Maira tersenyum. Ada binar di kedua manik coklat Maira yang begitu membuat seakan-akan San tersihir olehnya. ‘San…’ Maira memanggil San yang udah balik badan mau masuk ke mobilnya.

‘Ya?’ San menoleh dan membalik badannya menghadap gadis yang kini sudah masuk ke dalam pagar halaman depan rumahnya.

‘Nanti kabarin aku kalo kamu sampe. Pinjem handphone kamu,’ ucap gadis manis berambut panjang itu.

San hanya mengangguk dan menyerahkan ponselnya.

‘Jangan lupa kabarin aku,’ si pemilik nama Maira itu memasukkan nomor ponselnya di dalam kontak ponsel San dan mengembalikkan benda berlayar datar itu pada sang pemilik yang berdiri di hadapannya.

‘Gue balik ya. Ketemu lagi hari Selasa, Mai! Jangan telat. Sebelum kelas sama Kak Christy, lo harus latihan Taegeuk Yijang sama gue,’ Inilah San dan segala upaya modusnya.


Mata Maira mengingatkan San pada sesuatu yang amat familiar. Seseorang yang selalu mengisi pikiran San. Yang sudah jadi bintang terang di atas sana, seseorang yang membuat San gagal melangkah ke depan. Ya, kedua manik coklat itu mengingatkan San pada sepasang orbit coklat milik almarhum Ara. Hari itu, pemuda yang tengah mempersiapkan tugas-tugas kampusnya berhenti dari rutinitasnya itu dan membuka album foto berisi seluruh kenangannya bersama gadis yang sempat mengisi hari-harinya dahulu kala.

San menatap foto kelulusan SMP mereka. Di sana nampak Ara yang tengah memeluk lengan San dan menatap wajah San dengan wajah gembira yang separuhnya masih tertutup masker. Ya, mata itu, mata yang selalu tabah dan gembira menghadapi hari walau tahu hidupnya tinggal sebentar lagi. Mata kecoklatan itu yang membuat San nggak pernah bisa memalingkan hatinya pada wanita lain.

‘San,’ terdengar suara dari balik pintu kamarnya.

San mengusap air matanya dan menutup album penuh kenangan itu sembari beranjak membukakan pintu bagi orang yang bertamu ke kamarnya. Dari suaranya, San tahu itu Krisna. ‘Ya kenapa, Bang?’ tanya San, suaranya masih sedikit parau seperti orang yang menahan tangis.

‘Astaga, lo kenapa?’ tanya Krisna yang langsung nyeruduk masuk ke kamar San.

‘Nggak papa, bang,’ San menggeleng.

‘Bohong, nggak mungkin lu nggak papa, San,’ Sahut Krisna sambil mengambil album yang masih bertengger manis di ranjang San. ‘Sanjaya & Tiara,’ Krisna bergumam membaca tulisan di label usang yang menutup laman depan album tersebut.

San terdiam, kepalanya tertunduk. Air mata yang tadinya tertahan di pelupuk matanya kini meleleh membasahi pipinya dan jatuh ke punggung tangan yang bertumpu di lututnya, berusaha menyangga separuh berat tubuhnya. ‘Nggak mungkin dia donorin matanya kan? Nggak mungkin dia ninggalin sesuatu selain liontin ini kan?’

‘Lu pasti kangen sama Tiara ini kan?’ Krisna menepuk-nepuk punggung San.

‘Dia cinta pertama gue. Tapi, sampe sekarang gue nggak bisa ngelupain dia, banyak hal yang dia ajarin ke gua, tanpa gue sadari,’ jawab San, masih bersimbah air mata dan menangis tersedu-sedu.

‘Mungkin, bintang terang itu sekarang akan dateng lagi ngewarnain hari lo,’ Krisna masih berusaha menenangkan Sanjaya.

‘San, Ara di atas sana, ngeliat lo sedih gini pasti dia juga sedih. Dia pengen lu bahagia di sini,’ Joseph yang tadi sempat mengintip ke dalam kamar San akhirnya nyeruduk masuk juga.

‘Gue liat mata Ara, tapi dia bukan Ara, Seph. Orang lain. Tapi matanya…’ Sanjaya tersendat. Seluruh rasa rindu yang selama ini tertahan dalam dadanya seakan keluar begitu saja. Bintang terang yang dulu pernah menyinari malam kelamnya, yang masih menjaganya sampai saat ini.

‘San, tenangin diri lo. Besok gue mau kasih tau sesuatu sama lo. Tapi nggak di saat seperti ini,’ Tukas Joseph sambil membantu Krisna menenangkan Sanjaya.


[BERSAMBUNG]

Saved: 26/04/2021 12:47 Word Count: 1.376 words

Still Here tentang Krisna


𝖶𝗁𝖾𝗇 𝗍𝗁𝖾 𝖻𝗈𝗍𝗍𝗈𝗆𝗅𝖾𝗌𝗌 𝗇𝗂𝗀𝗁𝗍 𝗉𝖺𝗌𝗌𝖾𝗌 𝖳𝗁𝖾 𝖻𝗋𝗂𝗀𝗁𝗍 𝗌𝗎𝗇𝗅𝗂𝗀𝗁𝗍 𝗐𝗂𝗅𝗅 𝗂𝗅𝗅𝗎𝗆𝗂𝗇𝖺𝗍𝖾 𝗒𝗈𝗎 𝖨’𝗅𝗅 𝖻𝖾 𝗍𝗁𝖾𝗋𝖾 𝖿𝗈𝗋 𝗒𝗈𝗎... Still Here, ATEEZ


Setelah hari ulang tahun Rama kemarin, Krisna jadi lebih sering pergi ke café dengan dalih menemani Rama. Padahal pemuda tampan itu punya agenda terselubung sendiri. Yang kita tahu, Krisna sempat bertukar nomor ponsel dengan Gita, kasir cantik di café tersebut. Dan belakangan, selain sering mencari-cari alasan buat main ke café, Krisna juga sering meluangkan waktunya untuk ngobrol dengan Gita via whatsapp call maupun chatting. Entah mengapa, belakangan ini, ngobrol dengan Krisna jadi salah satu zona nyaman gadis manis yang akrab disapa Gita itu.

Beberapa minggu berlalu dengan cepat, meski sekarang café agak sepi, hari-hari Gita nggak pernah sepi karena literally setiap hari ada sosok Krisna menemani dirinya, baik secara virtual maupun secara visual. Di saat-saat tertentu, Gita bisa menemukan kembali semangatnya. Seperti layaknya hari ini. Krisna nongkrong di café hanya sekedar untuk baca buku sambil menikmati kopi dan kuenya.

Di hadapannya ada sebuah buku sketsa tempat ia menuangkan ide untuk memodifikasi pakaian-pakaian lamanya. Di waktu yang bersamaan, karena café sepi pengunjung, Gita duduk di samping Krisna sembari ikut mencoret-coret buku sketsa Krisna. Tentunya sudah seizin pemilik buku itu.

‘Kamu capek ya?’ tanya Krisna sambil menatap Gita. Disambut anggukan letih dari sang gadis.

‘Yah gitu lah,’ Gita menghela nafasnya sambil menyandarkan dagunya di atas topangan kedua tangannya.

‘Git,’ panggil Krisna sambil menyesap kopinya.

‘Hmm,’ Gita menyahut.

‘Mau cerita nggak?’ tawar Krisna.

‘Kak, kenapa ya, skripsian tuh bikin tertekan banget. Capek banget rasanya. Kak Krisna gitu juga ga sih?’ Gita memanyunkan bibirnya sambil melirik tangan Krisna yang masih asik memadu-padankan warna di sketsanya.

‘Dijalanin aja, Git. Aku juga gitu. Kadang rasanya mau nangis kalo revisian dicoret berlembar-lembar sama dosen. Tapi ya, mau gimana?’ Krisna menaruh pensil warnanya dan tersenyum. Adem banget tuh senyumnya Krisna. ‘Kamu ga sendiri kok, Git. Aku juga masih dalam fase itu. Makanya aku sering cari suasana baru buat ngerjain skripsi atau sekedar ngelepas penat.’ ‘Kak, kok kamu bisa positif banget sih?’ tanya Gita sembari menatap Krisna bingung. Bingung dengan Krisna yang terkesan santai tanpa beban sama sekali.

Padahal sebenarnya, Krisna juga punya bebannya sendiri. Banyak beban pikiran Krisna yang tersembunyi di balik sikapnya yang begitu positif. Krisna sebenarnya menghadapi juga banyak kesulitan dalam hari-harinya. Terkadang, semua itu hanya disimpannya sendiri karena dia tau setiap orang punya struggle masing-masing.

‘Semua orang punya struggle masing-masing, Git. Dan aku nggak mungkin membebani mereka dengan bebanku juga,’ sebuah kalimat yang dalam meluncur lewat mulut Krisna diiringi senyum yang bikin hati adem dan cewek-cewek mleyot.

‘Bener juga ya,’ Gita mengangguk.

‘Tapi, Git, kalo kamu capek, aku jangan dianggurin. Kalo mau senderan di pundakku, aku ada setiap saat. Walau bahuku nggak selebar Samudera Hindia, tapi masih nyaman buat disenderin kok,’ Krisna berusaha melucu.

Gita hanya tersenyum tipis sambil bergeser ke samping Krisna dan menyandarkan kepalanya di bahu pemuda 24 tahun itu. ‘Makasih ya, kak. Untung ada kamu,’ Gita berujar.

Tanpa diperintah, tangan Krisna bergerak membelai rambut hitam yang ujungnya diberi aksen warna biru, senada dengan rambut pemuda 172 cm itu. ‘Kita jalanin sama-sama. Kalau sendiri, pasti berat. Tapi aku yakin kalo dijalanin bareng, semuanya terasa lebih ringan, Git,’ ujar Krisna yang disambut anggukan kecil dari gadis manis itu.

[time skip, 2 bulan kemudian]

Hari, minggu, bulan terlewat begitu saja. Tak terasa, dua bulan berlalu dengan begitu cepatnya. Banyak kisah yang terjadi, walau banyak cerita yang di akhir hari akan berakhir dengan senyuman atau pelangi yang penuh warna, namun cerita-cerita itu diawali dengan air mata ataupun badai nan kelam. Tak jarang kala hujan deras mengguyur ibu kota, Gita minta ditemani Krisna via video call. Tapi nggak jarang juga ketika dua-duanya saling membutuhkan dukungan dari satu sama lain, mereka terhalang hujan ataupun sinyal buruk.

Akhirnya, setalah sekian lama ngerjain skripsi dan dikejar dengan deadline revisi, Krisna berhadapan dengan dosen penguji di suasana sidang skripsi. Pagi itu, Krisna nampak klimis, ganteng banget dengan setelan jas abu-abu, kemeja putih gading, dasi hitam dan sepatu pantofel hitam mengkilap. Rapi banget, di bahunya tergantung sebuah tas kulit berisi beberapa set soft-cover skripsi miliknya dan laptop yang akan ia gunakan untuk mempresentasikan hasil kerjanya selama ini.

‘Kris, you got this,’ Rama menepuk bahu Krisna, memberikan semangat yang dibutuhkan sang adam untuk menghadapi sidangnya.

‘Nanti kabarin kita, Mas Kris. Tapi gue yakin sih Mas Kris minimum cum laude,’ celetukan Sanjaya disambut anggukan dari Joseph dan Jovan.

‘Mbak Gita ga dikabari, Mas?’ kini si bungsu, Jafar, nyeletuk dengan senyum jahil.

‘Nanti deh, dia juga lagi sidang,’ jawab Krisna seadanya. ‘Tapi udah janji sih mau saling ngabar-ngabarin lagi habis sidang nanti.’

‘Ciee, bareng-bareng,’ Jovan dan Joseph nyeletuk sambil nyengir jahil.

‘Udah ah, gue berangkat ya, wish me luck!’ Krisna meminta doa restu dari teman-temannya.

‘AAAMMMIIIINNN!’ sahut ketujuh orang dari dalam rumah. Ucapan itu menghantar Krisna berangkat menghadapi sidang pagi itu.

Sidang sudah berakhir sekitar 20 menit yang lalu, Krisna masih menunggu di luar ruang sidang. Namanya belum dipanggil untuk pengumuman hasil sidang kala itu. Begitu pula Gita, di kampus lain, Gita pun tengah menunggu pengumuman hasil sidangnya. Keduanya masih diselimuti ketegangan. Hari itu, Krisna berjanji pada dirinya. Apapun hasil sidang yang diterimanya, ia akan menyatakan perasaannya pada Gita. Ia menanti waktu yang tepat. Dan ini adalah saat yang tepat. Ditengah ketegangan menunggu hasil, ia menekan nomor ponsel Gita dan menelfOn gadis itu.

‘Gita,’ panggil Krisna.

‘Kak Krisna,’ Sahut Gita dari seberang. Suaranya bergetar, masih sisa-sisa tegang presentasi pastinya.

‘Sebenernya, aku maunya nunggu sampe entar pas selesai pengumuman. Tapi udah nggak sabar mau ngomongin ini sama kamu,’ Krisna berhenti sebentar. ‘Dengerin ya…’

Gita mengangguk dalam diam.

‘Gita, di luar sana akan ada banyak badai. Tapi kita hadapin sama-sama ya. Aku nggak sempurna, tapi aku akan berusaha angkat kamu kalo kamu jatuh,’ Krisna berujar lembut. Suaranya indah banget di telinga Gita. ‘Git, kamu mau jadi pacarku nggak?’ tanya Krisna.

Gita nggak menyangka kalau bakal dapet pengakuan cinta dari Krisna di hari itu. Ada jeda sekitar 5 menit.

Belum sempat memberikan jawaban atas pengakuan cinta dari Krisna, gadis kelahiran 1999 itu sudah dipanggil masuk untuk menerima pengumuman kelulusan sidang hari ini, begitu pula Krisna.

Siang itu, Krisna dengan bangga mengantungi gelar sarjananya dengan nilai suma cumlaude. Nafas lega pun terhembus dari bibir pemuda itu setelah hasil sidang diumumkan. Di sisi lain ibu kota, Gita keluar dari ruang sidang dengan senyum bangga. Seperti sang pujaan hati, gelar sarjana sudah tersemat di belakang namanya. Keduanya janjian ketemuan di café tempat Gita bekerja sore itu. Untuk segelas kopi dan secuil selebrasi akan kelulusan mereka.

‘Kak, gimana sidangnya?’ tanya Gita.

‘Lulus, Git. Kamu?’ Krisna bertanya balik.

‘Sama, aku juga lulus. Oh iya, soal jawaban pertanyaan kakak tadi, Gita mau jadi pacar Kak Krisna,’ ujar Gita sambil menyerahkan buket bunga carnation pink untuk merayakan kelulusan Krisna.

‘Makasih, Gita. Kita jalani semuanya bareng ya,’ Krisna membalas buket bunga dari gita dengan sebuah buket berisi 99 mawar putih dan 1 mawar merah. ‘I love you, Gita.’


The End

Saved: 21/4/2021 17:05 Word Count: 1.159 words

From Long Gone But Never Forgotten A short Narration


Ini tentang Arteez dan Juniar Angkasa Limantara (Lee Junyoung). Nggak banyak yang kenal Jun. Walau sekarang Jun jauh, tapi Jun tetap punya tempat spesial di hati Kakak-kakak Arteez.


Udah 3 tahun berlalu sejak Jun mulai sering nongkrong bareng di kontrakan tempat Krisna, Rama, Jovan, Kenzie, Sanjaya, Mahanta, Joseph dan Jafar tinggal. Dulu, waktu awal-awal mereka tinggal di sana, rasanya Jafar masih SMA dan sering banget ngajar tutoring buat adik kelasnya.

Namanya Juniar, setahun lebih muda dari Jafar dan sering kegiatan kepanitiaan bareng Jafar. Alhasil, kalo rapat kepanitiaan, Jun sering nebeng nginep di kontrakan, bareng Jafar. Sayangnya, akhir tahun 2018, Jun harus hijrah ke Amerika untuk menjalankan studinya. Walau begitu, sampai saat ini, Jun masih sering bertukar pesan atau sekedar ngobrol bareng sama kakak-kakak ARTEEZ yang selama ini jadi temen mainnya selain temen-temennya di sekolah.

Kalau kangen Indonesia, Jun pasti langsung menghubungi salah-satu kakak-kakaknya itu. Hari itu, masih di bulan Ramadhan, Siang yang cukup terik menyinari kota Jakarta. Kalo kata Joseph, bawa aja wajan sama telor keluar, terus wajan nya ditaruh di jalan, entar bisa bikin telor ceplok gausah boros gas. 8 anak muda tampan itu sedang duduk di ruang tengah sambil melakukan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang asik bermain playstation, ada yang sibuk nyiapin menu berbuka buat yang lagi berpuasa, ada yang sibuk dengan setumpuk sumber pustaka buat skripsinya, ada yang sibuk nonton Netflix, dan ada juga yang masih menjalani kelas Kul-On alias Kuliah Online.

Tiba-tiba terdengar si bungsu, Jafar, menghela nafasnya. Sebenernya Jafar cuma habis scrolling galeri foto ponselnya, ngeliatin foto-foto liburan ke Suramadu beberapa tahun silam, bareng sama Juniar, tepat sebelum peristiwa penuh air mata alias nganter Jun ke airport untuk melepas pemuda, yang kala itu masih berusia 17 tahun, meninggalkan Indonesia untuk menempuh pendidikan dan petualangannya di Amerika.

‘Kangen ya,’ Mahanta menarik bangku dan duduk di samping Jafar sambil menatap layar ponsel Jafar.

‘Kira-kira sekarang kabar Jun gimana ya, bang?’ tanya Jafar sambil masih menatap foto-foto liburan terakhir mereka bersama Jun.

‘Dulu, terakhir kali kita facetime sama Jun, dia masih nangis-nangis karena nggak betah di sana. Inget nggak?’ Mahanta menopang dagunya. Saat itu, bak film, semua memori yang mereka lewati bersama Jun seperti berputar kembali dalam otak pemuda 183 cm itu.


Flashback—

Seperti biasa, hari itu Jafar pulang ke kontrakan berdua sama Jun. Belakangan, Jun sering banget nginep di kontrakan ARTEEZ. Jun bukan tipe yang banyak omong, tapi setiap kali dia nginep, semua anak ARTEEZ ngerasa kalau kehidupan mereka lebih berwarna. Mama dan papa Jun kenal deket juga sama anak-anak di kontrakan, terutama Rama, Krisna dan Jafar. Sebenernya, frekuensi Jun yang jadi lebih sering menginap di sana merupakan cara Jun untuk mengutarakan sesuatu sama kakak-kakak yang disayanginya itu. Jun mau pamit karena hasil ujian masuk nya ke University of Columbia sudah keluar dan Jun harus segera bertolak ke negeri paman sam dalam waktu dekat.

Malam itu, libur kenaikan kelas terakhir Jun di Jakarta.

‘Mas Krisna, Jun boleh ngobrol sama Mas nggak?’ pinta Jun. Saat itu, ruang tengah sudah kosong. Tinggal Krisna dan Rama.

‘Sama Rama juga?’ tanya Krisna setelah membalas permintaan Jun dengan anggukan.

Jun hanya mengangguk. Dari tadi, Jun hanya bisa menatap permukaan meja makan dengan gelisah. Rama dan Krisna cukup peka untuk menangkap kegelisahan adik bungsu satu ini.

‘Jun mau ngomong apa?’ Rama memulai pembicaraan.

‘Jun, ngomong aja. Mas Krisna sama Mas Rama bakal bantu kalo kita sanggup,’ Krisna berujar. Suaranya lembut dan menenangkan banget. ‘Nggak lagi berantem sama Jafar kan?’

Jun menggeleng menjawab pertanyaan terakhir dari Krisna. ‘Anu – ehm – gimana ya ngomongnya. Sebenernya, Jun mau pergi, jauh. Kemarin emailnya baru diterima, Jun lulus tes dan harus berangkat ke Amerika bulan depan. Tapi—’ Jun terdiam sesaat.

‘Tapi?’ Tanya Rama.

‘Jun nggak rela ninggalin kakak-kakak di sini. Rasanya baru sebentar kenal sama kalian. Baru aja mulai akrab, tapi harus pisah,’ pemuda 17 tahun itu menunduk.

‘Jun, kita emang bakal kepisah sama jarak dan waktu, tapi kita masih bisa komunikasi kok. Kalo kangen, ada skype atau whatsapp call buat ngobatin kangennya sementara.’ Krisna tersenyum dan menepuk bahu adik yang terpaut 3 tahun lebih muda darinya itu.

‘Gimana kalau kita semua liburan ke Surabaya, sekalian liat jembatan Suramadu buat perpisahan sama Jun,’ usul Rama. ‘Nanti kalo semua oke saya ambil cuti.’

‘Omongin liburannya aja dulu, ga usah bawa-bawa soal kuliahnya,’ usul Krisna.

Ternyata, tanpa mereka sadari, dari tadi di balik tembok ada yang sembunyi, awalnya oknum mencurigakan ini hanya ingin ambil minum di dapur. Tapi, waktu dengar pembicaraan serius antara tiga orang tadi, nggak jadi-lah mereka ngambil minum. Yang ada, dua sekawan alias Sanjaya dan Joseph malah ngumpet sambil nguping di balik tembok yang menyekat ruang makan dan ruang tengah itu.

‘San, Joseph,’ Rama yang peka banget sama suara grasak-grusuk di balik tembok langsung memanggil duo heboh itu untuk keluar dari persembunyian mereka.

‘Cuma mau ambil minum doang kok,’ Joseph ngeles.

‘Tapi seriusan kan, Dek? Bukan prank doang?’ Sanjaya menatap serius ke arah Jun, mencari mata sang adik.

Jun hanya mengangguk sambil menatap San. Kehabisan kata-kata. Sanjaya tersenyum dan memeluk si bungsu ini. Yang nggak disangka terjadi juga. Jun yang dari tadi menahan air matanya seketika menangis sesenggukan kayak anak kecil yang baru aja ditinggal orang tuanya. ‘Jun, kita nggak kemana. Kalau Jun kangen rumah nanti, tinggal call aja ya, dek,’ Sanjaya membelai punggung Jun untuk meredakan tangis pemuda itu. Alih-alih reda, tangis Jun makin menjadi.

‘Udah disimpen lama kayaknya,’ Krisna menepuk-nepuk bahu Jun lembut.

‘Jun, tidur aja. Jangan terlalu dipikirin. Suatu saat memang harus ada perpisahan, tapi kita pasti bertemu lagi kalo Tuhan mengizinkan,’ Joseph tersenyum dan ikut memeluk Sanjaya dan Juniar.

Keesokan paginya, Krisna keluar dari kamar dan menemukan pemandangan menggemaskan di ruang tengah. Joseph, Sanjaya dan Juniar udah umpel-umpelan di sofa, tidur dengan posisi saling peluk-pelukan. Krisna sampe ngucek-ngucek matanya lagi buat memastikan itu bukan halusinasi semata. Perlahan semua mulai berdatangan ke ruang tengah dengan muka bantal masing-masing dan terkejut melihat keuwuan yang terjadi di ruang tengah.

‘Kok jadi pada tidur di sofa?’ tanya Kenzie sembari mengusap matanya dengan punggung tangannya.

‘Semalem…’ Hampir aja Rama membeberkan apa yang seharusnya jadi bagiannya Jun untuk ngasih tau semuanya. Untung terhenti setelah Krisna mencubit perut Rama. ‘ADUH! KRISNA KENAPA SIH!?’ Rama mengaduh, dihadiahi cengiran jahil dan gelengan kepala dari pemilik nama Krisna Haridra Bhamakerto tersebut.

‘Semalem ada apa?’ tanya Jafar.

‘Nanti biar Jun yang cerita sendiri. Kasian semalem mikir terus,’ kekeh Krisna sambil mengisyaratkan agar semuanya menunggu 3 beruang kecil itu di ruang makan.

Setelah semua bangun dan menikmati sarapan, Krisna memberi isyarat supaya Jun menyampaikan berita tentang kepindahannya dan liburan terakhirnya bersama teman-temannya. Sanjaya menangkap tatapan Jun yang duduk di seberangnya dan mengangguk, memberikan dukungan moral pada pemilik nama Juniar Angkasa Limantara itu.

‘Kak Jafar, Kakak- kakak semua,’ Jun mengumpulkan seluruh keberaniannya. ‘Jun mau pamit. Aduh, gimana ya ngomongnya,’ Jun menggaruk tengkuknya yang nggak gatal.

‘Mau pamit kemana?’ tanya Jovan bingung.

‘Emang adek mau kemana?’ Kenzie mengernyitkan keningnya. Bingung.

‘Anu—jun mau pamit, Akhir bulan ini, Jun berangkat ke Amerika. Mau kuliah di sana. Rencananya, Jun mau ajak kakak-kakak semua jalan bareng ke Suramadu buat trip terakhir sebelum berangkat ke Amrik,’ akhirnya Jun mengeluarkan seluruh kalimat yang disimpannya dengan rapi selama menginap di kontrakan ARTEEZ seminggu terakhir ini.

Singkat cerita, minggu berikutnya, semua bertolak ke Surabaya. Selama seminggu, mereka semua menikmati hari-hari terakhir mereka sebelum berpisah dengan Juniar, adik bungsu yang walau Cuma bertemu sebentar, tapi punya banyak cerita bersama dengan abang-abangnya. Seminggu berlalu dengan cepat. Minggu berikutnya dihabiskan dengan berbagai persiapan sebelum pemuda 17 tahun itu sungguh-sungguh bertolak meninggalkan negeri kelahirannya untuk menempuh Pendidikan ke negeri paman sam.

Airport, Hari keberangkatan Jun ke Amerika.

‘Jun, hati-hati ya,’ Jafar yang biasanya nggak suka dengan kontak fisik memeluk adik kelas kesayangannya itu.

‘Kalau udah transit video call aja, barang sebentar,’ Rama mewanti-wanti, disambut anggukan dari yang diwanti-wanti.

‘Kak San, Kak Joseph, Adek berangkat ya,’ pamit Jun sambil mengulurkan tangannya untuk melakukan fist bump. Bukannya dibalas dengan fist bump, Sanjaya dan Joseph menarik tangan Juniar dan memeluk adik bungsu mereka.

‘Kabarin ya, dek,’ Krisna terkekeh. ‘Dek, inget ini ya, selama kita ada di bawah langit yang sama, arungilah angkasamu dan kembalilah mendarat di rumahmu di saat yang tepat.’

Ya, dengan ini, kesembilan orang ini terpisah oleh jarak dan waktu. Walau demikian, walau terkadang perbedaan waktu memisahkan mereka, delapan-delapannya selalu ada waktu tidur mereka terganggu hanya untuk mendengarkan tangisan rindu si piyik kecil yang pergi ke negeri orang.

Flashback end.—


saved: 16/04/2021 09:22 word Count: 1.402 words

Celebrate A short Story — Cast: Rama Parikersit Siregar (creds to @ateezlokalan ) Krisna Haridra Bhamakerto (creds to @ateezlokalan ) Gita Lusia Mahardika (creds to @lokal_dc)


1 April 2021, suatu siang cerah. Kayaknya semua lupa hari ini adalah hari dimana menipu atau berbohong dihalalkan. Rama sedang asik mengerjakan setumpuk pr yang diberikan kantornya di sebuah cafè baru yang terletak di dekat komplek perumahan tempat kontrakan yang ia tinggali bersama dengan anak-anak ARTEEZ berada. Suasana cafè yang sangat homey dan dekorasinya yang tak terlalu ramai membuat banyak mahasiswa dari berbagai tingkat betah berlama-lama nugas ataupun sekedar ngobrol di tempat itu. Sayangnya, semenjak pandemi jumlah pengunjung yang diizinkan masuk dan jam operasional.

Sebenernya seisi kontrakan udah heboh karena ini sudah tanggal 1. Tapi alih-alih ingat perihal hari ulang tahunnya, Rama justru melupakan pergantian usianya lantaran setumpuk tugas beserta revisian laporan yang sudah menumpuk dan membuatnya melupakan hari jadinya itu. Rama sih biasa-biasa saja perihal ulang tahunnya. Tapi coba kita lirik suasana kontrakan saat itu. Krisna yang tadi lagi anteng baca buku di ruang makan tiba-tiba dihampiri si kembar dempet, Sanjaya dan Joseph.

‘Bang,’ panggil Joseph. Yang beneran dicuekin sama pemilik nama Krisna itu.

‘Bang Krisna,’ kali ini Sanjaya buka mulut sambil nyentil pelan buku yang ada di tangan Krisna, membuat si pemilik nama mengalihkan pandangan dari paragraf seru yang tengah dibacanya ke kedua orang di hadapannya.

‘Apaan sih?’ Krisna menyekat novel itu dengan selembar kertas post it yang ditemukannya di halaman belakang buku yang tengah dibacanya itu.

‘Ini udah April loh,’ Joseph melempar kode pertama.

‘Iya? Terus kenapa kalo udah April?’ tanya Krisna bingung sambil melirik kalender yang ada di ponselnya.

‘Tanggal 3 kan Bang Rama ultah,’ timpal Sanjaya sambil ngasih unjuk kalender meja yang udah dilingkar-lingkarin tanggal ultah penghuni kontrakan mereka.

‘Oh iya, anjir. Belom beli kue,’ Krisna menaruh novelnya di atas meja. ‘Mahanta, Kenzie, Jovan, Jafar, sini dulu deh. Kok bisa pada lupa semua sih?’ tanya Rama sambil setengah berteriak untuk mengumpulkan personil ARTEEZ yang tengah tersebar di seluruh penjuru rumah.

‘Kue mah bisa entaran, Bang. Yang penting entar pas ultah dia kita mau ngapain?’ Jovan mengernyitkan keningnya.

‘Anyways, kalo soal kue beres, gue udah pesen ke tempat langganan gue. Bisa diambil besok. Cuma, simpennya di mana? Kulkas penuh, Bang Rama baru kelar isi lemari es kemarenan.’ Timpal Kenzie sambil membuka kulkas dapur. Kulkasnya beneran penuh ga ada tempat lagi buat simpen kue.

‘Nitip di café depan komplek aja,’ usul si bungsu, Jafar.

Krisna mengetuk dagunya dengan jemarinya, udah kayak bapak-bapak aja. Kemudian, setelah mikir beberapa lama, sang pemuda 172 cm itu membuka mulutnya, ‘Ya udah, besok gue ambil kuenya, gue titipin sama café sana. Cuma pastiin lagi besok Rama bakal sibuk di kampus atau di rumah. Dia suka nongkrong di café itu soalnya.’

Siang itu, Rama lagi-lagi asik dengan laptop dan tumpukan materi kerjaannya. Entah sudah berapa gelas es coklat yang disesapnya sedari pagi tadi. Barista yang bertugas kala itu saja sampai geleng-geleng kepala karena kakak ganteng yang satu itu betah banget bertandang di bangku di pojok café, dekat jendela besar. Sudut estetik yang sering dipakai orang untuk berfoto atau ngonten di sosmed. Rama juga kayaknya nggak nyadar kalau sedari tadi Mbak Barista itu mengamatinya dari konter. Sesekali Rama memeriksa ponselnya kalau-kalau ada panggilan atau pesan dari teman-temannya maupun dari kantornya. Biasanya sih pada nitip kebutuhan bulanan buat di kontrakan.

Rama duduk di depan laptopnya sembari menopang dagunya dengan tangannya, sekali-kali ekor matanya melirik ke mbak barista di konter kasir. Rama nampak mengenali sosok barista itu, kayaknya ia pernah bertemu dengan gadis itu entah dimana. Tapi, ya sudah lah, biar saja lalu. Rama kemudian kembali berkutat dengan kerjaan yang tak kunjung selesai itu.

Pasalnya, besok tanggal 2 dan Rama harus menjalankan ibadah Jumat Agung di Gereja, mama sudah mewanti-wanti Rama supaya pemuda 178cm ini tak lupa beribadah, mendekatkan diri pada Tuhan. Dan sebagai umat yang taat beragama, Rama nggak ingin ibadahnya terganggu lantaran keinget sama tugas-tugas nya yang menumpuk itu. Jadi ya, dengan terpaksa, Rama harus menyelesaikan semuanya di jadwal WFH tanggal 1 April itu.

Kalau dipikir-pikir, semakin kesini, semakin sering WFH, Rama jadi jarang banget bisa ngobrol sama Dilara. Waktu bareng-bareng mereka berkurang banget semenjak WFH-WFH ini. Padahal ya, dua-duanya juga WFH, tapi disibukkan dengan segudang take-home assignments yang nggak pernah berakhir. Akhirnya, yang dikorbankan ya WaKunCar alias Waktu Kunjungan Pacar. yang semula mungkin cukup sering, jadi cuma seminggu dua kali, bahkan sekali, setiap minggu, alias ibadah bareng. Ibadah barengnya bukan cuma berdua, tapi sama Kak Sarah.

Di mata Rama, Sarah memang sosok kakak perempuan dan hanya sebatas itu. Tapi buat Dilara, kedekatan itu membuat gadis itu gelisah, takut sosok Rama yang dicintainya tak lagi menganggapnya sebagai prioritasnya. Dilara hanya takut Rama diambil oleh orang lain.


2 April 2021,

Usai ibadah Jumat Agung di Gereja bersama Rama dan Sarah tadi, setelah Dilara, Sarah dan Rama sudah di rumah, Dilara melayangkan chat singkat pada sang kekasih. [https://twitter.com/ateezlokalan/status/1377964757127294982?s=20]. Rama masih sayang dan nggak mau putus sama Dilara auto panik dan segera berkemas untuk nyusulin sang kekasih ke Bandung. Pokoknya, dalam otak Rama, Ia hanya ingin mempertahankan hubungannya dengan kekasih yang amat disayanginya itu. Tak peduli waktu itu sudah tengah malam. Rama tetap berangkat.

Tindakan Rama yang serba terburu-buru dan spontan itu membuat seisi kontrakan ber-delapan itu auto panik, nggak biasanya Rama begini. Keliatan banget adek-adek kesayangan Rama panik melihat abang yang biasanya kalem ini jadi kayak orang kebakaran jenggot seperti sekarang. [https://twitter.com/ateezlokalan/status/1377972247923593216?s=20]. melihat Rama panik, semuanya jadi panik menghadang Rama. mereka takut, Rama hanya melakukan itu karena panik semata. insiden ini hampir saja menggagalkan rencana teman-teman Rama untuk memberinya kejutan di hari ulang tahunnya.


[flashback ke tadi sore waktu Rama ke Gereja]

/kling/

suara bell yang terkait di engsel pintu cafè membuat kepala Gita yang tengah menunduk, menatap layar benda pipih yang sedari tadi mengalihkan perhatiannya, tiba-tiba terangkat.

'Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?' Gita menyapa pemuda berambut pirang yang baru masuk tadi dengan senyumnya.

'Sore, mbak. Mbak tau Rama kan?' tanya pemuda itu.

'Rama?' Gita mengernyitkan dahinya.

'Itu loh, yang tinggi, suka bawa laptop sama tumpukan buku ke sini,' si pirang menjelaskan lagi.

'Oh iya, kenapa?' tanya Gita.

'Ya Allah, Mbak cantik, gue buru-buru nih. gini, besok tuh Rama ulang tahun, dan kita mau surprise in dia malem ini. cuma ini kan kue eskrim, gue takut meleleh dan ga bisa disimpen di rumah karena kulkas kami penuh,' jelas Krisna. 'Titip di sini dulu ya, beberapa jam aja. Gue harus buru-buru balik nih. emergency.'

'Eh-Oh, boleh, sini aja, mas,' balas Gita sambil mengulurkan tangannya.

ada kali 5 menit Krisna bengong sambil menatap wajah Gita, mengagumi kecantikan sang dara.

'Mas, katanya mau nitip kuenya?' Gita melambaikan tangannya di depan wajah Krisna.

'Oh iya, ini,' Krisna memberikan bungkusan kue itu pada Gita. 'Gue minta nomor telfon lu ya, supaya bisa tektokan waktu sama lu entar buat ajak yang ultah ke sini,' Krisna tersenyum sambil menyerahkan ponselnya pada Gita.

'minta tolong dibukain buat kita pas midnight ya mbak, please,' ujar Krisna lagi setelah ia menerima ponselnya kembali dari tangan Gita.

'Nanti hubungi saya lagi aja, mas. Saya Gita,' Gita akhirnya membuka mulutnya untuk memperkenalkan dirinya setelah rentetan kalimat tanpa henti dari Krisna yang menurutnya menggemaskan sekali.

'Makasih, Mbak Gita, nanti saya hubungin lagi,' Krisna mengangguk dan melambaikan tangannya pada gita. Senyum terpatri di wajahnya, senyum yang membuat Gita terbengong-bengong. Walaupun Krisna tak terlalu jangkung seperti Rama, Mahanta atau Jovan, tapi satu yang perlu semua ketahui, senyum Krisna mampu mengalihkan duniamu. Contohnya siang itu, senyumnya berhasil mengalihkan dunia Gita, karyawan Julia Coffee Cafè yang baru saja membantunya menyimpan cake eskrim untuk Rama.

[Flashback Ends]


Mari kembali lagi ke kondisi kegaduhan di kontrakan tanggal 2, tengah malam...

Sementara semua masih sibuk mencegah Rama untuk bertolak dari kontrakan menyusul Dilara ke Bandung untuk menyelesaikan segala kesalah pahaman yang membuat dirinya gundah gulana itu, Krisna sibuk bertukar pesan dengan Gita, mengatur segala sesuatunya supaya nampak rapi. beruntung Gita membawa bala bantuan beberapa staff cafè untuk membantunya mendekor cafe malam itu.

'Bang, jangan panik. ini udah jam berapa?' terdengar suara Jovan yang masih menghadang pagar dengan badan tinggi besarnya.

'Berangkat besok aja, Bang. Dia ga akan kemana kalo emang dia beneran mau menyelesaikan masalah ini sama lu,' Mahanta ikut menghadang.

'Mending sekarang abang tenangin diri, duduk dulu, gue bikinin teh anget,' kali ini Kenzie merangkul Rama sambil memberikan sinyal buat Joseph dan Sanjaya buat mengambil tas dari tangan Rama dan membawanya ke dalam rumah.

'Ram, ikut gue sebentar,' Krisna angkat bicara sambil mengajak Rama untuk masuk ke mobilnya. setelah Rama dan dirinya masuk ke mobil, ia mengirim pesan pada Jovan untuk berangkat bersama teman-temannya menyusul menuju cafe untuk memberi kejutan pada oknum Rama ini.

'Ram, sorry gue juga ga bakal kasih lo jalan sekarang ke Bandung. apa lagi dengan keadaan lo yang kalap dan kalut kayak gini,' Krisna membuka pembicaraan di mobil menuju ke cafe.

'Tapi gue harus selesaiin masalah gue sama Dilara, Kris. Harus sekarang. Gue ga mau putus sama dia,' Ujar Rama lirih.

'Iya, tapi dalam keadaan kayak gini, gue takut lu ga fokus nyetir dan malah nyelakain diri lo sendiri,' tegas Krisna lagi. 'Maaf.'

Rama hanya menunduk sambil memainkan ponselnya. jemarinya mengetuk layar ponselnya. 'Kris, maafin gue, gue panik,' Rama berujar sambil mengusap wajahnya dengan tangannya.

'Pake masker lu, kita turun di sini,' Krisna merogoh laci dasbor nya dan menarik selembar masker baru untuknya dan satu lagi untuk Rama.

'Loh, ini kan cafe tempat gue biasa nongkrong. kita mau ngapain? lagian ini kan udah tutup,' kilah Rama. Tanpa disadarinya, semua teman-temannya beserta beberapa crew cafe sudah masuk ke dalam cafe dari pintu belakang.

Dilara, sang gadis yang menjadi tambatan hati Rama pun ikut meramaikan acara surprise kala itu. Nyatanya, Dilara nggak benar-benar marah. semua ini sengaja disusun oleh Sanjaya dan Joseph buat bumbu surprise ulang tahun Rama kali ini aja, supaya seru.

Sekeliling cafe masih gelap, semua sudah bersembunyi di pos masing-masing. Dilara di dapur, masih mempersiapkan buket bunga dan kue ulang tahun bersama dengan Gita dan beberapa Crew cafe yang menyiapkan beberapa jenis minuman. Duo ribut, Sanjaya dan Joseph sudah ada di pojok tempat duduk langganan Rama dengan beberapa party popper di tangan mereka, di sisi lain ada duo jangkung bersembunyi dengan party popper di tangan mereka.

'Ikut gue, Ram,' Krisna mengajak Rama masuk ke cafe. bersama dengan bunyi /kling/ yang dikeluarkan bel di pintu masuk cafe, cafe yang semula gelap itu seketika itu berubah menjadi terang, confetti berserakan bersamaan dengan teriakan dari Jovan, Joseph, Mahanta, Kenzie, Jafar dan Sanjaya, 'HAPPY BIRTHDAY ABANG!' semuanya berseru serentak. Rama masih terpaku, bingung menatap semua kejutan ini. belum lagi matanya terbelalak lebar ketika ia melihat sosok Dilara, yang katanya ada di Bandung, mendorong trolley berisi kue ulang tahunnya dan sebuah buket bunga carnation bernuansa pink.

Seketika itu, Rama menutup wajahnya dengan kedua tangannya. bahunya bergerak naik turun. Tangisnya pecah. Pasalnya, ia sudah berpikir bahwa Dilara bener-bener ngajak putus. ternyata, semua ini hanya prank. di satu sisi, Rama lega di sisi lain, dia takut kehilangan Dilara.

'Ram, maafin aku,' Dilara merengkuh Rama dalam pelukannya.

'Ra, aku kira kamu beneran mau putus sama aku. aku takut kehilangan kamu,' Rama memeluk tubuh mungil Dilara erat.

'Mbak Gita, makasih udah minjemin cafenya. entar gue sama anak2 pasti bantuk beresin,' Krisna berujar sambil berdiri di samping Gita, menikmati indahnya rekonsiliasi antara Dilara dan Rama.

'Sama-sama, Mas. sering-sering main ke sini ya,' ujar Gita malu-malu.

'Kayaknya gue bakal sering ke sini kalo lu shift tiap siang, mbak,' Ungkap Krisna sambil melempar kedipan mautnya untuk Gita.

'Tuhkan, pasti bisa selesai tanpa harus langsung pergi ke Bandung,' tukas Joseph.

'Makasih semua,' Rama mengusap wajahnya dan tersenyum.


saved: April 03,2021

#3. Perkara Lemon Madu.

21/04/2015, pulang sekolah

Tiana nampak tengah meregangkan tubuhnya, bersiap mau berlari mengelilingi lapangan atletik yang mengelilingi lapang futsal tempat Tim Futsal yang dipimpin Bintang berlatih. Dari kejauhan, ia bisa melihat sosok Bintang yang berlari kecil mendekat kepadanya.

Ya, kalau kalian masih ingat post-it di loker pagi tadi, keduanya memang bertukar janji mau bertemu sepulang sekolah di lapangan tempat pertama kali Bintang menaruh pandangnya pada Tiana. Rambut Tiana nampak terangkat rapih dalam ikatan ekor-kuda, sementara sang wira nampak mengenakan sebuah bandana berbahan handuk untuk menghalau poninya dari mata dan dahinya.

'Mau kasih apa, Na?' tanya Bintang to the point sembari mendekat ke Tiana.

Tiana hanya menyodorkan sebuah tas tahan dingin yang didalamnya berisi sebotol air madu dingin dan sekotak manisan lemon madu. 'Kemarin mama buat lemon madu sama air madu, thought you'll need it,' Ujar gadis 16 tahun itu.

'Wah, sampein nyokap lo makasih ya. I'll eat this well,' senyum Bintang merekah. Sementara itu, 7 pasang mata lainnya menatap kedua sejoli itu dengan senyum-senyum mencurigakan. Biasa lah, habis ini, Bintang pasti bakal diserang pertanyaan oleh teman-temannya itu.

'Latihan yang bener,' Tiana menepuk bahu lelaki itu.

'Wait for me,' Bintang menyodorkan kepalan tangannya menunggu sang gadis untuk membalas /fist bump/ darinya.

'Jangan tinggalin gue,' pinta Tiana sambil membalas /fist bump/ dari sang adam. Sebenarnya ini mengacu pada ajakan Bintang untuk balik bareng usai sesi olahraga yang mereka lakukan sore itu. Tapi, wajah pemuda 16 tahun itu tiba-tiba memerah mendapati senyum manis lawan bicaranya.

Bintang hanya menggeleng pelan. 'Nggak ditinggal, tunggu ya?’ Bintang tersenyum sambil melambaikan tangan dan berlari kecil ke arah teman-temannya. ———

‘Itu siapa, tang?’ Tanya Shandika sembari tersenyum jahil diikuti kekehan jahil Yori.

‘Cantik, kayak kenal tapi,’ timpal Yesaya.

‘Anak Atletik?’ Yulio ikutan nimbrung.

‘Udah, udah latihan,’ Bintang mengakhiri segala keingin tahuan teman-teman ya.

‘Idih! Buzzkill!!’ Cibir Yori yang masih pemanasan berpasangan sama Shandika.

Setiadi masih menatap gadis yang tengah berlari di lapangan atletik. Ia masih penasaran, soalnya wajahnya tuh familiar banget. Kayak pernah lihat dimana gitu.

“Made, ayo buruan!” Bintang memanggil dari tengah lapangan.

“Kok kayak kenal deh sama cewek itu,” gumam Setiadi sambil berlari ke tengah lapangan.

——

Usai latihan futsal, Bintang langsung mandi di ruang ganti pria dan bergegas menghampiri Tiana yang duduk di pinggir lapangan sepak bola. Yori mengekor dari belakang Bintang, penasaran sama sosok gadis berambut sebahu yang membuat mata seorang Made Setiadi meleng sepanjang latihan tadi.

‘Ana?!” Yori terkaget-kaget mendapati fakta bahwa Tiana lah Gadis yang dari tadi berlari mengelilingi lapangan.

‘Yori?’ Tiana menautkan alisnya bingung.

‘Maaf,’ Yori menunduk.

‘Maaf kenapa?’ Tanya Tiana sambil menatap Yori dengan tatapan bingung.

‘Gue orang terdekat lu, tapi gue seakan gak peduli sama lo,’ Yori tertunduk.

‘Gue nggak apa-apa, Ri. Gue nggak tega ngorbanin temennya Mas Tyo cuma supaya gue terhindar dari mereka. Toh lama-lama gue terbiasa, Ri,’ Tiana menepuk bahu Yori dan tersenyum.

Sebenarnya dibalik senyum itu, Yori menemukan sesuatu yang nggak bisa ia jelaskan. Pokoknya, setiap kali ia melihat senyum Tiana itu, hatinya seakan terasa seperti teriris.

‘Tapi kan seenggaknya kalo gue ada di sisi lu, gue nggak harus ngeliat mereka menciptakan kebohongan ini buat nyiksa lo,’ kilah Yori. ‘Kalo sekarang gue mau ngelindungin lo, sama bintang dan temen-temen gue yang lain, apa ini terlambat?’ Lanjut pemuda 17 tahun itu.

‘Nggak terlambat, kok,’ Tiana tersenyum manis sambil menatap Yori dan Bintang.

Hari itu Tiana hanya datang mengenakan kaos olahraga dan sepasang celana training beserta sepasang sepatu keds untuk latihan lari. Dan Bintang tau kalau teman-temannya akan bertanya soal bekas luka di tangan dara manis itu. Jadi, sebelum semuanya melihat, Bintang langsung menyampirkan jaket bisbol kebanggannya di bahu sang gadis.

‘Dipake yang bener, Na. Dingin.’ Ungkap Bintang yang diikuti dengan anggukan kepala gadis yang masih nampak kaget dengan spontanitas dari pemuda yang sekarang berdiri di sampingnya.

‘So, Capt. What’s the dinner tonight?’ Jordan menimpali setelah semua berkerumun mengelilingi Yori, Bintang dan Tiana.

‘Kenalin ini Tiana,’ Yori mengambil inisiatif untuk memperkenalkan adik dari sahabatnya itu.

‘Tiana?’ Yesaya mengerutkan keningnya. Nama itu seperti tak asing di telinganya. ‘Gue Yesaya. Panggil aja Yesa,’ tukasnya.

‘Gue Made Setiadi, Adi aja panggilnya,’ Setiadi memperkenalkan dirinya.

‘Gue Michael,’ Si jangkung bermata sipit itu memperkenalkan diri dengan cengiran yang membuat kedua matanya hilang.

‘Shandika, panggil aja San,’ Ujar Shandika sambil menunjukkan senyum yang membuat lesung pipit terlukis di kedua pipinya.

'Yulio,' Si jangkung berwajah blasteran itu menampilkan senyumnya yang paling manis.Tiana mengenali sosok Yulio, soalnya Yulio ini selalu disebut-sebut sebagai serbuk berlian ataupun anak sultan se-antero SMA KQ.

[Orangtua Yulio tuh donatur dan pemegang saham terbesar yayasan pendidikan tempat SMA KQ bernaung. Sekolah yang saat ini menaungi tim atletik dan tim futsal tempat kesembilan orang ini bergabung juga merupakan sekolah yang terkenal sebagai sekolah elit dengan gaya hidup paling mewah di seluruh Jakarta. Hampir 90% penghuni sekolah itu merupakan serbuk berlian, alias orang kaya yang hartanya nggak akan habis 7 turunan. Namun, Itu nggak berlaku untuk Tyo dan Tiana yang masuk ke sekolah itu dengan jalur beasiswa karena dianugerahi bakat dalam bidang olahraga dan otak yang encer.]

'𝑺𝒆𝒓𝒃𝒖𝒌 𝒃𝒆𝒓𝒍𝒊𝒂𝒏 𝒎𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒅𝒂 𝒚𝒂, 𝒀𝒐𝒓,' bisik Tiana sembari menyenggol lengan Yori yang langsung ditanggapi dengan kekehan kecil dari sang pemilik nama panggilan itu.

'Jordan, tapi bukan anak NBA. anak futsal,' celetuk Jordan sambil menepuk dadanya. 'Kak Tiana tenang aja, gini-gini gue paling kuat diantara abang-abang ini,' Jordan membusungkan dadanya dengan sombong.

'Sebelom balik, gimana kalo kita ngobrol dulu sambil makan malem. gue lapeer,'usul Yulio yang langsung disambut anggukan dari semua orang termasuk Tiana.


𝑴𝒆𝒏𝒚𝒆𝒓𝒂𝒉 Part 1


Younghoon's A To Boyz inspired story


Kamu selalu melihat dia sebagai sosok yang sempurna. Wajah tampan, otak yang cemerlang, ranking 1 parallel setiap tahun. Keluarga kaya, terpandang, siswa unggulan, pokoknya semua orang ingin jadi seperti Younghoon. Sayang, mereka nggak tahu apa yang anak muda ini alami di balik semua yang nampak di kasat mata khalayak ramai. Beban yang berat terpatri di pundaknya. Ayahnya meletakkan beban itu sedari ia duduk di bangku sekolah dasar. Tak jarang Younghoon belajar hingga larut, hingga tubuhnya sendiri menolak untuk terus bertahan.

'𝑨𝒌𝒖 𝑳𝒆𝒍𝒂𝒉' itu kalimat yang selalu tertahan di kerongkongannya ketika Ayahnya menuntut dirinya untuk lebih berprestasi lagi.

'𝑨𝒌𝒖 𝒊𝒏𝒈𝒊𝒏 𝒔𝒆𝒑𝒆𝒓𝒕𝒊 𝒕𝒆𝒎𝒂𝒏-𝒕𝒆𝒎𝒂𝒏𝒌𝒖 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒍𝒂𝒊𝒏. 𝒎𝒆𝒏𝒊𝒌𝒎𝒂𝒕𝒊 𝒎𝒂𝒔𝒂 𝒎𝒖𝒅𝒂𝒌𝒖 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒎𝒂𝒌𝒔𝒊𝒎𝒂𝒍,' Itu hanya bisa terucap dalam benaknya, dalam diamnya, di air mukanya.

Yang semua orang lihat, Younghoon adalah sosok yang sangat sempurna. Tubuh tinggi, Bahu yang bidang, Kulit yang putih, rambut hitam legam, senyum menawan. jauh di dalam lubuk hatinya, semua itu hanya sesuatu yang kosong, tidak ada artinya, hanya pemuas nafsu ayahnya. Ia lelah, beban yang diembannya terlalu berat. Ia selalu nampak seperti Kuda pacuan yang bekerja keras hanya untuk pemuas nafsu orang lain yang bertaruh diatas namanya.

Tak ada yang mengetahui hal itu. Yang bisa merasakan apa yang bercokol dalam hati pemuda tampan itu hanya Yebin, teman sebangku Younghoon. yang selalu berada di sebelah pemuda 183 cm itu dalam diam, seakan paham, pemuda itu hanya butuh orang yang paham perasaannya dalam diam.

𝙨𝙖𝙧𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙙𝙪𝙡𝙪. 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙗𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙩𝙚𝙣𝙖𝙜𝙖 𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙗𝙚𝙧𝙟𝙪𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙞𝙣𝙞.

Yebin menggeser sekotak susu coklat dan sandwich telur yang dibelinya di mini market dekat sekolah dalam perjalanannya hari itu. Rasanya ada yang aneh hari itu. Hari itu terbilang sangat cerah dan udara cukup lembab dan panas, hari-hari pertama musim panas sudah mulai datang. Semua masuk sekolah dengan seragam musim panas mereka. Tapi Yebin tak menutup seragamnya dengan sebuah cardigan berwarna lilac.

Younghoon menatap gadis yang duduk di sampingnya sebentar sebelum akhirnya menggerakkan tangannya untuk meraih tangan Yebin dan menarik pelan lengan cardigan dara berambut sebahu itu dan menampakkan bekas-bekas luka baik lama dan baru di pergelangan dan sekujur lengannya. Matanya menatap lengan dan mata Yebin bergantian. Yebin yang merasa seperti seakan-akan Younghoon menangkapnya mencuri buah Cherry dari pohon orang.

Younghoon menunduk dan nampak menggoreskan pensilnya di atas selembar post it yang kemudian ditempelnya di punggung tangan Yebin.

𝘞𝘩𝘢𝘵 𝘩𝘢𝘱𝘱𝘦𝘯𝘦𝘥? 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘢𝘮𝘶?

Yebin membaca sembari menata meja nya karena sebentar lagi kelas akan dimulai. setelah itu ia menempelkan post it di buku Younghoon.

𝙄'𝙢 𝙤𝙠𝙖𝙮. 𝙖𝙧𝙚 𝙮𝙤𝙪 𝙤𝙠𝙖𝙮?

tes.. tes... tes...

sembari membaca tulisan Yebin, cairan merah kental, darah segar turun menetes membasahi post-it dari gadis itu. Yebin dengan sigap melakukan prosedur pertolongan pertama terhadap mimisan. Younghoon lagi-lagi memaksakan dirinya untuk belajar dan melupakan bahwa dirinya bukan robot yang tak akan sakit kalau tak beristirahat.

'Hoon, udah ya. kamu butuh istirahat,' Yebin menatap teman sebangkunya itu dengan tatapan khawatir. 'kalo gini terus kasian badanmu.'

'I'm gonna die anyways, Yeb,' Younghoon menghela nafasnya sembari melepas gulungan tisu yang menyumbat hidungnya dan membuangnya di tong sampah. 'I have everything yet i felt so empty inside. gue mau nyerah aja, Yeb,' Younghoon mengacak rambutnya penuh frustrasi.

'I can never surpass your intelligence, hoon. I'll have to be happy being the second best,' ujar gadis manis berambut sebahu itu sambil menatap pria tampan di sampingnya dengan tatapan nanar.

Sesungguhnya, menurut Younghoon, Yebin bisa melampauinya dengan mudah. Namun, Yebin memperlambat langkahnya agar tak lagi ada suara pukulan atau tamparan dari balik tembok rumahnya yang bisa dibilang cukup menempel dengan kediaman keluarga Kim.


[Time skip to: 3 bulan setelah kejadian di atas]


Tiga bulan berlalu dengan begitu cepat. Younghoon dan Yebin semakin dekat dan akrab. keduanya nampak sering terlihat menghabiskan waktu belajar bersama di kelas maupun di perpustakaan. Tak jarang pula kedua insan ini terlihat terlambat keluar dari sekolah karena saling mengajari satu sama lain. Younghoon yang lebih cepat menyerap dalam matematika dan ilmu sosial akan mengajari Yebin, begitu pula sebaliknya, Yebin akan mengajari Younghoon materi yang tak dipahami pemuda itu dalam bidang sains dan Bahasa yang lebih dikuasainya.

Ujian akhir semester sudah semakin mendekat. Keduanya jadi semakin ambisius dalam belajar. Tak jarang keduanya saling menguatkan satu sama lain. Kalau Yebin ketiduran saat mereka belajar, Younghoon sering menggambar bunga matahari di pergelangan tangan kanan sang dara. sementara itu di pergelangan tangan kiri si manis itu, pemuda berkulit putih itu kerap kali menggambar pelangi. sebagai pengingat kalau masih ada harapan untuk gadis itu. Sementara itu, tak jarang terlihat Yebin membawakan sarapan atau makan siang untuk Younghoon. Keduanya saling menyembuhkan luka masing-masing.

Dalam hati pemuda yang nyaris menginjak usia 18 itu, ia bersyukur ada sosok Yebin yang membantunya perlahan sembuh dari luka hati terhadap ayahnya yang terlalu menuntut. pemuda jangkung itu menetapkan di hatinya. usai ujian nanti, setelah semuanya selesai, ia akan menyatakan perasaannya pada sang gadis. Pokoknya, Younghoon nggak mau keduluan sama orang lain. sudah berencana untuk menjadikan Yebin kekasihnya.

'Yebin, nanti kalau ujian udah selesai, kita ketemuan di Han river ya?' pinta Younghoon sambil menoleh ke arah Yebin yang tengah membuatkan ringkasan materi bahasa dan sastra Korea untuk pemuda bermarga Kim itu.

'Boleh,' Yebin mengangguk. Wajahnya nampak letih dan pucat kala itu.

'Yeb, ada apa?' Younghoon menatap Yebin penuh khawatir.

'Ngga apa, Hoon. Gue capek. Istirahat dulu ya,' Yebin tersenyum lemah sambil menyandarkan kepalanya di bahu Younghoon yang bidang.

Beberapa saat mereka lalui dalam diam, Younghoon, yang bahunya dijadikan sandaran, hanya duduk sambil merangkul pundak Yebin dan mengusap-usap pundak Yebin. Tanpa terasa, gadis yang terpaut sebulan lebih muda dari Younghoon itu meneteskan air matanya. rasanya sudah lama dia tak merasakan kenyamanan dan kebebasan untuk menangis seperti saat Younghoon merangkulkan tangannya di bahu dara bermata kecoklatan itu.

Younghoon yang merasa ada benda asing membasahi kemejanya pun tak menghentikan aktivitas tangannya yang masih merangkul sang dara. Buat Younghoon, sosok Yebin sangat kuat, ia selalu melihat ketegaran Yebin. Yebin yang sebenarnya bisa mengalahkannya menduduki ranking 1 parallel angkatan mereka, sengaja betah duduk di ranking 2 lantaran ia pernah memergoki ayah Younghoon yang tega menyiksa anaknya sendiri karena ia menuntut Younghoon untuk jadi yang terbaik.

Di lain sisi, Younghoon juga tak jarang melihat kedua orang tua Yebin menuntut lebih terhadap putri bungsunya itu. Tak jarang Yebin dibandingkan dengan Yeseul dan Yejun, kedua kakaknya yang berhasil masuk universitas S dengan nilai cemerlang.

'Hoon, maaf ya,' Yebin mengusap airmatanya.

'Nggak papa, Yeb. Thanks udah mau bersandar di bahuku waktu kamu butuh tempat bersandar,' sebuah senyum tulus terukir di bibir merah jambu pemuda 17 tahun itu.

'Hoon,' yebin memanggil pemuda itu lagi.

'Ya?' si jangkung berambut hitam legam itu menatap gadis di hadapannya sambil menangkup pipi sang puan dengan kedua tangannya dan membersihkan sisa air mata di pipi yang bersemu kemerahan itu.

'Sorry. bajumu jadi basah,' Yebin menatap bagian bahu kemeja seragam Younghoon yang basah karena airmatanya.

'Nggak apa, yang penting kita lewatin semuanya sama-sama ya,' mata coklat tua milik pemuda Kim itu menatap gadis di hadapannya lekat-lekat. 'Jangan sakitin dirimu lagi,' Younghoon menarik lengan Yebin dan menggenggamnya.

Hangatnya telapak tangan Younghoon mengalir ke seluruh tubuh Yebin, membuat pipi gadis itu bersemu merah.

'lucu sekali,' begitu pikir Younghoon saat itu.

Keduanya merapikan barang-barang mereka dan segera bersiap untuk pulang ke rumah mereka karena hari sudah cukup larut. Sepanjang perjalanan ke rumah mereka dilewati dalam diam, ketenangan yang sesunggunya sangat nyaman untuk keduanya. seakan mereka bisa saling memahami satu dengan yang lainnya dalam diam.


𝒑𝒂𝒓𝒕 𝟏-𝒇𝒊𝒏

𝒕𝒐 𝒃𝒆 𝒄𝒐𝒏𝒕𝒊𝒏𝒖𝒆𝒅.


word count: 1219 Words. Saved: 16/03/2021

#2-Let Me Walk With You [kisah ini, dilihat dari mata seorang Bintang]


Udah beberapa hari ini aku bertukar pesan dengan puan misterius yang kutemu di tangga selepas latihan beberapa hari yang lalu. karena aku nggak tahu posisi loker gadis itu, aku selalu menempel surat balasan darinya di lokerku dan berharap gadis itu mampir ke lokerku dan membaca balasanku. Hari itu, aku tercekat membaca surat darinya. Aku tak bisa spontan membalas surat yang baru kuterima itu.

Kalau aku jadi gadis itu, aku pasti nggak akan bertahan sampai saat ini. Di otakku sekarang, aku hanya bisa bertanya 'Mengapa semesta begitu jahat pada gadis secantik dirinya?' 'Mengapa dunia seakan membalikkan punggungnya terhadap gadis berparas rupawan seperti dirinya?' Aku duduk di bangkuku sambil menatap surat itu dengan alis tertaut. Aku bahkan nggak sadar ada Shandika di sampingku.

'Tang, Bintang. Bumi memanggil Bintang!' Shandika menggerakkan tangannya di depan wajahku.

'Hah? Kenapa, Shan?' tanyaku sembari menatap Shandika dengan tatapan bingung.

'Lo kenapa sih, Tang. Dari tadi ngelamun aja?' Tanya Setiadi.

'Sejak lu terima surat itu di loker lu, kayaknya lu mikirin isi surat itu terus,' imbuh Yulio, si jangkung yang duduk di bangku belakangku.

'Pasti cewek di tangga yang waktu itu lu kejar pas latihan kan?' Tebak Yesaya. 'Dia cantik, Tang. Cuma, yang gua tau semua orang ngejauhin dia karena ada fake rumor tentang dia,' Jelas Yesaya lagi.

'Dia satu sekolah minggu sama gue, Yes. Kasihan.' tukas Yonathan yang tengah menopang mejanya sembari duduk menghadap meja ku.

'Anjir, lo kenal dia, Yor?' celetuk Shandika.

'Emang gimana cerita aslinya?' tanyaku sambil menatap Yonathan, yang kami panggil dengan sebutan “Yori” itu, dengan tatapan super kepo.

'Namanya Tiana. Dulu, dia ceria banget, pecicilan. tapi dia sempet suka sama temen satu kelas kita. nggak lama, si cowok itu ngatain dia dengan sebutan yang ga pantes, dan dia mukul orang itu. yang gue tau habis itu, dia dimusuhin semua temen-temen di gereja karena mukul tuh orang,' Yonathan bercerita. 'Di SMP kita dulu, salah satu gengnya si cowok ini nyebar berita jelek tentang Tiana. dan sejak itu semua orang benci Tiana,' Lanjutnya.

'Maybe that's why,' aku mengangguk pelan, aku ingat luka di tangannya. banyak bekas goresan yang sudah berbentuk bekas luka maupun yang masih baru dan memerah.

'Ada apa, Tang?' tanya michael yang mulai kepo.

'Nevermind. gue cuma sedang mengaitkan cerita Yori dan apa yang gue liat waktu gue ngejar dia kemarin.' Jawabku sambil menggeleng. 'Anyways, lo kenal orang tua atau sodaranya gak, Yor?' aku bertanya.

'Apparently, yes. gue deket sama kakaknya. tapi kayaknya kakaknya ga gitu deket juga sama Tiana,' Jawab Yori dengan gelengan.

'Dia butuh pertolongan,' imbuhku singkat sambil kembali sibuk menulis di atas selembar kertas. diikuti dengan lirikan bingung dari semua temanku.

Tak lama sebelum bel berbunyi, Kirana, teman sekelasku, berlari masuk ke dalam kelasku dengan wajah panik dan pucat pasi. Setiadi yang dekat dengan Kirana berlari mendekat.

'Ki, kenapa?' tanya Setiadi sembari menangkap tubuh Kirana yang limbung.

'Adi, darah, toilet cewek,' samar-samar terdengar suara Kirana yang di dalamnya tersirat ketakutan. Di otakku saat ini cuma terfikir gadis yang baru saja diceritakan oleh Yori.

'Tiana,' aku langsung berlari ke toilet yang dimaksud oleh Kirana dan dikejutkan dengan seorang guru yang membopong tubuh gadis berambut panjang yang kini tangannya tertutup perban yang cukup tebal, baju dan rambutnya basah. aku segera berlari ke kelas untuk mengambil ransel dan kunci motorku.

'Tang mau ke mana?' tanya Shandika sambil menahanku pergi.

'Ke rumah sakit. gue bolos hari ini. urgent.' ujarku sambil menyampirkan tas di bahu.

'Gue berhasil nyingkirin dia,' terdengar olehku obrolan sekelompok anak perempuan di koridor. 'Untuk sementara dia musnah,' Tawa sinisnya membuat emosiku membuncah. Dengan langkah gusar aku pergi menjauh dari mereka sembari mengepalkan tanganku erat untuk menahan amarahku.


Aku menawarkan diri untuk menggantikan guru-guru, yang sebenarnya hanya ingin menguliahi Tiana dengan kata-kata mutiara mereka yang sebenernya nggak terlalu diperlukan oleh gadis itu saat ini, menjaga Tiana yang belum sadarkan diri. 'Maafin gue, Na. gue terlambat tau tentang lo.' ujarku dalam hati. aku duduk di samping ranjang tempat Tiana terbaring saat itu. luka di pergelangan tangannya sudah dijahit. namun, tetap saja, menatap luka itu membuat hatiku ngilu.

'Tiana, gue tau lu lelah, gue kan udah bilang lo boleh bersandar sama gue kalau lu capek,' ucapku sembari menggenggam tangannya yang nggak terluka dengan kedua tanganku.

'Maafin gue, ya? gue terlambat tau semua ini. gue tau di saat lu udah lompat dari tebing itu,' bisikku lagi.

'Bahu gue akan selalu ada buat lo. lo nggak sendiri,' Kugenggam tangan itu sambil menatap wajah Tiana yang nampak berpikir dalam tidurnya. alisnya masih tertaut.


#01- If I told you with a crying face that I am having a difficult time would it be better?


“I'm sorry, it's my fault, thank you. It's all because of me.” – Lonely (Jonghyun x Taeyeon)


SMA KQ, ku pikir dengan pindah ke sekolah ini, aku bisa membuka lembaran baru dan menutup masa kelam SMP-ku yang penuh luka. Nyatanya semua itu terulang lagi. Lagi-lagi aku sendirian. Lagi-lagi seluruh dunia membenciku. Kenapa dunia ini nggak adil? Kenapa dia yang menyebar kebohongan tentangku diberikan teman yang banyak bahkan pengikut yang dengan setia membuntutinya kemanapun.

Kalau boleh minta sama Tuhan, aku mau minta mati saja. aku nggak kuat dengan semua cobaan ini. Katanya pencobaan itu nggak akan melebihi kekuatanku. tapi kenyataannya apa? Tak jarang aku pulang degan luka baru yang selalu kututupi dengan jaket ataupun jas almamater. Aku berusaha supaya papa dan mama nggak apa perlakuan teman-teman terhadap aku. meskipun aku nggak tahu aku salah apa, aku harus lebih dulu minta maaf supaya mereka nggak menghinaku.

Rasanya, aku sendirian. nggak ada yang berpihak padaku. aku hanya bisa merasa nyaman ketika aku berlari mengelilingi lapangan atletik, ditemani semilir angin sore, seperti hari ini. sepulang sekolah, aku menenangkan pikiranku dengan berlari di lapangan lari. Hari ini, tim futsal sekolahku sedang mengadakan latihan rutin dan kebetulan aku sedang duduk di dekat situ, menatap ke lapangan sepak bola.

Di sana ada Bintang, kapten tim junior SMA kami. Sosok yang diidolakan seluruh siswi di kelasku. Sosok yang bersinar terang seperti bintang kejora. Sosok yang diluar gapaian tanganku. siapakah aku? Aku hanya seorang siswi yang dijauhi dan dibenci karena alasan yang bahkan mereka nggak tahu apa itu. Hanya sekedar karena terpengaruh dengan hasutan orang lain.

Entah berapa banyak air mataku yang telah terbuang sia-sia. dadaku sesak. kedua tanganku penuh goresan luka akibat pelampiasanku. Aku duduk di pinggir lapangan sambil meneguk air dingin dari termos minumanku. Setelah itu, aku kembali menatap ke gerombolan anak laki-laki yang berlarian di di lapangan sepak bola. Senyum seorang Bintang membuat aku sedikit lega. tak lama kemudian aku berdiri dan mengangkat tasku. Pergi meninggalkan lapangan itu, menuju ke UKS untuk menutup semua luka di tanganku.

Rasa perih menjalar ke sekujur tanganku. Keringat yang membasahi sekujur tubuhku dan membasahi luka-luka sayatan yang masih baru di tanganku terasa sangat perih. langkahku terhenti di koridor tempat tangga menuju ruang UKS, aku terduduk di tangga itu cukup lama. awalnya untuk mengistirahatkan kakiku dan menghilangkan sensasi perih yang menjalar di kedua tanganku. Kepalaku tertunduk. Awalnya itu hanya perih yang menyengat di permukaan kulitku. tapi kenyataanya perih itu menjalar ke hatiku juga. aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku dan menangis, tanpa suara.

Ku kira aku sendirian tapi... tap, tap, tap terdengar langkah kaki yang makin lama semakin mendekat ke arahku. aku buru-buru menyeka air mataku. aku nggak begitu tau siapa yang mendekat ke arahku. mataku masih dipenuhi dengan air mata saat itu. Ia menghampiriku dalam diam. nggak ada suara yang keluar dari mulutnya. tapi aku merasa ada sesuatu menutupi punggungku. nampaknya orang itu duduk di sampingku.

'Maaf ganggu lo. tapi di sini udah nggak ada siapa-siapa. kenapa masih di sini?' tanya sang pemilik suara itu.

'Nggak papa. bukankah gue pantes sendiri? seperti kata anak-anak yang lain, gue nggak pantes punya temen. gue aneh,' aku nggak tahu apa yang ada di otakku sampai tiba-tiba aku memuntahkan semua yang selama ini kusimpan sendirian.

'Kita nggak saling kenal kayaknya. tapi maaf kalau mereka menganggap lo gitu. gue disini. gue bersedia denger cerita lu,' dari suaranya yang lembut, aku tahu dia tulus melakukan itu. aku bisa merasakan tangannya yang besar menyelimuti tanganku yang penuh goresan. 'Jangan sakitin diri lo lagi.'

'Kenapa?' itu yang keluar dari mulutku ketika mendengar dirinya berfilosofi seperti barusan. 'Kenapa lu ikutin gue? kenapa lu mau bicara sama gue?' kepalaku masih tertunduk tapi aku bisa merasakan tangannya dengan lembut mendorong daguku agar sejajar dengan tatapan matanya.

'Mulai sekarang, gue mau denger segala keluh kesah lu. lu nggak sendiri. Nama gue Bintang,' ungkapnya sembari menghapus air mataku. 'Jaketnya pake dulu aja. di luar dingin. gue masih ada latihan. selagi masih terang pulang ya? orang tua lu pasti khawatir.'

Ia mengantarku ke gerbang sekolah, bahkan mencarikanku taxi online. Terima kasih, Bintang.


Hana — Siang itu matahari terik menyinari komplek perkuliahan Universitas Katolik yang cukup ternama di daerah Semanggi. Samuel baru aja selesai mengajar kelas pertamanya sebagai asisten dosen dan ia dikagetkan dengan orang yang berkerumun di daerah parkiran. Tak jauh dari dirinya nampak Yoel dan Jonathan, si kembar yang merupakan sahabat dan teman sepermainannya.

'Ini kok tumben rame?' Sam menautkan alisnya tanda bingung.

'Nggak tau, ini gue sama Jona juga baru dateng,' Yoel berusaha menyeruak kerumunan untuk mencari sumber keributan.

pemuda 173 cm itu dikagetkan ketika ia menemukan petugas medis tengah memberikan pertolongan pertama pada seorang gadis yang bersimbah darah. di sana juga ada 4 orang mahasiswa pasca-sarjana yang tengah meminta pertanggung jawaban dari pemilik mobil sedan Toyota Camry berwarna hitam yang baru saja menabrak teman mereka.

Selain 4 orang teman dari gadis yang tak lain adalah Tania, kekasih sahabatnya, Yoel juga menemukan sosok teman sepermainannya, Joven. Joven tengah membela pihak korban. dengan sigap, Yoel melambaikan tangannya pada Sam dan Jona sebagai isyarat supaya mereka bergabung dengannya.

'Kenapa?' tanya Samuel ketika ia sudah berdiri di samping Yoel.

'Liat aja sendiri,' Yoel menuding sepasang mahasiswa seusianya yang tengah berdebat dengan Joven dan salah satu sahabat Tania, Chris.

'Mereka nabrak Tania menurut info, Tania sempet kepental, sekarang dia udah ditanganin sama paramedis. katanya, dua orang itu nyetir habis make,' jelas Yoel sambil mendengus kesal.

'Udah gitu masih berani ngebentak Joven sama Kak Chris?' sambung Samuel kesal sambil mengepalkan tangannya, menahan emosi.

'Sam, they're stoned,' Jonathan menuding ke pasangan yang lagi marah2 itu.

'That's it! gue kesana, I have to make sure it's Tania,' Samuel melangkah cepat ke arah Joven dan Chris. matanya tertuju ke pintu ambulans yang terbuka dan sosok Tania yang nyaris tak bernyawa itu. Lelaki yang akrab disapa Sam itu auto lemas menatap sosok Tania yang terbaring lemah.

'Kak Chris,' Sam menepuk bahu pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya itu. 'I'll take care of them. lo temenin Tania ke RS ya, just keep us posted on her condition,' pemuda itu berujar disambut anggukan dari Chris yang segera naik ke ambulance dan mengantar Tania bersama teman-temannya.

'Take care, Sam,' balas Chris sembari mengangguk.

Suara sirine Ambulan memenuhi udara bersama dengan keempat sahabat yang mengantar Tania ke rumah sakit. Sementara itu, Joven, Jonathan, Yoel dan Samuel masih berada di TKP, ngeladenin pasangan mabok ini.

'Udah jelas kan tuh cewek yang salah, dia nyebrang ga liat-liat,' dalih cewek berambut abu-abu platinum yang matanya sembab dan berair.nafasnya pun bau, entah bau apa itu.

'Akhlak lo berdua kemana? datang ke kampus mabuk, nabrak orang, terus marah2 di depan orang-orang yang ngebelain korban karena lu merasa bener?' semprot Yoel.


[Mari kita skip adegan berdebat sama orang mabok, karena itu nggak penting]


Setibanya di rumah sakit, Chris, Haven, Kevin dan Jovan menunggu di depan ruang operasi sementara dokter-dokter langsung menindaklanjuti laporan dari tim medis yang menangani Tania. Setelah berjam-jam menunggu, keempat teman Tania pun segera menerima penjelasan dari dokter mengenai kondisi yang akan mereka hadapi setelah ini. Dokter sempat menyebutkan bahwa akan ada kondisi dimana Tania akan lupa tentang 3 tahun terakhir dalam hidupnya. meski begitu, Tania nggak 100% lupa akan masa lalunya. Dan ingatannya tak akan hilang permanen. semua itu akan kembali, berangsur-angsur pulih.

Selama masa pemulihan, Dokter mengharapkan teman-teman Tania untuk terus hadir dan memberikan semangat pada Tania supaya kondisi mentalnya pun membaik. Sebenarnya, nggak lama setelah tindakan dilaksanakan, Yoel, Samuel, Sean dan Juan tiba di rumah sakit. panik terlukis di wajah Sean mengetahui tentang kondisi Tania saat itu. Dan ia kembali dipukul oleh kenyataan bahwa saat sadar nanti, kemungkinan besar, ia akan menjadi sosok yang asing di mata kekasihnya.

'Rasanya kayak balik ke waktu pertama kali Samuel kenalin gue ke Tania. Kita sama-sama asing,' Sean mengacak rambutnya. Hanya satu kata yang terlukis dari kalimatnya barusan, Frustasi.

'Cuma sementara, Sean,' Chris berusaha menghibur.

'dia bakal inget sama lo lagi, kok,' kini Juan menepuk bahu Sean pelan.

'Sekarang kita ga bisa maksain semua itu ke Tania. semuanya perlu proses, gue percaya dia kuat jalanin semua,' sahut Haven. sebenernya, Haven paling terpukul. Sosok Tania di mata seorang Haven adalah sosok yang selalu bisa menopang Haven yang nampak independen tetapi sesungguhnya nggak seperti itu. Yang bisa ngimbangin Haven cuma Tania.

'By the way, Chris, udah ngabarin keluarga Tania?' Jonas mengedarkan matanya mencari Yoan dan Sena, kedua saudara laki-laki Tania.

'Belum. Bang Yoan dari tadi ga bisa dihubungin, bahkan ga dibaca chatnya. Sena juga sama. Gue udah berkali-kali call juga,' Chris mengacak rambutnya frustasi. Nggak ada satupun saudara kandung Tania yang hadir saat itu. Belum lagi kedua orang tua Tania yang ada di luar jangkauan alias selalu nggak ada di saat-saat genting seperti ini.

Tak lama setelah Chris menyerah menghubungi kedua saudara Tania, ponsel Jonas berdering, telepon masuk dari Yoan. 'Bang Yoan udah masuk nih!' Jonas berujar sambil menekan tombol untuk menjawab panggilan tersebut.

'Halo, Bang Yoan,' sapa Jonas.

'Chris call gue terus, ada apa?' tanya Yoan dari seberang.

'Bang, Tania kecelakaan. sekarang dokter udah nanganin dan udah pindah ke kamar rawat. Tadi consent nya ditandatanganin sama Sean dan Chris,' Jonas menjelaskan.

'Ya Tuhan...' Yoan tercekat. Missed call yang begitu banyak itu ternyata menyangkut adik perempuannya. 'Terus gimana keadaan Tania sekarang?'

'Udah cukup stabil, tapi masih belum sadar, hyung. She hit her head hard,' Jonas berujar lagi.

'Gue kesana, sama Sena sekarang, sendloc ke imess ya,' pinta Yoan.

'oke,' Jonas mengangguk dan mengakhiri percakapan telewicara itu.