kokojeikob

yang nulis tiga sekamar

Forever You're My Star a short story — seutas kisah tentang Christian Sanjaya Sadawira, Joseph Wicaksana (choi san dan Jung Wooyoung milik @ateezlokalan) dan Anastasia Tiara Kurniawan (Choi Yena) — [listen while reading: https://open.spotify.com/track/0wuGxn6mILf918ZIaeiIG5?si=kzL0r5_bTRminerL5eGAQQ ] — Day After Day Maybe I lose some memories But You’ve always been the light to me I think I will never forget those days with you The star that always watch for me. – Star 1117 ATEEZ —

2022, sudah 5 tahun berlalu sejak kepergian sosok Anastasia Tiara Kurniawan dari kehidupan Christian Sanjaya Sadawira. Namun, bayang-bayang Ara, begitu gadis manis berkepribadian ceria itu akrab disapa, nggak pernah pergi meninggalkan relung hati lelaki 23 tahun yang akrab disapa San itu. Banyak cewek yang udah nembak atau ngakuin ketertarikannya buat si ganteng berlesung pipit ini, tapi satu persatu ditolaknya karena di hatinya masih dibayang-bayangi oleh memori Ara. Setiap tanggal 10 Juli, ulang tahun San, pemuda 176 cm itu selalu dan nggak pernah absen pergi ke rumah penyimpanan abu tempat abu jenazah Ara disemayamkan.

Ara dan San, kedua insan ini sudah kenal sejak mereka duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Ara yang tiap hari harus ke sekolah pakai masker karena kondisi kesehatannya membuat banyak anak-anak seusianya menganggap gadis itu aneh. Tak jarang Ara dihina atau diejek 'virus' sama teman-temannya karena kondisi yang mengharuskannya mengenakan masker setiap hari. Hal itu yang menyebabkan San bertekad menekuni Taekwondo di bawah naungan Dojang milik ayahnya.

Sejak kenal sama Ara, hidup San yang awalnya biasa-biasa aja jadi lebih seru, kayak main roller-coaster. San juga banyak belajar dari Ara. Ara nggak pernah patah semangat. Ara pernah bilang, meskipun dia sakit dan lemah, Ara nggak pernah sedih karena banyak yang sayang sama dia. Walaupun Ara nggak bisa seperti temen-temen yang lain karena kondisinya, Ara selalu jadi sosok yang ceria, penuh senyum dan penuh semangat. Bahkan di tengah kondisinya yang seperti itu, kadang Ara tetap semangat membantu San yang sering ketinggalan pelajaran karena sibuk ikut lomba mewakili sekolah kalau ada acara pekan olahraga nasional.

10 Juli 2017, saat rumah sakit menyatakan bahwa sudah ada donor paru-paru untuk mengurangi derita Ara, tak butuh waktu lama buat gadis berusia 17 tahun itu untuk mengangguk mantap dan masuk ke ruang operasi untuk menjalankan operasi itu. Naasnya, Operasi yang diprediksi akan berhasil dan memperpanjang hidup gadis cantik itu malah berakhir dengan kepergian Ara untuk selamanya. Ulang tahun yang paling menakutkan buat San dari seluruh hidupnya. Yang San ingat hari itu, sebelum masuk ke ruang operasi, Ara menangis dan memeluknya lama sekali. Hari itu, Ara mengalungkan liontin perunggu berisi foto mereka berdua di leher San.

“San, apapun yang terjadi, bintang yang paling bersinar itu punya gue. kalau lihat bintang itu, inget gue ya.” itu pesan yang disampaikan Ara sambil bersimbah air mata sebelum masuk ke ruang operasi.

Dari sekian banyak operasi yang sudah dilewati Ara, ini yang paling berat. Ara sudah nggak sanggup lagi, mungkin memang ini jalannya. 10 Juli 2017, tepat pukul 11 malam, di tengah proses operasi, Ara harus tutup usia. Yang tak diketahui San malam itu, Ara meninggalkan kedua matanya untuk orang yang membutuhkan itu kelak.


Flashback

Tahun ajaran baru sudah dimulai. Sebenernya, teman sekelas San di tahun ajaran ini nggak terlalu berbeda dengan teman sekelasnya waktu tahun ajaran sebelumnya. tapi ada satu yang berbeda. ada anak perempuan berambut sebahu duduk di bangku belakang. separuh wajahnya tertutup masker bedah, tubuhnya kurus. Namun, gadis itu memiliki sepasang netra yang berhasil menghipnotis netra teruna tampan berlesung pipit itu. San langsung duduk di samping gadis itu dan mengulurkan tangannya.

'Namaku Christian Sanjaya. Panggilnya San aja,' San kecil tersenyum, menampilkan sepasang cekungan di pipinya, kedua netra hitamnya menyipit, membentuk lengkungan bulan sabit. tangannya terulur.

'Aku Anastasia Tiara, panggil aku Ara,' Ara menyambut tangan kanan San yang terulur padanya itu.

'Kenapa pakai masker? kamu sakit?' tanya San penasaran.

'Tapi ini rahasia kita berdua ya,' angguk Ara sambil berujar. suaranya agak serak waktu itu.

Ara punya kondisi paru-paru yang disebut dengan Cystic Fibrosis atau CF. Ini penyakit langka yang nggak bisa sembuh. Untuk menjaga kondisi Ara, Ia harus menjalani serangkaian perawatan baik di rumah atau di rumah sakit. Kondisi ini menyebabkan Ara harus menjaga agar dirinya nggak terpapar debu atau kuman karena kelemahan pada paru-parunya.

Karena nama penyakitnya yang sulit dan keadaannya yang sulit dipahami orang normal, Ara nggak bisa menjelaskan penyakitnya pada San, dan San nampak puas dengan anggukan kepala dan senyuman manis yang membuat lesung pipit terlukis di pipinya yang bersemu kemerahan. Seiring dengan berjalannya waktu, San dan Ara menjadi sahabat. Ara kerap kali menghadiri pertandingan taekwondo San.

Tak jarang pula San menemani Ara menjalani pengobatannya di rumah sakit. Kadang, San menolak kalau orang tuanya mengajaknya pulang ketika Ara harus menginap di rumah sakit pasca pengobatan. Meskipun teman-teman di sekolah nggak mau berteman dengan Ara karena Ara dianggap aneh, San selalu standby di samping Ara.

Waktu begitu cepat berlalu, tanpa terasa Ara dan San sudah berada di bangku SMA. entah berapa ratus hari harus dihabiskan Ara di rumah sakit dan entah berapa puluh operasi yang sudah dijalani. Tapi ditengah semua hari berat itu, hadirlah Joseph dalam lingkaran pertemanan yang awalnya cuma berdua itu. Joseph memberi warna baru di seluruh keseharian Ara dan San.

Tanpa sadar, San yang sudah terbiasa bersama Ara mulai menaruh rasa pada sang dara. sementara itu, Ara, yang nggak nyadar kalau San mulai jatuh hati padanya, malah menaruh matanya pada sosok Joseph yang bawel dan selalu punya bahan obrolan serta pandai melucu.

'Ra, lu suka sama Joseph ya?' tanya San suatu ketika, saat keduanya tengah menanti Joseph yang tengah berlatih dance.

'Eh—oh nggak kok, kenapa emangnya?' Ara berusaha mengelak. San hanya terkekeh, soalnya dia tahu betul Ara nggak pandai berbohong.

'Jujur aja kali Ra sama gue. kita sudah 10 tahunan temenan, gue tau banget lu suka sama Joseph,' San tertawa sambil memainkan rambut Ara.

'Seandainya aja dia tau. dia pasti nolak gue mentah-mentah,' Ara tertunduk sembari memainkan sendok di mangkok baksonya yang sudah kosong.

'Tapi kan belum dicoba, Ra,' San berusaha menyemangati Ara.

'Gue kan penyakitan, San. dia nggak mungkin mau punya pacar yang penyakitan kayak gue. apa lagi penyakitnya ga bisa sembuh,' kilah Ara.

Ia kemudian merogoh ranselnya dan mengeluarkan sebuah buku sketsa. Ara membuka halaman yang berlukiskan sepasang paru-paru yang ditumbuhi bunga sakura.

'ini yang gue harapkan, bunga sakura tuh indah, San. tapi apa..' Ara membalik halamannya dan disana ada gambar sepasang paru-paru yang penuh luka di setiap sisinya, ini yang gue punya sekarang.'

Air mata jatuh membasahi pipi Ara. bahunya bergerak naik-turun. melihat itu, San auto berlari menghampiri Ara dan merengkuhnya dalam pelukan hangatnya. 'Nggak gitu, Ara. masih banyak yang mau sama lo.'

'termasuk gue, Ra' kilahnya dalam hati.

'Loh, Ara kenapa?' tanya Joseph yang baru aja kelar latihan dance.

'Daily blues,' sahut San pelan.

'Kalo gitu, hari ini ke bogor yuk. liat bintang,' ajak Joseph.

San cuma melirik ponselnya. 'Habis jam minum obat sama Avvlo vest ya, Seph,' jelasnya.

Joseph duduk di samping kedua sahabatnya. 'Sip. gue numpang mandi kalo gitu,' ujarnya lagi.

Usai pembicaraan itu, San, Joseph dan Ara langsung bertolak menuju rumah Ara yang terletak tak jauh dari sekolah mereka. Setelah membantu Ara masuk kamarnya, Joseph langsung minta izin mamanya Ara untuk numpang mandi sementara San membantu Ara menyiapkan obat-obatan yang harus diminumnya dan menyiapkan Avvlo vest untuk terapi mengeluarkan lendir dari paru-parunya.

Malam itu, Joseph, Ara dan San pergi ke Bukit Bintang di Puncak buat melihat bintang, salah satu kegiatan yang paling mereka suka lakukan untuk melepas penat. semakin malam, udara semakin dingin. San berinisiatif mengambil selimut dari laci dashboard mobil dan menyelimuti paha dan kaki Ara sementara Joseph melepas jaketnya dan menyampirkannya di bahu mungil sang gadis.

'San, Jos, kalo nanti gue sampe ga ada....'

'Nggak ah, jangan ngomong gitu,' potong Joseph sambil menggelengkan kepalanya.

San hanya diam dan menggenggam tangan sang dara manis di sampingnya itu.

'Kan 'If' gitu, Seph. Kalo seandainya aja. itu tuh, di sana ada bintang yang paling terang. itu bintang gue. kalau seandainya nanti gue duluan yang harus pergi, itu bintang gue, gue akan selalu ngeliatin kalian dari atas sana.' lanjut Ara.

'Ra, gue baru kenal sama lu sebentar, gue ga siap kalau kita harus berpisah,' Kilah Joseph.

‘Kalo boleh jujur, Seph, gue capek sama hidup gue yang sangat lemah dan bergantung sama semua alat-alat yang nempel di gue dan yang ada dalam tubuh gue. The countless surgeries I have to go through. there are times i wanted to get up there and watch over those i loved,' tanpa terasa air mata itu mengalir membasahi pipi sang gadis.

'Lu hebat, Ra. You're the strongest and most beautiful girl i've ever seen. lu berjuang dengan kuat, gue bangga sama lu,' Joseph pun ikut menangis.

'I'll bring the gold medal to you, like every time. you deserve these gold medals' San menatap gadis di sampingnya, suaranya bergetar dan tangisnya pecah saat itu juga.

'Gue bakal di rumah sakit untuk beberapa waktu mulai besok, sampai gue dapet donor paru,' isak Ara.

'Kita bakalan terus di samping lu, Ra,' Joseph mengusap air matanya dengan lengan hoodienya.

'Nyokap lu pasti udah nyariin, balik yuk,' San membantu sang gadis untuk berdiri diikuti oleh Joseph yang ikut berdiri dan merapikan alas duduk mereka.


Juli 2017,

Tepat enam bulan setelah hari itu. Enam bulan berlalu begitu lambat bagi Ara yang harus tinggal di rumah sakit. Dalam 6 bulan itu, San sudah membawa pulang 6 medali emas untuk Ara, Joseph pun sering nampak terlihat menemani Ara di rumah sakit. Kamar rumah sakit yang didiami Ara kini juga jadi tempat kediaman Shiber, boneka kesayang San yang dipinjamkan pemuda itu pada pujaan hatinya untuk menemani Ara. Kamar rawat inap Ara kini telah dihiasi tabel jadwal konsumsi obat, avvlo vest, dan gambar hasil ilustrasi karya Ara.

Dokter bilang, sudah ada donor paru yang telah diuji di lab dan cocok untuk jadi donor paru untuk Ara. Papa dan mama sangat senang mendengar itu, begitu pula Ara, San dan Joseph. Tanggal 10 Juli 2017, adalah tanggal yang dijadwalkan buat Ara untuk menerima paru-paru itu, hari itu juga adalah hari ulang tahun San.

Jujur Ara takut menghadapi ini, soalnya dia tau kalau peluang keberhasilannya 50:50. semua berharap operasi itu berhasil dan Ara bisa kembali bersama dengan mereka. Tapi Tuhan berkehendak lain. Dokter keluar dari kamar operasi keesokan harinya dan mengumumkan dengan berat hati bahwa hidup Ara harus berakhir di meja operasi.

Saat itu juga tangis Joseph dan San pecah. Kedua pemuda itu terduduk di lantai dan menangis tersedu-sedu. Sosok Ara begitu berharga buat mereka. Bagi keduanya, Sosok Ara merupakan wanita terkuat selain ibunda mereka. Gadis yang sosoknya melebihi superhero yang biasa mereka lihat di komik-komik. Sekarang, sosok wanita super itu sudah tiada lagi di muka bumi ini. Tapi pesan Ara sebelum karantina itu melekat di hati mereka. Bintang yang paling terang, itulah Ara. Ara akan terus melihat mereka dari atas sana. Itu yang mereka ketahui.

Tapi, yang nggak pernah mereka ketahui, di hari yang sama, Ara meninggalkan sebuah kenang-kenangan yang begitu berarti untuk keduanya. Ara tetap tinggal di hati San dan Joseph sebagai sosok gadis kuat yang menjalani kehidupannya yang begitu berat dengan segala pemikiran positif yang selalu terlontar dari bibir manisnya.

*‘Sampai jumpa, Ra. Sampai jumpa di Utopia sana. Di tempat lu bisa bernafas dengan bebas tanpa harus mikirin minum obat, terapi atau menjalani oprasi untuk memperpanjang hidup lo,’ *– Joseph —

10 Juli 2022, Rumah Penyimpanan Abu 'Heaven', Jakarta.

'Ra, gue balik,' San menatap foto Ara yang tersenyum sembari merangkul dirinya dan Joseph. 'Gue sehat, sekarang gue udah lulus kuliah. udah kerja juga di sekolah tempat kita dulu. gue kangen lo. Gue nyesel dulu gue nggak macarin cewek secantik dan sehebat lo,' San melekatkan buket kecil bunga baby's breath di kaca loker tempat guci abu mendiang Ara disimpan beserta beberapa kenangan mungil tentang gadis manis itu. San menyentuh liontin yang masih menggantung di lehernya itu.

Mungkin banyak memori yang sudah memudar di ingatan San. Mungkin sudah banyak memori yang terlewat tanpa kehadiran Ara. Tapi, Di hati San, terpatri semua memori indah yang telah ia lewati selama ini bersama Ara dan Joseph. Sekarang, Ara menepati janjinya pada Joseph dan San. Ia menjadi bintang paling terang yang selalu menjaga kedua sahabatnya dari atas langit.

'Thanks for all the memory you gave me all this time. I'll always look for the brightest star and see you there. Thank you for all these years, Anastasia Tiara Kurniawan.' – San


#Liztomania13 Santa, Joana, Kediaman Juniawarman dan Foto Mendiang Papa.


Hari itu, Rumah kediaman keluarga Juniawarman ramai. William mengundang Santa, Yudhis dan Yonathan untuk bertandang ke rumahnya untuk ikut menikmati kudapan makan malam yang dibawa oleh Hansel. Sore menjelang malam, semuanya sudah selesai menikmati makanan dan kini berkumpul di ruang tengah. Mama udah masuk kamarnya, membiarkan anak-anak muda itu berkumpul dan berbincang. Sementara kakak-kakaknya ngumpul, Joseph, si bungsu, mengendap-endap keluar rumah dengan satu pak rokok mild dan electric lighter di tangan kanannya.

'Jose, stop. bawa apa itu?' Joanna yang memergoki adiknya langsung bertanya dengan tatapan interogatif.

'Eh bukan punya Jose kok, Kak Ann,' Joseph mengelak.

'Bukan punya kamu kenapa ada di tangan kamu,' Joanna tak mau kalah. Kini di matanya ada badai yang nggak bisa dijelaskan.

'Jose mau ngumpul sama temen-temen,' kilah sang adik menanggapi tatapan interogatif sang kakak.

Tangan kanan Joanna terkepal. Jantungnya serasa mau melompat keluar dari tulang rusuknya. gadis itu sudah kehilangan kata-kata. Tapi semua tau di matanya terlukis ketakutan dan badai yang nggak bisa dijelaskan. kedua netranya menatap foto mendiang ayahnya yang menghiasi tembok yang ada di hadapannya.

'Ann, udah lah,' Kini Hansel merangkul pundak Joanna. berusaha menenangkan badai yang terlukis di wajah gadis kelahiran 1999 itu.

“Ann bakalan tertekan dan takut banget kalau dia berada disekeliling orang yang ngerokok,' Yudhis menjelaskan saat menangkap wajah bingung Santa dan Yonathan.

'Kenapa?' itu yang keluar dari bibir Santa yang menangkap kejanggalan dari air wajah pujaan hatinya.

'Papa meninggal karena kanker paru-paru. sedikit banyak karena beliau suka nyepur, ngerokok tanpa batas. sejak itu, Ann punya trauma yang besar sama rokok, perokok dan asap rokok. makannya untuk ngejaga Joanna, gue sama Kak Han ga ngerokok,' jelas William.

Mendengar penjelasan panjang lebar William, Santa auto berdiri dan menghampiri Hansel dan Joana. Dengan lembut pemuda 21 tahun itu mengambil tangan Joanna dalam genggaman tangan hangatnya. 'Kak, Joanna biar sama gue aja,' Santa membimbing Joanna keluar dari suasana panas itu untuk menenangkan diri.

'Jose, kamu tau Joanna takut dan trauma sama benda itu. Koko harap, kamu bisa lebih peka lain kali,' Hansel berhenti sejenak. 'Koko kecewa sama kamu.'

'Masuk kamar, sekarang,' suara Hansel memang ga keras, tapi ada otoritas di dalam suara itu. Yudhis udah tatap-tatapan sama William takut ada apa-apa terjadi di ruang tengah. Yang disuruh masuk kamar cuma menunduk dan nurut sama perintah sang kakak.

'Dia cuma cari media buat pembuktian diri aja,' Yudhis menepuk bahu sepupunya.

'Tapi nggak lewat benda yang bisa nyakitin kembaran gue, Dhis,' William mengusap wajahnya kasar.

'Udah, biarin aja. anak itu perlu dikerasin sekali-sekali,' Hansel menghela nafas sembari menyesap cola nya.

'Ngomong-ngomong, Santa sama Joanna kemana?' tanya Yonathan, menyadari kalau kedua temannya nggak berada di sekitarnya.

'Paling ke taman depan. biarin aja. Joanna butuh udara segar,' Jawab Hansel.


'Ann,' panggil Santa waktu keduanya sedang duduk di salah satu bench yang ada di taman.

'Ya?' Joanna menoleh dan menatap Santa.

'Udah lebih tenang?' Santa masih menggenggam tangan Joanna. Tangan gadis itu mungil banget kalau dibanding dengan tangannya.

'Makasih, San,' Joanna membalas genggaman tangan Santa sambil berjalan sejajar dengan langkah kaki Santa.

'Gue ga ngapa-ngapain kok,' Santa diam-diam tersenyum, disusul sama lesung pipit yang terlukis manis di wajahnya.

'You have dimples,' Joanna mengamati wajah Santa.

'Runs in the family,' Santa mengangguk malu-malu. padahal mah biasanya malu-maluin.

'San, makasih ya. mungkin kalo lo nggak bawa gue keluar gue bakal nangis bego di depan yang lain,' Joanna menatap Santa sambil memainkan lengan sweater rajut yang dipakai pemuda berlesung pipit yang tengah menggandeng tangannya.

'Hey, it's okay to cry, Joanna. Just remember, bokap lo di atas sana nggak akan mau liat anak cewek semata wayangnya nangis,' Santa berujar sembari menghentikan langkahnya. 'gimana kalo kita cari eskrim buat ngademin pikiran?' tawar Santa yang auto disambut anggukan kepala dari gadis 159 cm di sampingnya.

'Yeay, ditraktir!' Joanna berseru, disusul kekehan renyah dari pemilik nama Santa itu.


saved: 2021/02/01

Liztomania #06 Sorren, Santa dan Joanna


Santa duduk di kursi kafe dengan sangat amat gelisah. dari tadi, matanya nggak lepas dari ponsel pintarnya yang tengah menampilkan beranda twitternya yang berisi cuitan dari Sorren, saingannya memenangkan hati Joanna, dan tak lain tak bukan, gadis pujaan hatinya, Joanna yang tengah pergi jalan-jalan bersama. Menurut Yudhis yang duduk di seberangnya, sudah lebih dari 12 kali Santa menghela nafas dan mengacak rambutnya sejak ia melihat cuitan dua orang itu di berandanya.

'Udah kali, San. mau diliat berapa kali pun akan tetep gitu postingannya. lagian lo belom usaha,' Yudhis nyeletuk sambil terkekeh melihat tabiat temannya.

'Lah emang abis ngestalk siapa? kok asem banget mukanya. lebih asem dari keteknya kalo abis basket,' kali ini Yonathan nyeletuk sambil tertawa kecil.

'Anjir' Santa merutuk setengah suara, biar nggak kedengeran berandalan banget. lalu mendorong bahu Yonathan yang duduk di sebelahnya.

'Sepupu gue yang waktu itu, Yo,' jawab Yudhis.

'Kembarannya William anak kelas gue?' tanya Yonathan.

'The one and only Joanna,' Yudhis mengangguk.

'Oh, namanya Joanna? yang selama ini lu sembunyikan dari kita,' Yonathan nyengir jahil.

'Gue pernah liat dia manggung di resital anak seni pertunjukan,' Santa buka mulut. 'Cantik.'

'Tipe Santa banget sih, gue ga heran kalo Santa kesemsem,' Yonathan mengangguk tanda paham betul akan selera sobatnya itu.

'Tapi iya, San. lu harus bersaing sama Kak Sorren. dia udah lama banget ngejar Joanna. Dari 2 tahun yang lalu kayaknya,' Yudhis manggut-manggut sambil menyesap iced americano yang dipesannya.

'Sorren kan idola semua idola. kalo saingan gue Sorren gue bagaikan remahan regal kecemplung di kubangan susu, Dhis. nggak ada artinya,' Santa merajuk diikuti dengan kekehan Yonathan.

'Sejak kapan seorang Santa jadi ciut begini?' ujar pemuda berambut kemerahan itu pada sahabatnya.

'Speaking of the Devil, tuh William dateng,'Yudhis mengangguk ke arah pintu masuk kafe. Seorang pemuda berambut hitam legam muncul dengan kaus sleeveless hitam dan celana jeans yang ada aksen sobek pada lututnya.

'Tumben sendirian, Will,' kali ini Yudhis beneran basa-basi. ingin menjahili Santa yang beneran lagi galau tingkat akut.

William terkekeh saat menerima kekehan jahil Yudhis. 'Ga tau, tadi izin mau pergi bareng sama yang ngegebet dia,' jawabnya asal.

'Loh emang Bang Ren beneran masih sesuka itu sama ade' lo?' tanya Yonathan. membuat santa makin nunduk.

'Dari SMA, tapi cuma dianggap temen sih sama Anna. dia bilang nggak satu kasta sama Kak Ren. terlalu jauh untuk digapai,' William berujar, membuat segaris senyum tipis terlukis di bibir merah Santa yang dari tadi cemberut.

'Sorren dari dulu kan ngegas banget deketin Joanna. dari jaman SMA kan? sampe nyamper gue demi minta nomor hpnya,' Yudhis makin ngegas ngisengin Santa.

'Udah lah, Dhis. lo harusnya support Santa buat deketin ade' gue. Santa sama Joanna ada di liga yang sama. kalo boleh jujur, ga tau kenapa gue lebih percaya sama Santa ketimbang Kak Ren,' jelas pemuda yang kerap disapa Willy atau Liam itu.


cerita di basecamp #Entry99

cuitan Nad bikin Kevin dan seisi Halcyon panic. habisnya Nad tergolong nggak gampang menangis kecuali beneran terharu, tersentuh atau terpukul tingkat akut. Kevin udah mempercepat mobilnya menuju apartemen Nad saat itu. Pasalnya, rumah Kevin berada cukup jauh dari apartemen tempat Nad tinggal. Kalau suasana macet, acara ngapel pacar ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam, kalau lancar bisa 45 menit sampai 1 jam. sebenernya, Nad udah bilang kalau dia nggak papa, nggak sedih atau terpukul. tapi Kevin beneran nggak sabar pengen tau apa yang membuat Nad terharu biru seperti itu.

Sesampainya di apartemen Nad, Kevin disambut oleh wajah sumringah Jayden dan semua member Halcyon, minus Kiran yang udah ngumpul di ruang tengah. Nad duduk di sofa, bareng sama Jacob dan Joel, sementara yang lain ngambil kursi dari ruang makan.

'Loh, kok pada ngumpul?' tanya Kevin bingung.

'Duduk dulu, minum,' Joel berdiri dan menarik Kevin supaya duduk di sofa bersamanya. Sudah itu, dia menyerahkan sebotol air mineral pada sang empunya nama itu.

'Oke, karena udah pada ngumpul semua, gue mulai aja. sebelum latihan ke studio, gue cuma mau ngabarin update terbaru dari Kak Brian dan Kak Joan,' Nad berhenti sejenak. 'Semalem gue ada ngobrol soal collab stage dan latihan bareng sama Halcyon. ada good news sama bad news. mau yang mana dulu?'

'Bad news dulu deh,' jawab Joel mantap.

'Gue juga,' Jacob mengangguk. diikuti dengan anggukan kepala Kevin.

'We're okay with both,' ujar Leon sambil memainkan stick drum di tangannya.

'So, berita buruknya, Kak Bri, Kak Davian sama Kak Winston bakal ke Jakarta 1 bulan sebelum the real show,' Nad menarik napasnya sebelum melanjutkan. 'Mereka bertiga akan set up street busking shows buat Halcyon dan perform bareng. tujuannya, untuk crowdfunding sebelum konser.'

'Good newsnya, yang pertama, stage time sepanjang konser buat halcyon including opening sama closing kurang lebih a quarter of the whole concert. kalian dapet ruangan sendiri, crew dan stylist as well. Universal music bakal funding seluruh kegiatan Halcyon beserta make up dan kostum per bulan depan.'

Nad menutup mulutnya dan memandang ke seluruh ruangan, mengamati wajah semua orang yang tercengang mendengar berita tersebut. Mereka masih nggak percaya dengan apapun yang baru saja dikatakan oleh Nad. ini tuh kayak ngeliat film di-pause dan semua karakternya lagi mangap. gitu deh pokoknya. seketika gadis 22 tahun itu menutup mulutnya dengan tangannya. matanya menyipit dan bahunya bergerak naik-turun. pemilik nama Nadeshda ini diam-diam tertawa melihat kejadian langka di hadapannya.

'Kok kita diketawain?' rupanya Jacob menyadari sosok di sampingnya yang tengah tertawa.

'Abis seragam sih. harusnya aku fotoin pas bengong terus aku post di twt Halcyon ya.' Nad masih cekikikan.

'Jahat banget sumpah,' kali ini Jerome berkomentar.

'Harusnya Kak Je liat mukanya sendiri pas mangap gitu,' Nad masih tertawa. 'Apalagi Kev. harusnya aku fotoin terus di-share di twitter.'

'Apa ini including additional members?' tanya Leon.

'Iya, Leon, kalian juga termasuk di perjanjiannya. nanti sisanya aku Kak Kiran sama Kev yang urus. semua kelengkapan konser bakal dikirim berkala ke sini mulai minggu depan,' Nad menjelaskan.

'Kiran udah tau?' Jayden bertanya.

'Sebenernya ini obrolan di grup yang isinya anak TD6 sama gue. Tapi entar gue coba hubungin Kak Kiran. Gimanapun, dia juga harus tau,' Nad berujar. Sementara itu, Kevin sibuk mengatur ponselnya. Ternyata, pemuda 22 tahun itu tengah menyalakan fitur Video Call di ponselnya.

'Kenapa Keb?' sahut Joan dari seberang nun jauh di sana.

'Kak Joan, makasih!' Kevin berujar sembari menyorot semua anak-anak Halcyon yang masih berusaha menata ekspresi mereka.

'Kak kasian, anak-anak ini pada jantungan,' Nad nyengir jahil. 'Kevin juga.'

'Loh, Kiran belom balik dari Jogja?” Joan bertanya.

'Belum, kak. mungkin lusa,' Nad memeriksa pesan terakhir dari Kiran.

'Pokoknya gue sebagai perwakilan dari TD6 cuma mau bilang, kalian persiapin yang terbaik. ini kesempatan kalian untuk buktiin bahwa kalian tuh worth to perform with us. Bermusik dengan hati kalian,' Joan berujar disambut anggukan dari semua yang bertandang di ruangan itu.

'Kak, tidur lagi, di sana masih jam 4 pagi kan?' Nad berujar, mengomentari muka bantalnya Joan.

'See you in 3 months guys!'

dan facetime pun berakhir.


saved: 21/01/2021

Nad's Choice #Entry77


Hari itu, tepat setelah 1 bulan lamanya Nad, Kevin dan Kiran berlibur di Los Angeles. dan beberapa hari berlalu sejak peristiwa pengakuan cinta yang dilangsungkan oleh oknum Kevin dan Kiran pada Nad. Nad sempat minta waktu buat memutuskan perasaannya terhadap kedua pria tampan itu. memang, ini hal yang cukup sulit buat Nad. soalnya, yang pertama, Kiran sudah seperti kakaknya sendiri. meskipun keduanya nggak tinggal serumah, tapi sedikit banyak Kiran selalu menjaga dan merawat Nad bak adiknya sendiri. Nad baru kenal Kevin, Nad baru tau Kevin sesuka itu sama dia. Tapi jauh di dalam lubuk hati gadis 22 tahun itu, Nad merasa nyaman dan aman berada di dekat Kevin. Kevin-lah yang berhasil merobohkan dinding pertahanan Nad.

seperti biasa, pagi itu Ibun sudah ada di dapur, menyiapkan sarapan. Joan yang tinggal di rumah sebelah pun sudah mapan di meja makan bersama istri kesayangannya. Kevin dan Kiran sedang sibuk ngobrol sama Papa Angkasa di teras belakang sambil ngopi dan main catur. Nad dan Elisa sibuk di dapur juga, tapi nggak bantuin Ibun. mereka sibuk menyiapkan beberapa buah cupcake yang dihias dalam berbagai bentuk. ada 12 cupcake. 6 di sisi yang diberi label 'Kevin'. 6 lagi ada di sisi yang diberi label 'Kiran'. Nad mau kasih jawaban atas pernyataan mereka pake cupcake itu.

'bun, Kevin sama Kak Kiran jangan dikasih sarapan dulu,' pinta Nad.

'Loh, kenapa, nak?' tanya Ibun sembari menatap putrinya bingung.

'Kemarinan Kak Kiran sama Kak Kevin nembak Kak Nad, Bun. terus hari ini, cupcake itu jawaban dari penantian mereka,' jelas Elisa yang disambut dengan wajah Nad yang memerah.

'ya ampun, anak ibun,' Ibun tersenyum sembari bergeser mendekat ke putrinya yang tengah menghias cupcakes yang sejak pagi tadi dibuatnya itu.

'Bun, papa udah isengin Nad terus, Ellen sama Kak Joan juga, Elisa juga, apa ibun mau ikut-ikutan juga?' Nad merajuk.

'Nggak, nak. Ibun cuma mau bilang, siapapun yang Nad pilih, pasti akan kena ceramah Kak Joan dan Papa. jadi mereka harus siap-siap,' Ibun tersenyum sembari membawa nampan berisi sarapan ke ruang makan.

'Kak Nad kenapa milih Kak Kev?' tanya Elisa pelan sembari membantu menghias cupcakes.

'Sebenernya kalo ditanya siapa yang duluan deket dan suka aku, jawabanya Kak Kiran, El. tapi Aku nggak bisa melihat Kak Kiran lebih dari orang yang gantiin posisi Kak Joan waktu dia dan aku jauh. Kevin yang dengan berani deketin aku meskipun dia tau aku bangun tembok dan gak mau pacaran sama orang populer setelah putus dari Kak Elang.' Nad berujar. Tangannya sibuk menata cupcake berhiaskan cream frosting itu di atas piring.

'Kak Nad, siapapun yang kakak pilih, kalo mereka bikin masalah sama Kak Nad, Elisa, Kak Joan dan Ellen gak akan segan jadi pelindung kakak,' Elisa berujar sambil memeluk Nad.

'Makasi El,' Nad tersenyum dan merengkuh adik tirinya itu di dalam pelukan hangatnya.

'Nad, You ready?' Kepala Ellen menyembul dari balik tirai pemisah dapur dengan ruang makan.

Nad menyambut pertanyaan Ellen dengan anggukan penuh keyakinan. 'Yep,' sahutnya sembari membawa piring berisi cupcake milik Kevin yang sudah ditutup oleh tutup saji, dibelakangnya Elisa membawa milik Kiran, sama-sama tertutup tudung saji.

'Kak Kiran, Kevin, gue harap, waktu kalian buka tudung sajinya dan tau siapa pilihan gue, kalian bisa nerima dengan legowo dan tolong jangan pernah berantem karena gue. I adore your friendship so far,' Jelas Nad sembari menaruh piring di tangannya di hadapan Kevin.

'Kalo berantem, ga boleh main ke sini lagi' Sahut Elisa yang langsung disambut kekehan lembut Ellen dan Joan.

'Lo berdua harus buka barengan. dan apapun keputusan Nad, kalian harus terima,' Joan memberi petuah penutup sebelum kedua pemuda tampan itu membuka tudung saji dan menemukan jawaban Nad di sana.

Punya Kiran, ada deretan cupcake kecil dengan tulisan I'm Sorry tersusun rapi di papan kecil yang menutupi keenam kue kecil berhias krim putih itu. sementara di piring yang ada di hadapan Kevin, diantara enam cupcake kecil berhias cream keju miliknya, ada sekuntum mawar kuning tersemat dan ornamen tulisan yang menyusun kata Yes.

Nad berhenti di belakang Kevin yang masih duduk menatap kuenya dengan tampang cengo. Perlahan, Gadis yang wajahnya masih bersemu merah itu mengalungkan kedua lengannya di leher Kevin dan menyandarkan dagunya di bahu sang adam. 'Thank you for coming into my life, I'm glad you broke my defense,' bisiknya lembut. Di ekor matanya Nad bisa lihat kalau Kevin pun bersemu kemerahan dan tersenyum lebar waktu tahu penantiannya nggak sia-sia.

Setelah itu, Nad duduk di samping Joan, berhadapan dengan Kevin dan Kiran. 'Kak Kiran, maaf. It's been hard for me to decide this past few weeks. Tapi gue yakin cuma lu yang bisa jadi kakak gue, seperti Kak Joan. Lu sosok yang dewasa dan gue yakin suatu saat nanti, ada cewek yang bisa nemenin lu. You're always a brother to me. Like Kak Joan.' Nad berucap pelan.

'Kak Joan, gue pinjem Nad sebentar ya,' Kevin berinsiatif berjalan mendekati Nad dan menggandeng tangan gadis itu, membimbing Nad ke teras belakang.

'Kev,' Nad mendongak, menatap wajah Kevin.

'I love you,' ungkap Kevin blak-blakan sembari merengkuh Nad dalam pelukannya.

'You've broken all the walls i've been building all these time,' Nad menatap mata Kevin. Jarak diantara keduanya saat ini perlahan semakin menipis.

Kevin berinisatif menunduk untuk memotong jarak tinggi badan mereka yang terpaut 12 cm. perlahan, jarak itu mulai hilang, tergantikan suara degup jantung kedua insan yang semakin terakselerasi ketika jarak wajah mereka semakin dekat. Tanpa ragu, wira tampan itu mendaratkan bibirnya di atas bibir merah jambu kepunyaan Nad.


Saved: 3/1/2021

Elisa dan Winston #Entry71– Halcyon


'Jadi tuh Kak Winston suka sama Elisa?' Tanya Nad di dalam mobil saat Brian dan Winston mengantarnya pulang.

'Uh — Eh, gimana ya?' Winston-pun salah tingkah ditanyai begitu sama Nad.

'Jawab aja, Win. Lagian kan lu suka sama dia karena biasa bareng juga kan?' timpal Brian sembari fokus menatap jalan yang mereka lalui sembari sesekali menatap ke kaca spion untuk mengecek kendaraan yang lalu-lalang di sekitar mereka.

'Gue ga akan lapor ke kak Joan. But, he most likely finds out about it on his own. soalnya you know Elisa bucin banget ke lo, kak,' Nad nyengir sambil melirik Brian untuk meng-approve agendanya ngejahilin Winston. Yang langsung disambut anggukan dan cengiran jahil dari oknum bernama Brian yang lagi nyetir di sampingnya.

'El ada di rumah kan tapi?' Brian bertanya pada Nad.

'Tadi pas gue ke studio sih dia bilang hari ini ga kemana-mana. but, who knows?' Nad menaikkan bahunya.

Sekitar 5 menit kemudian, Rubicon abu-abu itu pun tiba di depan town house sederhana di perumahan elit Beverly Hills, Los Angeles. Nad kaget karena adik tirinya yang manis itu sudah menunggu di depan rumah, kayaknya Elisa habis telfonan atau browsing tiktok di depan rumah.

'Kak, stay. jangan turun dulu, biar El ga kabur. gue dulu aja yang turun,' Nad menahan Winston dan Brian yang sudah ancang-ancang mau turun dari mobil ganteng-nya Brian.

Kenapa mobil ganteng? Elisa bilang, Brian yang udah dari sononya ganteng kalau turun dari mobil jeep warisan papanya itu kadar kegantengannya naik 200%. hehehe.

'Elisaaaa,' Nad berlari ke teras depan dan mengajak Elisa menuruni tangga teras depan. 'I got a surprise for you.'

'Apaan nih, kak Nad?' Elisa menatap Nad bingung sambil mengikuti Nad berjalan ke pelataran depan rumahnya. Dan dengan itu, kedua manik coklat muda Elisa tertutup oleh telapak tangan mungil Nad.

Setelah menutup kedua mata Elisa, Brian dan Winston turun dari mobil dan mendekat ke arah dua gadis yang berdiri di beranda rumahnya itu. dan setelah kedua pria tampan itu berdiri di hadapan mereka, Nad perlahan menurunkan tangannya.

'Ih apaan Elisa jelek banget sekarang,' Elisa menutup wajahnya saat menemukan wajah Winston tersenyum grogi di hadapannya.

'Kamu cantik kok, Tuh aku ajak Kak Winstonnya sekalian, biar El ga pake titip salam lagi,' Nad berbisik di telinga Elisa. 'Gih, ngobrol sama Kak Winston.'

'Lu masuk aja, udah diintip sama pacar-pacar lu,' Brian menyenggol Nad sambil mengedikkan bahunya ke arah jendela town house bernuansa country itu. terlihat sosok Kevin dan Kiran muncul dibalik venetian blind jendela depan.

Nad terkekeh sambil memberi sinyal supaya kedua cowok itu keluar dari persembunyian mereka dan bergabung dengan mereka. Kevin muncul dari pintu depan, pemuda itu nampak santai dengan hoodie dan celana panjangnya, sedangkan Kiran pakai celana jeans dan kaus hitam. Sementara Winston dan Elisa mulai bercengkrama dan Brian yang ikutan nimbrung, Nad berjalan dan dengan spontan memeluk pinggang Kiran dari belakang, pemuda itu terbelalak kaget.

'Maafin gue, kak. I need time to think.' Nad berujar dari balik punggung Kiran. kemudian, Nad melepas pelukan itu dan melakukan hal yang sama pada Kevin. 'Give me time, Kev. gue janji, gue nggak akan bikin kalian nunggu lama.'


Saved as: Elisa dan Winston 20/12/23 10:33 Word Count: 517 Words

𝑳𝒐𝒔𝒕 Part 2 sepenggal kisahnya Arjuna Adiyasa.


Ternyɑtɑ benɑr, tɑnpɑ Arjunɑ, Arsyɑ bukɑn cumɑ nggɑk punyɑ tempɑt untuk mengɑdu. Diɑ jugɑ benerɑn nggɑk bisɑ menemukɑn jɑlɑn pulɑng, literɑlly.


'Sya, mau ikut makan seafood di Maine?' tanya salah satu teman sekelas Arsya usai perkuliahan.

'Jauh ya? nanti baliknya gimana?' Arsya melihat lokasi makan seafood yang disebutkan oleh temannya itu di g-maps.

'Kita balik malem ke dorm. mau sekalian ke Tavern,' sahut yang lain.

'Gue nggak dulu deh. Mau jalan-jalan di Yard sekalian ke perpus,' tolak Arsya sembari tersenyum.

'Ati-ati, Sya. kalo misal udah balik dorm kabarin kita di group ya,' Karina, temen satu kamar Arsya menimpali.

'Iya, Rin.' Arsya mengangguk. 'Have fun, guys!'

Arsya memutar langkahnya menuju ke Harvard Yard, yang harus ditempuh dengan perjalanan kereta bawah tanah sebanyak 1 stasiun dari kampus utama universitas Ivy League tersebut. Setibanya di taman yang dinamai Harvard Yard atau Harvard Square itu, Arsya langsung menyusuri jalan dari pintu masuk menuju gedung perpustakaan yang menjadi jantung Harvard Yard. pohon-pohon yang rindang menghiasi sepanjang jalan menuju perpustakaan. terdapat juga beberapa gedung paviliun bergaya arsitektur kuno tahun 1920 an yang merupakan tempat tinggal mahasiswa baik internasional maupun lokal.

Gedung perpustakaannya sendiri terletak di tengah Yard yang entah luasnya berapa ekar itu. dari luar, arsitekturnya agak sedikit mirip dengan gedung-gedung yunani kuno. Di dalamnya bisa membuat mulut orang-orang yang masuk ternganga kagum. soalnya ini sungguhan surga buat Arsya yang emang suka belajar. di dalam perpustakaan itu hanya ada satu aula besar berisi beberapa baris meja belajar dan tiga tingkat rak buku yang penuh terisi dengan buku-buku dari segala tahun terbit dan mata kuliah.

'Wow,' itu kata pertama yang keluar dari bibir merah Arsya.

kedua kakinya melangkah masuk ke dalam selasar luas itu dan matanya mengedar ke seluruh ruangan, mencari tempat kosong dan menaruh barang bawaannya dan mencari buku-buku yang ingin ia baca. setelah kira-kira 3 jam di dalam perpustakaan yang nyaman itu, gadis 21 tahun itu kemudian membawa tasnya dan beranjak keluar dari kompleks Yard. Namun, karena satu dan lain hal, Arsya keluar lewat gerbang yang berbeda dengan gerbang tempat ia masuk. langkahnya terhenti karena ia tak berhasil mengenali tempat sekelilingnya dan hari sudah semakin sore.

Banyak banget orang yang lewat di sekitarnya dan nggak ada satupun yang dikenalinya. Asya takut. yang bisa diraihnya saat itu hanya ponsel yang masih menggantung di lanyard yang dikalungkan di lehernya, bersama dengan kartu transportasi dan kartu akses mahasiswa. saking paniknya, Arsya nggak sadar kalau ia menekan speed dial nomor 2 yang dikhususkan untuk nomor Arjuna dan bukan hanya itu, Arsya menekan fitur panggilan video.

'Ar,' Sapa Arjuna, mukanya masih muka ngantuk, karena Di indonesia bedanya 12 jam dengan di Amerika.

'Jun?' Suara Arsya bergetar. ini udah jam 8 malam dia daerah tempat Arsya berdiri, walau masih terang, tapi tetap saja menakutkan bagi Arsya yang kala itu sendirian.

'Ar, lu dimana? kok nangis?' tanya Arjuna saat melihat ekspresi wajah Arsya yang ketakutan.

'Juna tolongin, gue ga tau jalan pulang ke asrama, takut,' rengek Arsya.

'Gimana caranya? Oh lu inget alamat asrama lu?' tanya Arjuna lagi sembari membuka laptopnya dan mencari fitur Find My iPhone yang telah disambungkannya ke ponsel Arsya. di jendela yang lain, Juna sudah siap dengan google maps.

'Ar, minggir dulu, di deket lu ada cafe, lu masuk, beli duduk dulu, beli minum, kirim alamatnya ke gue,' Juna mengarahkan, yang mana langsung diturutin sama si gadis yang masih nangis itu.

Arjuna kemudian menyalakan peta dan segera memberikan navigasi petunjuk dan meminta Arsya untuk tidak menutup pembicaraan mereka supaya gadis itu setidaknya tenang dan bisa berfikir dengan baik. tanpa terasa, pembicaraan mereka berjalan terus sampai akhirnya Arsya tiba di hostel yang dijadikan asrama buat anak-anak pertukaran pelajar.

'Nah bisa nyampe kan kalo nggak nangis,' Arjuna menggoda Arsya sembari nyengir jahil di tampilan video yang menampilkan wajah bangun tidurnya.

'Arjuna jangan nyebelin dong,' Arsya merajuk.

'hahaha, masuk gih, mandi. entar maleman pas kelar jam makan telpon lagi.' ucap Arjuna sembari mengakhiri telepon.


6 bulan terasa berjalan begitu lambat, baik untuk Arsya, maupun Arjuna. keduanya menghitung hari dimana Arsya akan kembali menginjakkan kakinya ke tanah air. Yang nunggu Arsya nggak cuma Arjuna. Rama, Rindu, papa dan mama pun sama-sama menghitung hari sampai tibalah hari yang mereka tunggu-tunggu. Arsya pulang ke Indonesia. Hari itu, Arjuna minta izin buat menjemput Arsya. niatnya, hari itu ia mau menjemput sekaligus mengutarakan perasaannya. di tangannya udah ada sebuah buket bunga berisi 100 tangkai bunga mawar dan sebuah kotak berisi kalung perak dengan bandul cincin berukirkan namanya.

Arsya mendorong trolley yang berisi 3 buah koper berukuran sedang dan tas ranselnya menuju ke gerbang kedatangan. Kebetulan Bandara saat itu nggak begitu ramai dan Arjuna terlihat menjulang tinggi menunggunya dengan sebuah buket bunga. tiba-tiba ponselnya bergetar tanda ada telfon masuk.

Arjuna <3 is calling

'Jun, iya udah liat lu kok,' ujar sang dara manis sambil melambaikan tangannya.

'Lu diem di sana, gue aja yang samperin,' Arjuna berujar sambil berjalan cepat menuju tempat Arsya berdiri.

panggilan terputus. Dalam hitungan kurang dari 1 menit, Arjuna sudah berdiri di hadapan Arsya. 'Ar, gue nggak siap kalo keduluan sama Mas Rama, jadi hari ini, gue minta izin om dan tante untuk jemput lu.' tangannya terulur, memberikan buket berisi 100 tangkai mawar putih itu. 'Ar, gue menyesal ga ngelakuin ini sebelum lu berangkat. tapi hear me out ya?'

'Jun,' Arsya kehilangan kata-kata. dia cuma bisa menatap manik mata coklat milik Arjuna.

'Arsya, gue sayang sama lo. gue nggak sanggup jauh-jauhan sama lo. mungkin gue nggak sempurna. kedepannya mungkin akan banyak berantem karena gue masih Arjuna yang sedikit egois dan keras kepala. Tapi, mau nggak bantuin gue, gue janji nggak akan bikin lo nangis lagi. Arsya Callista, maukah kamu jadi pacarku?' Arjuna berlutut sambil membuka kotak beludru merah berisi kalung yang seragam dengan apa yang menggantung di lehernya.

Terdengar sorakan dari pengunjung bandara yang berkerumun disekitar kedua muda-mudi itu. Arsya mengambil kotak beludru merah di tangan Arjuna dan menyuruh pemuda itu berdiri. 'Kalo kamu serius, pakein dulu kalungnya, nanti aku jawab,' Arsya tersenyum manis.

Arjuna berdiri dan segera memakaikan kalung itu di leher sang gadis. 'Jadi, jawabannya apa, tuan putri?' tanya Arjuna yang sudah tak sabar menunggu kepastian dari pujaan hatinya.

'masa kalungnya udah dipake baru ditanya sih? Arjuna Aneh Adiyasa emang,' Arsya terkekeh sambil membalik badannya supaya bisa menghadap ke Arjuna. 'Kalo nggak mau kan nggak diminta pasangin kalungnya.'

Arjuna membungkukkan badannya sehingga wajahnya tepat berada di depan wajah Arsya. 'I love you, Arsya Callista,' bisiknya sembari mengecup kening Arsya.

'Love is so overrated. You're my home, Arjuna. Tanpa kamu aku tersesat,' Arsya dengan berani berjingkat dan memberikan kecupan singkat di bibir Arjuna yang auto disorakin sama orang-orang yang masih berkerumun di sekitar mereka.

[read while listening to https://open.spotify.com/track/054sQZ2qmw0Ya7N0XSxl3j?si=AMSuOEneQcGDnq3km0_sfw ]

'curang,' Arjuna merajuk.

'curang? curang kenapa?' tanya Arsya sambil menatap Arjuna dengan tatapan innocentnya.

'kamu curi start! kan harusnya yang kiss-kiss aku duluan,' Arjuna merajuk sambil membantu sang pujaan hati mendorong trolleynya.


'Aku mau minta izin ke papa mama kamu boleh?' tanya Arjuna. yang dihadiahi tatapan bingung sama Arsya.

'Hah? minta izin kenapa?' tanya Arsya sambil menautkan alisnya. lucu banget, kalo kata Arjuna.

'Minta izin mau pacarin anak perempuannya yang cantik ini,' Arjuna nyengir, manis banget, sampe matanya hilang membentuk dua lengkungan hitam.

'Jun, jangan senyum gini dong, ga sehat,' kini ujaran Arsya dihadiahi tautan alis oleh pemilik nama Arjuna Adiyasa itu.

'Hah? gimana?' tanya Arjuna memastikan apa yang dia dengar nggak salah.

'Jantung aku nggak kuat kalau kamu senyum gitu terus,' Arsya berujar denga nada manja sambil memegang dadanya. Jantung arsya saat ini berdegup nggak teratur lantaran lihat senyum manis Arjuna. kalau kata lagunya The Boyz, Bloom Bloom Pow! gitu hatinya. Rasanya saat itu juga Arsya mau Dance-Dance-Dance karena dihadapannya ada pangeran ganteng yang tersenyum dan bersikap begitu manis ke dia.


***To Be Continued


Saved: 2020/12/22 12:07, Lost (part 2) word count: 1280 Words

𝑳𝒐𝒔𝒕 Kisahnya Arjuna Putra Adiyasa


𝑺𝒆𝒑𝒆𝒓𝒕𝒊 𝑷𝒖𝒕𝒓𝒊 𝑨𝒏𝒂𝒔𝒕𝒂𝒔𝒊𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒉𝒊𝒍𝒂𝒏𝒈 𝒊𝒏𝒈𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒄𝒂𝒓𝒊 𝒋𝒂𝒕𝒊 𝒅𝒊𝒓𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒉𝒊𝒍𝒂𝒏𝒈, 𝒃𝒆𝒈𝒊𝒕𝒖 𝒑𝒖𝒍𝒂 𝑨𝒓𝒔𝒚𝒂 𝑪𝒂𝒍𝒍𝒊𝒔𝒕𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒄𝒂𝒓𝒊 𝒌𝒆𝒑𝒊𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒓𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒉𝒊𝒍𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒂𝒂𝒕 𝑷𝒂𝒑𝒂, 𝑴𝒂𝒎𝒂 𝒅𝒂𝒏 𝑴𝒂𝒔 𝑯𝒂𝒓𝒔𝒚𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒓𝒊𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒆𝒏𝒅𝒊𝒓𝒊𝒂𝒏.


[timestamp matters] Theme song: [https://open.spotify.com/track/3MkYUoEo1Yk1peHN4cof0c?si=08NdLge-R3y9T9giBVK5Vw]


Arsya tinggal di panti asuhan 𝑲𝒂𝒔𝒊𝒉 𝑰𝒃𝒖 sejak usianya 5 tahun. Kala itu, Papa dan mamanya tengah mengantar Abangnya, Harsya Christopher ke rumah sakit lantaran Harsya mengalami kejang-kejang hebat setelah berhari-hari demam tinggi. Arsya yang masih kecil dititipkan pada neneknya. Saking paniknya, mobil yang papa setir malam itu tergelincir karena papa terlalu fokus sama Harsya yang thrashing dan mama yang terus menangis. Naasnya, mobil papa yang tergelincir menghantam truk dari arah yang berlawanan. alih-alih menyelamatkan nyawa Harsya, 3 nyawa melayang di tempat saat itu juga.

Tak lama kemudian, karena tidak sanggup merawat Arsya lantaran usianya sudah cukup tua, Nenek menitipkan Arsya di panti asuhan, tempat Arsya menghabiskan masa kecilnya dalam diam. Waktu menginjak usia yang ke 5, sepasang keluarga muda datang ke panti asuhan dan hari itu, mereka mengadopsi Arsya. Mereka membesarkan Arsya. Merekalah yang kemudian memperkenalkan Arsya dengan teman barunya, Arjuna, yang seusia dengannya, Rama, kakaknya Arjuna dan Rindu, adiknya Arjuna. Hidup Arsya lebih berwarna setelah kehadiran ketiga kakak-beradik ini. Tapi Arsya kerap kali terlihat melamun sendiri.


24 April 2015,

'Sya, Arsya,' Rama menggerakkan tangannya di depan wajah Arsya.

'Kak Arsya ngelamun lagi,' Rindu duduk di samping Arsya yang tengah memandang kosong ke garis pemisah antara laut sama langit yang ada di hadapannya.

Tiba-tiba air matanya turun membasahi pipinya. Ya. Arsya masih sering banget kepikiran tentang papa, mama dan Harsya. Rindu yang melihat Arsya tiba-tiba menangis auto panik sendiri. ia menatap Rama, bingung harus bagaimana menghadapi Arsya yang tiba-tiba menangis. Rama dengan sigap merengkuh tubuh Arsya yang termasuk ukuran 'petit' dibandingkan dengan dirinya yang menjulang tinggi. 'Kak Rama, Arsya mau nyusul papa, mama sama Mas Hasya aja,' isak Arsya dalam pelukan Rama.

'jangan mikir gitu, sekarang Arsya punya gue, Rindu, Juna, Ayah, Ibu, Om dan Tante, lo ga sendiri, Sya,' Rama berujar lembut.

Rama masih membelai rambut Arsya yang masih terisak. Arsya cukup lama berada dalam pelukan Rama, pelukan protektif seorang kakak laki-laki buat adiknya. sama seperti pelukan Harsya dulu, semasa Harsya masih hidup. Semasa mereka kecil dulu. Ini membuat tangis Arsya makin tersedu-sedu. Rama tak bisa apa-apa selain membelai punggung Arsya untuk menenangkan kondisi emosi gadis 17 tahun yang tengah teringat masa lalunya itu.

Tak lama setelah tangis Arsya mereda, Rama sudah melepas pelukannya. Arjuna, yang baru aja balik dari menjajal paragliding, sekarang sudah berada di hadapan Arsya menggantikan Rama. Tubuh Juna yang bongsor itu menaungi Arsya dari teriknya matahari pulau dewata siang itu. 'Om sama tante udah nungguin lo, Ar. Yuk, makan. udah panas juga,' Ujar Juna sambil meraih tangan Arsya dan menggandeng gadis 17 tahun itu menuju Rubicon hitam milik Rama.

Arsya mendongakkan kepalanya sembari mengusap wajahnya dengan sapu tangan yang terikat di pergelangan tangannya. 'Jun,' panggil Arsya lirih.

'Hmm,' sahut Arjuna yang masih menggandeng tangan Arsya.

'Thank you,' ucapan Arsya barusan menghentikan langkah Arjuna yang semakin mendekat ke mobil jeep hitam Rama. Arjuna hanya menunjukkan senyum yang membuat matanya membentuk garis lengkung sempurna, gemes banget liatnya.

Arjuna terkekeh. tangan kirinya yang menggantung bebas diulurkan ke atas kepala Arsya. 'Yuk, tuh Rindu pasti dari tadi udah berisikin Mas Rama.'

'Jangan dilepas,' pinta Arsya lirih sembari menatap tangan Arjuna yang menggandeng tangannya.

'Nggak. nggak akan gue lepas, Ar,' Arjuna menggenggam erat tangan kecil milik Arsya sembari tersenyum manis dan menatap gadis itu.

Buat Juna, Arsya itu seperti bunga, cantik, tapi kelopaknya ringkih banget. mudah lepas, rapuh. Buat Arsya, Arjuna adalah tempat berpulang. Arjuna itu besar dan tinggi, tempat Arsya berlindung dari cahaya matahari dan mata-mata yang selalu men-judge dia. Arjuna itu yang pelan-pelan membantu Arsya jadi sosok yang lebih kuat. sedikit demi sedikit, walau kadang nggak terlalu nampak.

Arsya butuh Juna buat menetralisir semua ketakutan dan kesedihannya. Tanpa Juna, Arsya hilang. Tanpa Juna, Arsya nggak punya rumah buat berpulang. Juna itu tempat Arsya berpulang. Meskipun keduanya nggak secara langsung ngobrol ataupun bertemu secara fisik, mendengar suara Juna itu rasanya kayak pulang ke rumah.

Arsya sama Arjuna pun nggak pernah memusingkan status hubungan antara keduanya. Juna pernah bilang, kalau sama-sama nyaman, ya jalanin aja. Arjuna dan Arsya nggak tahu kalau dalam diam, Rama pun menaruh hati pada Arsya. Bukan karena kasihan, tapi Rama jatuh hati sama Arsya yang cantik dan rapuh. Tapi Rama tahu, Arsya dan Arjuna adalah dua insan yang nggak bisa terpisah, Arsya tersesat tanpa Arjuna, begitu pula sebaliknya.


4 April 2019, Seisi rumah digemparkan dengan surat dari kampus yang menyatakan bahwa pengajuan pertukaran pelajar Arsya sudah diterima oleh pihak kampus. Arsya harus menyelesaikan beberapa mata kuliah pilihannya di 𝐇𝐚𝐫𝐯𝐚𝐫𝐝 𝐋𝐚𝐰 𝐒𝐜𝐡𝐨𝐨𝐥 musim semi itu, yang artinya dalam waktu kurang dari dua minggu, Arsya akan pergi ke Amerika Serikat.

Arsya nggak berani kasih tahu hal ini ke Arjuna. Anaknya pasti bakalan shock banget. Ini impian Arsya, gadis bermanik mata hitam itu punya angan-angan bisa kuliah di Harvard. dan impiannya menjadi nyata, usahanya belajar mati-matian membuahkan hasil yang setimpal. untuk urusan Visa dan izin tinggal di AS selama perkuliahan sudah diurus oleh pihak kampus. Tiket pesawat pun sudah dikirimkan ke rumah mereka malam itu. Sepanjang malam, Papa dan mama nampak bahagia banget setelah mendengar berita itu. Namun, Arsya nggak hentinya menatap tiket pesawat di tangannya.

Gadis itu bingung harus bilang apa ke Arjuna. dia belom siap cerita semuanya ke orang yang selama ini jadi rumahnya itu.

'Arsya,' Mama memanggil Arsya dengan lembut.

'Hah? Iya, ma. maaf Arsya ngelamun,' Arsya mengangkat kepalanya dan menatap mata mama.

'Arsya mau mama bantu siap-siap?' tanya mama yang langsung dibalas anggukan kepala dari sang empunya nama. 'Sudah bilang ke Juna? dia pasti seneng denger ini,'

'Ma, Arsya takut Juna ngambek ke Arsya. habis kan semuanya dadakan,' Arsya menghela nafasnya.

papa terkekeh, dihadiahi tatapan tajam dari mama. 'Eh, maaf. Tapi ada baiknya Arsya cerita ke Arjuna. soalnya biar gimanapun, Arjuna selalu mendukung Arsya. setidaknya biar Arjuna tau aja, ini hasil selama ini suka jemput anak papa yang cantik ini ke kampus malem-malem kalau lagi ambisius,' papa berujar dengan nada serius tapi sedikit jahil.

Tak lama ketiga sekeluarga itu berbincang, terdengar suara pintu diketuk. disusul derap kaki Mbak Ati yang bergegas membukakan pintu untuk tamu yang baru saja mengetuk pintu. 'Non Arsya, ada Den Rama sama Den Arjuna nih,' Mbak Ati menghantar kedua pria jangkung itu masuk ke ruang makan. Arsya yang tadinya duduk menghadap mama langsung bangkit dan berjalan mundur. tanyannya tersembunyi di belakang punggungnya.

'Sya, kamu ngobrol sama Rama sama Juna ya. papa sama mama naik ke atas,' ujar Papa sembari membawa piring-piring kotor yang ada di meja makan ke dapur.' Papa mohon diri sembari menggandeng tangan mama.

'Kok kayak panik gitu kenapa?' tanya Rama sembari berjalan mendekati Arsya.

Di belakang Arsya udah ada Arjuna yang menghalangi Arsya sebelum tubuh gadis itu menghantam tembok. 'Lo kenapa?' Tanya Arjuna persis saat bagian belakang tubuh mungil Arsya menabrak bagian depan tubuhnya.

Arsya nggak sanggup cerita ke Rama dan Juna karena hal ini. menatap wajah kedua pria dihadapanya cuma bikin Arsya tambah merasa bersalah. Niat Arsya ngumpetin semuanya ke Rama dan Arjuna gagal waktu si bongsor Arjuna menemukan sebuah amplop yang sedari tadi bersembunyi di balik punggung Arsya.

'Ar, ini apa?' tanya Arjuna sambil merebut amplop dari tangan Arsya.

'Arjuna balikin!!' Arsya berusaha meraih amplop putih yang di depannya ada tulisan namanya itu. tapi sebelum amplop itu berhasil ia rebut, benda putih itu sudah beralih ke tangan Rama. dan Rama reflek membuka isi amplop itu. wajahnya nampak sangat terkejut.

'Mas, ada apa?' tanya Arjuna sembari menghampiri kakaknya.

Rama hanya diam dan menyerahkan surat dari kampus itu pada adiknya. kedua manik mata coklat milik Arjuna membulat sempurna ketika ia membaca setiap kata dalam surat itu dengan seksama. Arjuna kaget, bukan cuma kaget karena Arsya nggak ada ngomong apa-apa soal ini. tapi juga karena dia merasa kecewa nggak bisa terus di samping Arsya.

'Jun, Kak Rama,' Arsya menatap keduanya. yang dibalas dengan aksi tutup mulut dari kedua kakak beradik tampan di hadapannya.

Juna masih diam sementara Rama membimbing Arsya ke ruang keluarga dan mengisyaratkan Arjuna untuk mengikuti keduanya ke ruang tengah.

'Kenapa nggak cerita ke kita?' Rama memulai interogasi singkat setelah semua oknum duduk di sofa ruang tengah.

'Maaf, Kak. Gue nggak expect bakalan bisa masuk top students yang berhak masuk ke program ini. Dan saingan gue pun banyak banget. gue ga expect bisa diterima dan harus berangkat secepat itu.' kepala Arsya tertunduk dan suaranya bergetar. sebagian diri Arsya seakan mengatakan itu mimpinya, tapi ia tak rela berangkat ke Negri Paman Sam itu, meninggalkan Rama, Arjuna dan Rindu.

'Arsya, lu nggak salah. ini mimpi lu kan?' Rama tersenyum dan posisinya kini berpindah jadi berlutut ke hadapan Arsya sembari memegang tangannya.

'Lu salah karena ga cerita dulu sama gue,' ujar Arjuna dengan tatapan lurus ke tembok.

'Jun, maafin gue,' Arsya berusaha mencari kedua manik hitam Arjuna.

'Jun udah lah, kita tuh masih di bumi yang sama, Kalo kangen masih bisa facetime atau chatting juga. Harusnya lu bangga sama Arsya,' Rama berusaha mendinginkan hati Arjuna yang saat itu pasti lagi terbakar amarah karena Arsya menyembunyikan sesuatu sebesar ini dari dirinya.

'6 bulan aja, Jun,' Arsya berusaha memegang tangan Arjuna dengan tatapan memohon yang berbuah tepisan dari yang punya tangan. nggak kenceng, tapi sukses membuat tangisan Arsya semakin menjadi. Rama segera merengkuh Arsya dalam pelukannya untuk menenangkan gadis itu.

Arjuna sebenernya pengen nangis juga. Ia berjuang mati-matian menahan air matanya. Dia takut kehilangan Arsya. 6 bulan tuh lama, apa lagi Arsya pergi merantau ke negeri orang selama 6 bulan itu. Arjuna khawatir sama Arsya, Arjuna nggak bisa jauh dari Arsya.

'Kalian berdua udah gede. gue ke luar sebentar, nyebat. lu berdua selesaiin masalahnya. kita cuma punya waktu 2 minggu sampe Arsya berangkat dan gue harap Arjuna bisa ngelepas gengsinya sekali aja.' Rama berujar, menengahi sikap dingin Arjuna dan Arsya yang masih menangis di dalam pelukannya. 'Sya, gue keluar dulu. I trust you two to work it out,' Rama melepas pelukannya dari tubuh mungil Arsya.


Arjuna menatap sosok gadis yang masih berusaha menghentikan tangisnya. Biasanya, Arsya dan Arjuna tak pernah dipisahkan jarak seperti sekarang. Arsya duduk di ujung kanan sofa berbentuk sudut siku-siku itu sementara Arjuna duduk di ujung lainnya sambil masih menatap kosong ke tembok, berusaha menahan air matanya supaya nggak jatuh membasahi wajahnya. Arjuna belom siap LDR-an sama Arsya. meskipun belum ada kata pacaran diantara mereka, tapi Arjuna khawatir akan ada yang menggantikan posisinya saat Arsya hijrah ke Amerika Serikat nanti.

'Maafin gue, Ar,' Arjuna memulai, Ia berjalan mendekat dan duduk di samping Arsya.

'Maafin gue juga, Jun. Gue ga pernah cerita, gue takut lo marah ,semarah ini,' Arsya mengaku.

'I'm sorry gue marahnya lebay. Gue nggak siap kalo harus jauh dari lu, Ar,' Arjuna merengkuh gadis mungil itu dalam pelukannya. Arsya bisa denger degup jantung Arjuna yang semakin cepat. Arsya melingkarkan lengannya di seputar pinggangang Arjuna dan memainkan sweater yang dikenakan pemuda itu, telinganya tertempel di dada sang adam. Arsya menikmati mendengarkan suara degup jantung Arjuna.

'Jun,' panggil Arsya lembut sambil mendongak menatap ke pemuda yang 20 cm lebih tinggi darinya itu.

'Ya, Ar,' sahut Arjuna sembari tersenyum.

'Pokoknya, kalo udah di sana, gue akan selalu facetime dan imess ke lu. nggak akan absen, biar lu nggak kangen sama Arsya cantik,' Arsya mengibaskan rambutnya sambil nyengir.

'Apaan sih, Ar. Tapi beneran ya? gue kalo nggak nanti gue bisa mati kangen,' Arjuna merengek.

'Dasar, bayi gede,' Arsya tertawa sembari mencubit pipi Arjuna pelan.


2 minggu kemudian, di Airport.

Hari yang paling dinanti-nanti, sekaligus hari yang paling sedih buat papa, Mama, Arjuna dan Rama, karena mereka harus melepas Arsya untuk bertolak ke Amerika Serikat, menuju kampus impiannya, Harvard University. Arsya memeluk mama dan papa diiringi dengan tangis mama yang menghantar putri angkatnya menuju universitas yang masuk di peringkat 10 besar Ivy League.

'Ma, cuma 1 semester,' Arsya memeluk dan membelai punggung mama.

'Nanti yang temenin mama kalau papa kerja sampai malam siapa, Sya?' tanya mama sambil masih sesenggukan.

'Arsya akan balik ke Indonesia bawa kebanggaan buat papa sama mama,' gadis berambut sebahu itu berjanji.

'sekarang aja anak papa udah bikin papa bangga,' papa tersenyum sambil membelai rambut Arsya. 'Nggak pamit sama Arjuna dan Rama?' sambung papa lagi.

'Ar,' lirih Arjuna. air matanya akhirnya jatuh juga di pipinya.

'Juna, gue cuma sebentar, kok,' suara Arsya bergetar. Tangis gadis itu pecah waktu Arjuna merengkuh tubuhnya dalam pelukan hangat penuh air mata.

'Facetime. iMessage, kalo gue mention di twt or ig balas, gue nggak siap kangen sama lu, Ar.' Arjuna memeluk gadis itu.

'Iya, sekarang jangan nangis, meskipun ga siap, kita harus siap pisah sebentar. setelah gue pulang, kapan pun lu siap, lu boleh ngomong apa yang ada di hati lu ke gue,' Arsya menangkup wajah Arjuna dan menghapus airmatanya. Arsya kemudian menyandarkan kepalanya di dada arjuna dan menutup matanya. 'Gue akan rindu suara ini,' Arsya tersenyum lalu berjalan mendekat ke arah Rama yang berdiri di dekat Arjuna.

'Kak Rama, Arsya pamit. jagain Juna, jangan boleh bandel-bandel,' canda Arsya sambil memeluk Rama. Rama hanya terkekeh dan mengangguk. setelah melepas pelukan mereka, Arsya masuk ke gerbang check-in dan segera mengurus barang bawaannya untuk dimasukkan kedalam bagasi. Gadis itu tak hentinya menoleh ke belakang, menatap 4 orang yang menghantarnya berangkat ke negeri paman sam.

'𝑆𝑎𝑚𝑝𝑎𝑖 𝑗𝑢𝑚𝑝𝑎 𝑙𝑎𝑔𝑖, 𝐽𝑢𝑛. 𝑁𝑎𝑛𝑡𝑖, 𝑘𝑎𝑙𝑜 𝑔𝑢𝑒 𝑝𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔, 𝑔𝑢𝑒 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑗𝑢𝑗𝑢𝑟 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑠𝑒𝑚𝑢𝑎 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑠𝑎𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑔𝑢𝑒 𝑠𝑖𝑚𝑝𝑒𝑛 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑚𝑎 𝑖𝑛𝑖. 𝐽𝑎𝑔𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑙𝑢 𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘. 𝐼'𝑙𝑙 𝑐𝑜𝑚𝑒 𝑏𝑎𝑐𝑘 𝑎𝑔𝑎𝑖𝑛 𝑤𝘩𝑒𝑛 𝑡𝘩𝑒 𝑡𝑖𝑚𝑒 𝑐𝑜𝑚𝑒𝑠. 𝐼'𝑚 𝑔𝑜𝑛𝑛𝑎 𝑚𝑖𝑠𝑠 𝑦𝑜𝑢, 𝐴𝑟𝑗𝑢𝑛𝑎,” ujar Arsya dalam hati sembari melambaikan tangannya pada papa mama, Rama dan Arjuna, spesifiknya buat Arjuna.

[bgm: https://open.spotify.com/track/5KAwSdzPevSiY0Fuv5N1WW?si=d4KN1CRUSdWK_xFZwISI6w]


[to be continued]


Saved: 12/15/2020, 14:44 “Lost”– Arjuna Adiyasa Word Count: 2.257 words.

[8] She Who Got Shot instead of my brothers.


𝙃𝙮𝙪𝙣𝙟𝙤𝙤𝙣:

𝙖 𝙢𝙤𝙣𝙩𝙝 𝙖𝙛𝙩𝙚𝙧 𝙩𝙝𝙚 𝙨𝙤𝙪𝙡𝙢𝙖𝙩𝙚 𝙘𝙤𝙣𝙛𝙞𝙧𝙢𝙖𝙩𝙞𝙤𝙣 𝙣𝙞𝙜𝙝𝙩:

Se-Ah is still lying on the hospital bed. Dr. Lee said the wolfsbane extraction is successful. However, She has to stay at the National Hospital after the bullet extraction surgery he performed at the clinic. It has been three days. She's still knocked out after the awfully long process of detoxing the wolfsbane and extracting the bullet. Jacob hyung refuses to leave her. Every time she whines in her sleep due to the pain on her shoulder, he's ready to take away the pain. He says, it'll be better that way than asking the nurse to inject the pain-killer to her IV.

The hyungs are still prohibiting me to go to the hospital. Why? Apparently, Younghoon hyung know about the whole 'mate' thing. he told me that I am not ready for this. She is still also new about this. We tend to overuse our powers on each others. leading each other into trouble we can never expect. You might wonder why She was staying at the hospital and why Jacob hyung wishes to stay by her side instead of me.

So, let's walk through what happened last week...

𝗳𝗹𝗮𝘀𝗵𝗯𝗮𝗰𝗸>>

We were staying at Se-ah's family villa at Mt. Seorak that week. Sangyeon Hyung borrowed that Villa for us to take a rest during our summer holiday at school and colleges. We were walking through the trekking paths at the back of the villa. the path lead us into the woods and she was walking with me, holding hands with me while she noticed something strange watching us from afar. and before everyone knew what she was watching, she let go of my hand and ran to take cover of Jacob hyung.

“JACOB OPPA! NO!” Se-Ah shouted and plunged herself in front of Jacob hyung who wasn't aware about what's about to happen that time, and pushed Jacob hyung away before sacrificing herself to be the shield.

As soon as we heard the blasting sound of the riffle, the bullet was already speeding and penetrating her shoulder. Wolfsbane! The bullet was covered with wolfsbane. I could smell it. But her blood neutralized the effect to werewolves like us. She held her shoulder as it bled.

“SONG SE-AH!” Sangyeon hyung dashed to catch Se-Ah who started losing her balance after the shot.“Jacob oppa, are you okay?” Se-Ah asked, checking on Jacob hyung before she started to gradually lose her consciousness.

“We need to get the antidote, the bullet is covered with purple wolfsbane. it isn't that lethal for her. but it can cause her to lose consciousness for days,” Kevin hyung said.

“Munchkins,” Jacob hyung's face is covered with sweat and tears due to the great shock he received. “I'd be dead if it wasn't for her.”

Kevin Hyung, Sangyeon Hyung, Juyeon hyung, Jacob Hyung and Changmin hyung were gathered around her. Meanwhile the rest scattered around the perimeter securing our position.

Actually, Changmin hyung was about to do something stupid by almost transforming to the wolf form and trying to look for the hunter. but Chanhee hyung screamed at him, knocking some senses to the furious Changmin hyung. Both Changmin and Chanhee hyung were anchors to each other, the only thing was they didn't admit that they needed each other to keep their human side intact. they fought each other but they also needed each other to keep them away from emotional changing.

My head was spinning and my chest hurted badly. I started falling on my knee. “Heo Hyunjoon!” Sunwoo and Eric screamed as they caught me before I hit the ground.

The last thing I heard is, “Hyung use my shirt to press on her shoulder. I'll call Youngjo hyung, He'd know what to do,” I guess that voice belonged to Juyeon Hyung.

“Hey, are you okay?” Eric shook my shoulders.

“I—I don't know,” I sat on a rock and tried to stabilize my breath.

“HURRY UP! HER HEARTBEAT IS FALLING!” Sangyeon hyung shouted as he checked her pulse.

I could see Jacob and Kevin hyung trying to take away her pain and bring back her heart rate, while Sangyeon hyung is trying to stop her bleeding. The Vet would know what to do about her. We need to call the Vet. Doctor Dongheon.

“Hyung!” Eric chimed. “Call Doctor Dongheon. He'd know what to do.”

“Warn Oneus about the lurking hunters,” Sangyeon hyung commanded. He was holding Se-Ah in his arms, carrying her into the car and starting the engine. Jacob Hyung and Kevin hyung followed behind. As well as Juyeon hyung.

“Sunwoo, Eric, take me to Sangyeon hyung's car. I want to be with her,” I insisted.

“You have to come with us to HQ,” Hyunjae hyung shook his head.

“Let me go there with her,” I started tearing up.

“Look at you, at least recover first, you looked like zombie,” Younghoon hyung held me back.

“NO,” I frantically shook my head.

“Heo Hyunjoon! look at me,” Hyunjae hyung raised his voice. He slapped my face to wake me up. “We had just experienced a hunter attack. Our Ally has just being downed. and you are in no place to object Sangyeon hyung's decision. You're too weak to come with them, please obey for once.”

“No, I—Se-Ah,” I started crying a river.

“Just obey first. you need to recover for her,” Changmin hyung sighed. With that, Hyunjae hyung and Younghoon hyung took me into their car, Eric, Sunwoo, Chanhee hyung and Changmin hyung came with us to the HQ. They were all worried but they obeyed the leader.

𝗙𝗹𝗮𝘀𝗵𝗯𝗮𝗰𝗸 <<


𝗕𝗮𝗲 𝗝𝗼𝗼𝗻𝘆𝗼𝘂𝗻𝗴

It's been 3 days since the hunter incident. I am looking after Se-Ah at the hospital. She hasn't shown any signs of waking up. It's a beautiful sunday morning outside. I could see butterflies outside the windows along with the sparrows greeting with their beautiful chirps. The most beautiful thing that happens this very morning was a hand softly touches my hair. I opened my eyes to find her bed slightly leaning a little bit higher and I see her, alive, smiling at me.

“Jakey oppa, glad you're alive,” She greets me.

“Ain't I the one who is supposed to say that?” I joke, earning a weak but happy laugh from her.

“What happened when I'm asleep?” She asks.

“You almost got poisoned, saving my butt out there,” I look onto her hand, holding my tears but, I fail. it falls right on the back of her hand.

she moves her hand and rubs my head. “Jakey oppa, I'm glad i do that. I have just known everyone. I couldn't afford to lose one of you guys,” She said.

She is such a sweet girl, She could easily remove tears from our eyes just by saying words like that. I wipe my tears away. “I will stop crying now. thank you for the thing you've just done, this means a lot to me.”

I then take my phone and tell everyone she's just woke up. The next thing I know, Eric, Sunwoo and Hyunjoon dashes into the room. Sunwoo and Eric look like they are trying to get ahold of Hyunjoon. Meanwhile, Hyunjoon doesn't even care that there are chairs around him. he kneels beside the bed and cries onto her hand.

“I thought I'd lose you,” he whines.

“I won't die that easily, Hyunjoon ah,” Se-Ah chuckles lightly, followed with a wince because the wound hurts when she laughs. “Ouch!”

“What is it?” Hyunjoon panically stands up to see whether she's okay.

“It's okay. but the wound hurts when I laugh,” She says. she then straightens her seating position by pressing the buttons of the remote control attached to her bed. She then cups Hyunjoon's cheeks. “I'm glad you got better.”

Hyunjoon takes her hands and kisses them before putting them on his chest. “Don't make this heart weak again,” Hyunjoon begs.

“I won't,” She gently smiles. “Youngjae yaaa~, how was the hideout without me?” She enthusiastically asks.

“It's dull without you,” Eric sighs.

“the house is filled with sighs and tears,” Sunwoo adds.

“I'll be home and bring back your smiles,” She positively says.

“How come someone who got injured be so positive?” Sunwoo mumbled.

Hyunjoon silently looks down and tears up. “Hyunjoon ah,” She moves closer to Hyunjoon and hugs him. “I won't leave you,” She rests her chin on his shoulder.

.

.

.

.

.

.

———————To Be Continued


Saved: 12/06/2020 2:10 PM Word Count: 1420 words

[7] Us, and Our special Mindlink


After the surprise attack from Felix, The healers, Kevin and Jacob decide to homeschool Se-Ah and cure her trauma. However, Sunwoo and Hyunjoon still has to continue to study at school while the elders are taking care of Se-Ah. The girl stays inside the mansion that day, spending her time at the living room with stacks of mathematics and history books around her. Kevin is helping her to improve her maths while Younghoon teaches her history.

“Can we stop? I'm tired of these numbers already, Keb oppa,” she whines.

“Do this formula again, understand it,” Kevin insists.

“Ugh, I hate maths. can we move on to history now?” she pleads to Younghoon.

“I'm sorry, Se-Ah. You have to do the equation first in order to move on from Maths,” Younghoon chuckles at the younger's antics.

“But, but, Maths are.... ugh,” she sighs as she slouches on the chair.

“Come on, you can do it, munchkins,” Jacob comes with a cup of iced citron tea.

'𝑈𝑠𝑒 𝑡𝘩𝑒 𝑒𝑞𝑢𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛 𝐼 𝑤𝑟𝑜𝑡𝑒 𝑜𝑛 𝑡𝘩𝑒 𝑏𝑙𝑎𝑐𝑘𝑏𝑜𝑎𝑟𝑑,' Suddenly, Hyunjoon's voice fills her conscience along with the vision of the school's blackboard and all the math equations she needs.

She immediately wrote everything down, leaving Jacob, Kevin and Younghoon's mouths agape. “How did you do that?” Kevin asks.

“Uh, cheatsheet?” She nervously answers.

“Tell me, what did you see?” Jacob asks as he scoots near her.

“I saw our mathematic class' blackboard through his eyes, we connected, sort of?” Se-Ah rambles.

Jacob looks at Kevin, then Younghoon. “Indeed, She's strong. This time, she didn't drain her energy nor thrash. She even leveled up her mindlink with Hyunjoon,” Jacob explains and smiles.

“Great job, Kiddo,” Younghoon and Hyunjae smiles and put their arms around her shoulders.

“I'm not a kid,” She pouts.

“I guess the progress is getting better along the time,” Kevin nods.

“Now, let's move to History, then English,” Younghoon beams.

and the whining saga continues.

Song Se-Ah

I'm staying at the mansion for some weeks already. Jacob and Kevin oppa are trying to train me on using the mind link and memory reading to avoid the high intensity memory flood attack like what I got last time. They are also tutoring me academic stuffs like mathematics and all, especially Kevin oppa, he's really good at scientific stuffs. I was homeschooled for quite a while because the memory of the attack still flashes and causing me to have mental break-down. However, Sunwoo and Hyunjoon still go to school.

Lately, we have been using a lot of mindlink matters in doing our school works during our school hours. Especially working on the pop-quizzes given by the teachers. It's kinda fun, you know, sharing answers without anyone knowing.

That evening, I dip my feet into the pool at the backyard while sitting at the wooden floor by the poolside, staring at the crescent moon. I lift my right hand and form a rabbit with my fingers and point it at the moon. I don't realise someone is watching over me behind the glass doors.

“What's that?” Hyunjoon asked as he joined me sitting by the poolside.

“It's a rabbit. mom used to say that if i keep doing it, a rabbit will come down from the moon and right through me,” I lean on Hyunjoon's shoulder.

“But you have a wolf here,” He says as he puts his arm around my shoulder.

“But I asked for a rabbit when I was little,” I grin and snuggles in his arm. I scoot closer to him and snuggle into his embrace.

“I'm sorry you have to stay away from the school,” He says while rubbing circles on my shoulder. I don't realise I am staring on his face, admiring his facial features. His smile made my heart pound so hard. as soon as my heartbeat started to race, i felt the tattoo on my finger stung.

“Ouch,” we both jolt and separate ourselves when both of us felt the sting.

“What is it?” I ask.

“My soulmate tattoo stung,” He points to his chest.

“Mine too,” I held my hand. “Hyunjoon ah, your eyes glowed. It wasn't that gold-ish flecks glow like when you turned. they're purple ish,” I cup his face and and admire his eyes.

“I think I found my mate,” he stares right into my eyes, sending chills down my spine. he holds my hand and leans closer to me. Our eyes meet each other. the next minute, his lips are pressed against mine, sending warmth all over my body. it tastes like chocolate, sweet, bitter, tangy, comforting.


Hyunjoon never let go of my hand. He keeps on holding that even under the dining table, leaving the others suspicious. Especially Changmin and Chanhee oppa who keep switching their gazes from each other to us. I can see it from Changmin oppa's expressions upon me blushing when Hyunjoon tries to feed me the mashed potato.

Hyunjoon said the soulmate tattoo on his chest was my codename, the codename I need to figure out myself before seeing his tattoo. I keep thinking about that the whole day. What will possibly be my code name. I mean, i haven't had code names before. It's just so confusing. Plus, this affiliation with werewolf thing is still preferably new for me. I don't realise I frown a bit at my plate.

“You seemed like you're in a deep thought, Munchkins,” Kevin oppa says when he caught me staring and frowning.

“Uh-it's nothing,” I am so bad at lying.

“Lies, you're obviously pondering on something,” Chanhee hyung nodded at the wrinkled bridge of my nose.

“It's just... uh- math is killing me,” I lie.

“You're lying,” Jacob oppa points. “You're stuttering when you lie.”

“What is it?” Kevin oppa continues.

“I have a lot in my mind. I am partly curious on how Changmin oppa's soulmate tattoo was written 'NEW' while Chanhee oppa's was 'Q'. And why was mine 'HWALLLEO' instead of Hyunjoon?” I frown.

Hyunjae oppa chuckles and moves closer to me, “Some of has has our codenames written on each other's tattoo, like Chanhee and Changmin's case, it was their code names written on each other's ankles. It was said that both of them are anchors to each other. as much as they don't want to admit, both of them keeps each other grounded,” He explains.

“Well, none of them admitted that though,” Younghoon oppa adds.

“You are tied to my heart, that's why your codename was written on my chest. and as much as I don't want to admit, The red string are tied to your ring finger,” Hyunjoon adds more to the explanation.

“I, don't understand,” I shake my head slowly.

“It'll cost you more time to understand, I guess. It wouldn't sink to my cognitives at first as well,” Kevin oppa pats my back and smiles.

“Go finish your dinner and have some rest, kid,” Sangyeon oppa smiles.

.

To Be Continued


Saved: 12/06/2020 1:16 PM Word Count:1167 words